AA7Pilpres 2014 bukanlah peristiwa ajaib yang akan langsung mengubah wajah Indonesia. Tetapi itu salah satu momentum yang harus dilalui untuk pertama kali dalam sejarah Pilpres Indonesia mekanisme pemilihan langsung oleh rakyat dimana Pilpresnya tidak lagi diikuti incumbent. Demokrasi kita adalah demokrasi muda, demokrasi pendstang baru.

Namun kemudaan itu justru tampak dewasa saat menjalani Pilpres langsung selama dua kali 2004 dan 2009, tanpa darah tertumpah, tanpa berjatuhan nyawa. Jalan ini berbeda dengan negara tetangga filipina misalnya atau Amerika latin yang tidak semulus “damainya” dengan Indonesia. Memang ini di luar prediksi banyak pengamat dalam dan luar negeri yang skeptikal dengan jalan demokrasi plus otonomi daerah.

Indonesia dengan demokrasi akan jatuh pada perpecahan, balkanisasi, perang saudara dll. semua itu tidak terbukti. Meski tak ada partai dominan, anomali kepartaian tinggi, namun negeri yang plural ini menangkis semua prediksi ini. Tanpa mekanisme kekerasan yang mengakar 32 tahun stabilitas politik yang dicapai saat ini stabilitas politik yang sebenarnya, dicapai dengan beragam seni dan dinamika yang luput menjadi teori dalam literatur politik.

Bahkan, diakui atau tidak demokrasi dengan kebebasan yang teramat besar buat rakyat dan partai politik ini juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang konsisten. Kita boleh berbeda pendapat tentang kemiskinan, kesenjangan, kemandirian dll, tapi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik yang tidak semu adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri.

Inilah jalan yang sedang kita tempuh. Saat ini sedang dilaksanakan konvensi oleh partai demokrat. Kalau melihat dengan mikroskop maka sepertinya ini konvensi partai demokrat. Tapi kalau melihat dengan fikiran terbuka maka Konvensi ini dilakukan untuk semua partai dan ditentukan oleh rakyat. Karena pada akhirnya nanti konvensi partai demokrat menentukan hasil konvensi ini dengan beberapa lembaga survey yang kredibel/bukan dengan suara DPC/DPD/DPP.

Mengapa untuk semua partai? karena survey konvensi demokrat selain lakukan survey internal peserta konvensi, juga melakukan survey terbuka semua capres yang sudah muncul dan kemungkinan ikut pilpres nanti. Politik itu rasional, bukan keajaiban. Tidak mungkin Demokrat akan memaksakan jagonya jika jauh berada di bawah “jago” dari luar partainya.

Sayangnya, sampai hari ini semua capres belum kita dengar menjanjikan 2 program utama saja yang minimal keluar sebagai janji utama: mempertahankan stabiltas politik, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen secara konsisten dan jalan apa yang ditempuh. Kita tunggu.

Iklan