aaAir sumber kehidupan. Namun air juga bisa mengakhiri kehidupan. Saat kita kecil, kita senang jika musim hujan tiba. KIta main-ujan-ujanan, bermain bola, becek-becekan (walau dilarang orang tua sering kita langgar). Memasuki musim hujan, hati senang dan gembira. 15 tahun terakhir, ada yang berubah dengan datangnya hujan terutama di jakarta.

Hujan identik dengan ketakutan. Bahkan hujan menjadi isue politik. Luar biasa, ironi dinegara dua musim. Memang di berbagai daerah ada banjir. Tapi tak serumit di Jakarta. Setiap memasuki bulan hujan datanglah ketakutan. Saya berdiskusi dengan beberapa pakar bencana, banjir seperti di Jakarta sudah tidak lagi dikategorikan bencana.

Sebab yang namanya bencana itu datang tak terukur, tak terdeteksi dan tiba-tiba. Karena itu banjir Jakarta bukan lagi sebagai bencana. banjir Jakarta adalah wajah kita sesungguhnya yang tak mau berubah beradaptasi dengan hujan dan air. Tipe banjir Jakarta bukan tipe banjir tiba-tiba seperti banjir bandang.

Bencana yang sesungguhnya adalah jika seismic gap Selat Sunda mengeluarkan Megathrust 8,9 atau 9,2 SR, ditambah jika masuk siklus Krakatau.

Inilah potensi bencana Jakarta dan Jakarta Masa depan

PERTEMUAN 20 AHLI MENJAWAB PROBLEM GEOLOGI YANG ADA DI JAKARTA (DARI TANAH TURUN SAMPAI GEMPA)
25 Desember 2012

(Teluk) Jakarta adalah Tinggian Tektonik yg Membuat Tanah “Turun” Terus menerus)

Untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di masyarakat tentang kondisi subsurface (bawah permukaan tanah kota Jakarta), kondisi gerakan tanah di jakarta, kegempaan di Jakarta, Penurunan tanah di jakarta serta segenap potensi potensinya, maka SPada Tanggal 20 Desember 2012 yg lalu, bertempat di hotel Milineum jakarta dilakukan Focused Group Discussion Peluang dan Tantangan Ruang Bawah Tanah DKI Jakarta> Acara itu diikuti oleh 20an pakar geologi, geofisika, geoteknik, geodesi, geodinamik, konstruksi, air tanah, dan kegempaan

Hadir di acara tsb: Prof Jan Sopaheluwakan (LIPI), Prof Hasanuddin Z. Abidin (ITB), Prof. Herman Moechtar (Badan Geologi), Dr. Asrurifak mewakili Prof Masyhur Irsyam (ITB), Dr. Agus Handoyo (ITB), Dr. Andang Bachtiar (Exploration Think Tank Indonesia), Dr. Agus Guntoro (Trisakti), Dr. Danny Hilman (LIPI), Irm Ali Djambak MT (Trisakti), Ir. Wahyu Budi (Badan Geologi), Dr. Imam Sadisun (ITB), Dr. Widjojo Prakoso (UI), Dr. Firdaus Ali (UI), Prof Robert Delinom (LIPI), Ir. Rovicky D.P MSi (IAGI), wakil2 dr Kimpraswil, BMKG dan BIG-Bakosurtanal.

Salah satu peserta diskusi itu adalah Geolog DR. Andang Bachtiar (Mantan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia) menuliskan beberapa point penting pertemuan itu dan beberapa hasilnya cukup mengejutkan karena di luar pengetahuan yang selama ini masyarakat pahami.

1.Jakarta, lebih tepatnya lagi Teluk Jakarta adalah Kota yang didiami sebagai daerah Tinggian Tektonik
Tidak pernah terjadi intrusi air laut ke dlm lapisan air tanah tertekan di Jkt, apalagi sampai di bwh Monas. Yg terjadi malah sebaliknya: banyak air tawar keluar (discharged) sbg mata-air di pantai dan Teluk Jakarta. Kandungan air agak payau di air tanah dalam adlh krn percampuran dg air perasan dr lempung2 pengapit di atas dan di bawah akwifer krn proses kompaksi biasa, bkn krn intrusi air laut. Data isotop juga menunjang kesimpulan tsb. Di pinggiran laut spt di Muara Baru sampai ke Ancol, tentu saja, air tanah bebas dangkal dan air permukaan dipengaruhi oleh pasang surut air laut di sana.

2. Sebenarnya sejak 2002 (10th yg lalu) hasil penelitian ITB dan LIPI tersebut telah disosialisasikan, dan selama 10th terakhir ini hasil2 isotop dan pemetaan sifar kimia air tanah seluruh daerah DKI makin menguatkan kesimpulan tersebut. Kurangnya sosialisasi hal ini ke masyarakat shg infonya tidak sampai. Sementara Sebagaian birokrasi dan masyarakat menganggap hal ini tidak memiliki konsekuensi apa-apa ke depan

3. Pada lapisan yg di”dating” sbg “Mid-Holocene” atau berumur geologi sekitar 4-5rb th yg lalu, garis pantai mundur sampai di selatan Monas yg menyebabkan diendapkannya lapisan sedimen laut dg air asin di dalamnya. Kalau kasusnya spt itu maka memang air di dalam akwifer tersebut sudah asin dari asalnya, dan sering disebut juga sbg “connate water”. Kedalaman lapisan2 tersebut lebih dr 300-400 meter-an di daerah Jakarta Pusat dan makin mendangkal ke selatan.•
:

4. Teluk Jkt adalah tinggian lokal, smntara dr pantai teluk ke arah darat ke selatannya adlh berposisii rendahannya yaitu “West Ciputat Low”. Oleh krn itu meskipun ada 13 sungai mengalir membawa sedimen ke arah Teluk Jakt, tetap di teluk Jakarta tdk trbentuk delta. Karena itu, sedimen2 yg dibawa sungai2 itu sebagian besarnya diendapkan di rendahan Ciputat Barat yaitu di daratan Jakarta yg secara geomorfologi disebut sebagai Dataran Banjir Jakarta. Maka ketika masuk ke Teluk Jakarta sungai2 itu hanya menyisakan suspensi halus dan arus sungai yg lemah. Ini menjawab pertanyaan mengapa ada dataran banjir Jakarta.

5. Rencana pembangunan sea-wall di Teluk Jakarta seharusnya memperhitungkan konstelasi tektonik sedimentasi tersebut. Seawall harus dibangun di blok yg selalu naik yg mungkin terletak menjorok ke dalam teluk, bkn di lokasi pantai yang sekarang. Kalau posisinya tdk tepat maka dlm jangka panjang (>50th) seawall itu juga akan terus tenggelam.

6. Demikian juga reklamasi (pengurugan) Teluk Jakarta seyogyanya memperhitungkan garis batas tinggian_rendahan tersebut. Kalau posisi area yg diurug ada di selatan garis batas maka reklamasi akan ambles-turun terus. Hasil survey GPS prof Hasanuddin ITB juga menunjukkan penurunan maksimum di bagian selatan daerah Muara Baru sampai ke Ancol. Kebijakan reklamasi harus dimodifikasi, dikawal dg mendelineasi daerah2 yg akan sia2 saja kalau direklamasi.

Apakah DKI Jakarta – Aktif secara Tektonik?

1. P. Seribu sbg kelurusan utara dr tinggian Ciputat-Tangerang slalu brgerak naik secara tektonik; teras2 terumbu yg berkembang di pulau2 Seribu itu adalah buktinya. Demikian juga daerah sepanjang garis imajiner Ciputat-Ujung Teluk Naga: itu adalah daerah yg selalu naik. Teras2 sungai di sepanjang aliran S. Cisadane membuktikan gerak tektonik naik tsb. Adanya slicken side, offset, pergeseran di sedimen2 Pleistosen Jkt membuktikan patahan2 Jakarta bisa aktif sewaktu2 dalam masa Kwarter ini. Ini menjawab bahwa Jakarta memiliki patahan yang bisa aktif sewaktu-waktu. Jadi bukan hanya ancaman dari selat sunda dan sesar sekitar jakarta saja yang menjadi potensi rusaknya jakarta akibat gempa.

2. Sebagai tindakan preventif mitigasi bencana gempa bumi dg adanya indikasi2 patahan aktif tsb, saat ini sedang diusahakan untuk membuat mikrozonasi gempa di Jakarta sampai ke level 4 yaitu skala 1:25rb. Dengan demikian, bangunan2 yg didirikan di DKI Jakarta nantinya bisa mengacu pd peta mikrozonasi tsb u/disain dan konstruksinya shg ramah gempa.

3. Lalu bagaimanakah Masa depan Ibu kota negara Jakarta ini? Merujuk pada konstelasi tektonik Tersier dan Kwarter yang ada, secara geologi teknik masa depan DKI adalah Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu yang merupakan daerah tinggian yg lebih aman drpd dataran banjir Jakarta yg selalu turun.