AAIndonesia, negara yang kita cintai. Diprediksikan oleh berbagai lembaga di dunia internasional memiliki syarat yang sulit dibendung untuk menjadi kekuatan ekonomi, politik dan militer di dunia. Penilaian ini bertolak belakang dengan pandangan pemilik media dan pengamat yang dipopulerkannya. Anomali kehidupan. Sebagaimana anomali Politik menjelang pemilu legislatif dan pilpres 2014 ini.

Wiranto. ARB, Hatta Rajasa, Prabowo, Yusril yang sudah mendeklarasikan pencapresannya berada di batas “ketidakmungkinan” dipilih rakyat hampir di semua survey yang dilakukan. Modak politiknya di bawah 10 persen, bahkan ada yg di bawah 4 persen. Sebaliknya tingkat kepercayaan kepada SBY sebagai Presiden berkisar 57 sampai 60 persen. Anomali itu juga dilanda partai peserta Pemilu.

Demokrat berada dalam posisi 9 – 10 persen di bawah Golkar dan PDIP yang berkisar 17 -. 19 persen. Hantaman korupsi yang menimpa kader dianggap berkurangnya separuh suara pemilu 2009. Namun ini juga Anomali karena data KPK maupun Kejaksaan menunjukkan 69 persen korupsi itu dilakukan kader Golkar dan PDI-P. Setiap anomali akan menghasilkan kejutan. Termasuk Pemilu legislatif dan Pilpres 2014.

Lembaga survey, pengamat politik dalam dan luar negeri belum ada yang sanggup memprediksikan kekuatan politik dan figur Presiden pasca SBY. Anomali, bencana alam lebih menjadi trending topic ketimbang pemilu. Banjir, erupsi Sinabung, bandang Manado dan geliat Kelud mulai diyakini adanya kebenaran cerita masa lalu yg hilang tergerus bencana. Toba, Samalas, Tambora dan Krakatau sudah mulai tergambar jalan ceritanya.

Bagaimana iklim berubah, bagaimana ancaman sekunder lahar serta daya tahan sandang, pangan, papan dan energi. Minimnya referensi, membuat lahir hipotesa: Gunung mampu membuat resesi dunia, bahkan hilang’nya populasi jika letusan Kelud berdurasi Sinabung. Untung langit masih biru, walau padi banyak terbenam material erupsi. Sebagaimana politik, kita harus bersiap hadapi alam yang mengejutkan.