Category: Nusantara Purba



Pada awal masa penciptaan permulaan bumi (bhumitala), permukaan bumi menyerupai api yang bercahaya dan menyala. Berjuta juta tahun kemudian asap gelap di seluruh muka bumi secara berangsur-angsur dan terus menerus seluruhnya menghilang. Bumi menjadi dingin. Namun demikian, belum ada mahluk hidup. Kemudian, permukaan bumi ini menjadi gunung-gunung dan lautan. Baca lebih lanjut

"Petugas dari Museum Geologi Bandung, Soni, membersihkan fosil-fosil stegodon di Situs Bualesa, Cekungan Soa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/6). Di cekungan ini ditemukan banyak fosil stegodon, komodo, buaya, kura-kura raksasa, dan ribuan artefak batu yang berusia sekitar satu juta tahun."

Petugas dari Museum Geologi Bandung, Soni, membersihkan fosil-fosil stegodon di Situs Bualesa, Cekungan Soa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/6). Di cekungan ini ditemukan banyak fosil stegodon, komodo, buaya, kura-kura raksasa, dan ribuan artefak batu yang berusia sekitar satu juta tahun.


Sembilan matahari seolah bersinar di atas kepala. Teriknya memanggang Cekungan Soa. Meski musim kering belum mencapai puncak pada Maret, savana telah menguning. Pepohonan hanya merimbun di kanan-kiri Sungai Ae Sisa yang mengalir deras di dasar lembah. Baca lebih lanjut

(Suatu jawaban kepada siapa saja yang meragukan totalitas kita melindungi masyarakat di sekitar G.Ijen terhadap ancaman bahaya letusan G.Ijen)

Surono

Gunungapi Ijen (G.Ijen) merupakan gunungapi aktif, jenis strato, memiliki danau kawah di puncak, dengan panjang dan lebar danau masing-masing sebesar 800 m dan 700 m serta kedalaman danau mencapai 180 m. Secara geografis G.Ijen berada pada posisi 8º 03’ 30” LS dan 114º 14’ 30” BT dengan tinggi puncaknya 2386 meter dari permukaan laut.

Secara administratif terletak di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Erupsi G. Ijen yang tercatat dalam sejarah adalah berupa letusan-letusan freatik yang bersumber dari danau kawah. Erupsi freatik terakhir terjadi pada tahun 1993 menghasilkan tinggi kolom asap berwarna hitam yang mencapai ketinggian 1000 m.

Pada 15 Desember 2011, G Ijen dinaikan dari Normal (Level I) ke Waspada (Level II), 18 Desember 2011 pukul 04:00 WIB status kegiatan G. Ijen dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) dan Tanggal 8 Februari 2012 status kegiatan G. Ijen diturunkan dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II).

Sehubungan dengan peningkan kegiatan kegempaan dan naiknya temperatur air danau kawah, maka pada 12 Maret 2012 pukul 00:00 WIB, status kegiatan G Ijen dinaikan lagi dari Waspada (Level II) ke Siaga (Level III).

Naik dan turunnya status kegiatan G.Ijen berdasarkan fakta-faKta ilmiah, melalui proses yang panjang dari pengumpulan data pemantauan secara instrumental (pemantauan kegempaan, [engukuran suhu air danau kawah pada kedalaman 5 meter, pengukuran deformasi menggunakan tilt meter, dan visual dengan CCTV), dan pemantauan secara visual dilakukan secara episodik oleh pengamat G Ijen dengan cara mengamati perubahan warna air danau kawah, flora dan fauna sekitar danau kawah untuk mengetahui jika ada tumbuhan yang mati atau hewan yg mati yang disebabkan oleh gas-gas yang berbahaya bagi kehidupan, juga pengambilan conto air danau kawah untuk diuji kandungan unsur kimia/gas yang terlarut/berda dalam air danau kawah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, bekerja keras melakukan mitigasi G Ijen, dengan tujuan menekan hingga sekecil mungkin jumlah korban jiwa dan harta benda yang disebabkan jika G Ijen meletus.

Pengamat G Ijen hingga saat ini bekerja keras dalam mengamati G Ijen, berkoordinasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah Saya sebagai Kepala PVMBG memuji ketekunan, dedikasi dan kerja keras para pengamat G Ijen dalam melaksanakan tugas mengamati G Ijen. Laporan-laporan yang diterima di kantor PVMBG di Bandung sangat berguna dalam menentukan tingkat kegiatan G Ijen.

Saya sangat menyayangkan dan menyesalkan bahwa ada perseorangan dan sekelompok kecil masyarakat yang mengadukan (mosi tidak percaya) kepada Bapak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta pemerindah daerah bahwa pengamat G Ijen membuat laporan yang tidak tepat tentang aktivitas G Ijen (surat terlampir).

Para pengadu tersebut menyebutkan bahwa yang bertanggungjawab mitigasi bencana G Ijen adalah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, jelas itu tidak benar, karena yang bertanggungjawab mitigasi bencana G Ijen adalah PVMBG.

Laporan dari pengamat tentang adanya tumbuhan yang kering dan layu di sekitar Kawah G Ijen, telah ditindalanjuti oleh ahli dari PVMBG, laporan dan foto-foto terlampir. Bahwa laporan dari pengamat benar adanya dan laporan ini sangat penting dan berguna dalam mitigasi bencana letusan G Ijen.

Terlampir kami sajikan evaluasi (analisis) terakhir G Ijen, dimana hasil uji laboratorium conto air Kawah G Ijen menunjukan peningkatan unsur kimia dan gas yang menandakan adanya naiknya magma dari bawah menuju ke permukaan mendekati dasar Kawah G Ijen. (har)

Selama ini yang kita ketahui, Negara kita, Indonesia, dijajah oleh Negara Belanda, dalam kurun waktu, selama 350 tahun. Namun, apakah benar selama itu Indonesia dijajah oleh Belanda?

Kebenaran Suatu Sejarah

Akhir-akhir ini, sejarah Indonesia yang diragukan kebenarannya, sudah banyak dibahas dan diceritakan kembali dengan versi yang berbeda. Setelah tumbangnya era/rezim Soeharto, sebut saja seperti misalnya sejarah tentang G-30 september, supersemar, serangan umum satu maret, dan banyak lagi dari sejarah Indonesia, telah diteliti, ditulis, diterbitkan kembali dengan “alur cerita” yang berbeda pula. Baca lebih lanjut

Kamis, 11 April 2002, Robert Dick-Read, peneliti sejarah purba dari London, tengah bekerja di depan komputernya. Sebuah surat elektronik masuk. Dari koleganya, Profesor Giorgio Buccellati, seorang arkeolog senior dari University of California Los Angeles (UCLA), yang sejak tahun 1976 aktif memimpin satu tim ekspedisi arkeolog mengeksplorasi wilayah sekitar Mesir.

Dalam suratnya, Buccellati mengaku kaget sekaligus kagum. “Saya menemukan sebuah porselen cekung yang diselimuti tanah bercampur pasir agak tebal. Setelah dibersihkan, ada fosil sisa-sisa tumbuhan mirip cengkeh di atasnya. Saya yakin itu cengkeh. Namun saya harus mengkonfirmasi temuan ini pada kolega saya, Dr. Kathleen Galvin, seorang ahli pelobotani (botani purba) yang pasti mengenal tumbuhan ini dengan baik. Baca lebih lanjut

Rekonstruksi Sejarah Indonesia : Plato-Atlantis-Iskandar Zulkarnain-Kandis (12).

Rekonstruksi Sejarah Indonesia : Analisa Mitologi Minangkabau vs Mitologi Lubuk Jambi (11).

Rekonstruksi Sejarah Indonesia : Deskripsi Lokasi Kerajaan Kandis (10).

Rekonstruksi Sejarah Indonesia : METODOLOGI PENELITIAN (9).

Rekonstruksi Sejarah Indonesia : Mitologi Lubuk Jambi (8).