AARekan-rekan sekalian, ini bukan alasan post Factum. Ini sebuah kesaksian saat erupsi Merapi di Yogyakarta tahun 2010 yang melibatkan 4 Kabupaten dan 2 Propinsi di seputaran Gunung Merapi. Pasca erupsi besar November 2010, PVMBG bersikap tidak ada tawar menawar untuk siapapun yang akan memasuki radius larangan untuk niat apapun, termasuk niat melakukan evakuasi korban yang diduga masih ada (banyak ibu-ibu tua dan bapak-bapak tua yang tak sempat diungsikan karena mereka bersembunyi takut akan kehilangan pekerjaan dan hewan ternak kalau mengungsi) ada seorang nenek yang ditemukan sekujur tubuh kaku di dalam lemari (mungkin maksudnya bersembunyi).

Keinginan Kapolda DKI, Kapolda Jateng, Pasukan terlatih Kopasus dan TNI lain serta SAR, Relawan serta awak media tak mendapat rekomendasi dengan motif apapun memasuki kawasan larangan terutama 10 sampai 5 km dari pusat letusan. Apakah ada yang melanggar ? ada dua kelompok wartawan televisi melanggarnya, untung saja kejar-kejaran mereka dengan awan panas tidak menimbulkan maut.

Saat itu saya di twitter bersitegang di twitter dengan Alfito dinovo yang menganggap saya melarang kebebasan pers. Posisi saya tak ada kebebasan pers di zone larangan yang ditentukan PVMBG dan Pemda. Semata-mata untuk menyelamatkan wartawan dan peliput.

Tiga orang Tagana, tanpa diketahui komandannya menjadi korban jiwa akibat melanggar aturannya itu, Kalau ada hak eksklusif bagi siapun di zone larangan, maka mempengaruhi psikologi pengungsi yang tadinya sabar bisa tergoda karena berpandangan kondisi sudah aman.

Persoalan Sinabung, sudah jelas: warga di pengungsian (terutama yg diposisi radius 3 m) kita berikan dorongan semangat untuk sabar dan bertahan sambul menunggu Hunian tetap di bangun untuk relokasi, kalupun ingin menengok kampungnya nanti setelah dinyatakan aman?.

Dua bulan ke depan negara menanggung sepenuhnya makanan dan lauk pauk, masing-masing Kepala Keluarga per hari mendapatkan cash for work 50 ribu, beasiswa buat SD, SMP, sampai pergurua tinggi, dan kemudahan fasilitas kredit baru, dan reschedule krdit lama.

Pemda memang tak memili dana untuk mennaggulangi, dan sudah diputuskan pusat menanggungnya. Sinabung dalam penanganan pusat dipimpin BNPB dan Kasdam jaya, tetapi fungsi Pemkab dan birokrasi harus tetap jalan , karena memang masih mampu. Untuk Sinabung, kesabaran dan waspada serta semangat yang harus kita bangunkan.

Berada lama di pengungsian memang berat dan butuh pengorbanan. Media Massa? kalian adalah ujung tombak penyelamatan masyarakat di daerah bencana. Disarankan untuk tidak beroposisi pada arahan dan keputusan PVMBG tentang kondisi Gunungnya. Sambil berdoa buat warga yang jadi korban, kita menyarankan jadilah juru bicara PVMBG dalam erupsi gunung api Sebuah kerja mulia yang tidak heroik, karena tak beroposisi.