aaTidak benar TTRM konflik dengan arkeolog, tidak benar juga TTRM mengambil alih fungsi Arkeolog.

Pertama, eskavasi dan pemugaran itu bukan wilayah TTRM. Namun data TTRM tentu akan sangat membantu arkeolog dalam eskavasi dan pemugaran. Selama ini pun sejak pemugaran Borobudur, arkeolog selalu mengundang disiplin ilmu lain.

Perbedaannya di Gunung Padang disiplin ilmu non arkeologi dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan memberi informasi pada arkeolog bahwa dugaan kuat ada bangunan di bawah permukaan. Dan Arkeolog Ali Akbar dan tim UI sudah membuktikan melalui eskavasi terbatas di level 1 dan 2. Eskavasi besar-besaran itu bukan lagi wilayah TTRM.

Di berbagai negara adalah hal yang biasa para geolog maupun ahli geofisika melalui metodenya memberikan indormasi pada arkeolog tentang dugaan bangunan bawah permukaan.

Kedua, Sejak Tim menemukan anomali di bawah permukaan, secara diam-diam tim meminta asistensi dari arkeolog senior bapak Soeroso (mantan setdirjen Purbakala) dan Ibu nanik (staf dirjen purbakala.

Bahkan Tim sempat memaparkan di depan dirjen purbakala Al. Ibu Aurora Tambunan. Dirjen Kepurbakalaan mendukung kelanjutan riset ini. Bahkan Tim diberi kesempatan paparan di acara rembug Arkeologi tahun 2012.

Ketiga, perizinan juga kami dapatkan selain dari bupati adalah dari Arkenas dan Dir cagar budaya.

Keempat, selain Ali Akbar, puluhan arkeolog juga kami tawarkan bergabung dan memimpin (termasuk Pak truman dan Pak Mundarjito), bahkan arkeolog dari Yogyakarta kami undang khusus untuk terlibat.

Saya menegaskan tidak ada konflik dengan arkeolog. Bahkan Tiga kali secara resmi saya atas nama tim menyerahkan hasil ini kepada Wamendikbud.

Ini menjadi klarifikasi seakan-akan TTRM hubungannya tidak harmonis dengan arkeolog dan ambil alih tugas arkeolog. TTRM sudah melaporkan hasil riset awal adanya dugaan bangunan di bawah permukaan di Masjid candi Indrapuri Aceh, Suliki Sumbar, Gunung langgar lampung, di bawah beberapa candi yang sudah dieskavasi di batu jaya, Sadahurip, Bukit dago Pakar, ratu Boko, candi abang, Trowulan, lembah napu, lembah bada sulteng dll.

Informasi ini kami pahami memang membuat arkeolog ragu/sleptis ataupun yang percaya berada dalam posisi sulit. Mengapa? menyangkut anggaran yang kecil, sumber daya terbatas dll. Kalau TTRM melanjutkan riset di Sadahurip dll, bukan berarti kita mengambil alih tugas arkeolog, justru memperkaya temuan2 arkeologi. Mari Bersatu.