Archive for Maret, 2012


Ringkasan Eksekutif Dari Paparan Rembug Arkeologi Situs Gunung Padang.

Iklan

Tim Katastropik Purba Akan Lanjutkan Core Drilling Di Gunung Padang Dan Sadahurip.

Hari Ini, Ekspedisi Khatulistiwa Dimulai.


Pengertian Fosil adalah sisa-sisa organisme yang pernah hidup di waktu silam, yang diawetkan oleh alam. Karena terawetkan sejak 3,5 miliar tahun yang lalu fosil menjadi petunjuk penting mengenai sejarah bumi.

Pertanyaan tentang asal kehidupan selalu memusingkan para ilmuwan dan agamawan. Hampir setiap kebudayaan mempunyai cerita tentang penciptaan kehidupan di muka bumi. Dalam cerita-cerita tersebut, umumnya manusia menjadi puncak dari proses penciptaan. Beberapa teolog bahkan menduga bahwa waktu penciptaan tidak lebih dari beberapa ribu tahun silam. Baca lebih lanjut

Oleh: Djulianto Susantio

Hukuman gantung di halaman Stadhuis – Foto: internet

Salah satu tempat yang sering mendapat perhatian di Museum Sejarah Jakarta adalah ruangan yang terdapat di halaman belakang. Dulu ruangan-ruangan ini gelap dan ditutup dengan pintu kuat. Cahaya dan sirkulasi udara hanya melalui sebuah jendela berteralis tebal. Di sisi-sisi tembok terdapat bola-bola besi untuk merantai para tahanan. Sebelum menjadi museum, pada zaman Hindia Belanda memang gedung ini dipakai sebagai balai kota atau stadhuis. Baca lebih lanjut

(Suatu jawaban kepada siapa saja yang meragukan totalitas kita melindungi masyarakat di sekitar G.Ijen terhadap ancaman bahaya letusan G.Ijen)

Surono

Gunungapi Ijen (G.Ijen) merupakan gunungapi aktif, jenis strato, memiliki danau kawah di puncak, dengan panjang dan lebar danau masing-masing sebesar 800 m dan 700 m serta kedalaman danau mencapai 180 m. Secara geografis G.Ijen berada pada posisi 8º 03’ 30” LS dan 114º 14’ 30” BT dengan tinggi puncaknya 2386 meter dari permukaan laut.

Secara administratif terletak di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Erupsi G. Ijen yang tercatat dalam sejarah adalah berupa letusan-letusan freatik yang bersumber dari danau kawah. Erupsi freatik terakhir terjadi pada tahun 1993 menghasilkan tinggi kolom asap berwarna hitam yang mencapai ketinggian 1000 m.

Pada 15 Desember 2011, G Ijen dinaikan dari Normal (Level I) ke Waspada (Level II), 18 Desember 2011 pukul 04:00 WIB status kegiatan G. Ijen dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) dan Tanggal 8 Februari 2012 status kegiatan G. Ijen diturunkan dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II).

Sehubungan dengan peningkan kegiatan kegempaan dan naiknya temperatur air danau kawah, maka pada 12 Maret 2012 pukul 00:00 WIB, status kegiatan G Ijen dinaikan lagi dari Waspada (Level II) ke Siaga (Level III).

Naik dan turunnya status kegiatan G.Ijen berdasarkan fakta-faKta ilmiah, melalui proses yang panjang dari pengumpulan data pemantauan secara instrumental (pemantauan kegempaan, [engukuran suhu air danau kawah pada kedalaman 5 meter, pengukuran deformasi menggunakan tilt meter, dan visual dengan CCTV), dan pemantauan secara visual dilakukan secara episodik oleh pengamat G Ijen dengan cara mengamati perubahan warna air danau kawah, flora dan fauna sekitar danau kawah untuk mengetahui jika ada tumbuhan yang mati atau hewan yg mati yang disebabkan oleh gas-gas yang berbahaya bagi kehidupan, juga pengambilan conto air danau kawah untuk diuji kandungan unsur kimia/gas yang terlarut/berda dalam air danau kawah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, bekerja keras melakukan mitigasi G Ijen, dengan tujuan menekan hingga sekecil mungkin jumlah korban jiwa dan harta benda yang disebabkan jika G Ijen meletus.

Pengamat G Ijen hingga saat ini bekerja keras dalam mengamati G Ijen, berkoordinasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah Saya sebagai Kepala PVMBG memuji ketekunan, dedikasi dan kerja keras para pengamat G Ijen dalam melaksanakan tugas mengamati G Ijen. Laporan-laporan yang diterima di kantor PVMBG di Bandung sangat berguna dalam menentukan tingkat kegiatan G Ijen.

Saya sangat menyayangkan dan menyesalkan bahwa ada perseorangan dan sekelompok kecil masyarakat yang mengadukan (mosi tidak percaya) kepada Bapak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta pemerindah daerah bahwa pengamat G Ijen membuat laporan yang tidak tepat tentang aktivitas G Ijen (surat terlampir).

Para pengadu tersebut menyebutkan bahwa yang bertanggungjawab mitigasi bencana G Ijen adalah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, jelas itu tidak benar, karena yang bertanggungjawab mitigasi bencana G Ijen adalah PVMBG.

Laporan dari pengamat tentang adanya tumbuhan yang kering dan layu di sekitar Kawah G Ijen, telah ditindalanjuti oleh ahli dari PVMBG, laporan dan foto-foto terlampir. Bahwa laporan dari pengamat benar adanya dan laporan ini sangat penting dan berguna dalam mitigasi bencana letusan G Ijen.

Terlampir kami sajikan evaluasi (analisis) terakhir G Ijen, dimana hasil uji laboratorium conto air Kawah G Ijen menunjukan peningkatan unsur kimia dan gas yang menandakan adanya naiknya magma dari bawah menuju ke permukaan mendekati dasar Kawah G Ijen. (har)

A.Sms Rieke Diah Pitaloka, Anggota DPR dari PDIP, input dari Kwik Kian Gie.

Penjualan premium: 63 Milyar liter x Rp 4500 / liter = Rp 283,5 Trilyun.

Impor = Rp 149,9 Trilyun.

Membeli minyak dari Pemerintah = Rp 224,6 Trilyun.

Mengeluarkan untuk LRT = 63 Milyar liter x Rp 566 / liter = Rp 35,7 Trilyun.

Jumlah pengeluaran Pertamina = Rp 410,1 Trilyun

Subsidi = Rp 410,1 Trilyun – Rp 283,5 Trilyun = Rp 126,6 Trilyun

Pemerintah memperoleh dari penjualan minyak ke Pertamina = Rp 224,6 Trilyun – Rp 126,6 Trilyun = Rp 98 Trilyun.

Pertanyaan: kemana uang itu? Baca lebih lanjut

Temuan Artefak Mirip Guru Yoda Jedi Dari Pagaralam (Sumsel).

Piramida Ditengah Debat Piramida (Inilah Piramida Klothok Kediri).

Weather Modification.