945712_629259493753419_410047181_n“Itulah kunci dari buku dari percakapan Plato. Jadi, kalau sampai ditemukan bukti ini, resmilah ada Atlantis (di sini)”.

KONTROVERSI keberadaan piramida di Gunung Padang terus menjadi perdebatan. Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang yang diinisiasi oleh Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, terus bermanuver meski banyak ahli yang meragukannya. Gebrakan terbaru, adanya rencana ekskavasi Gunung Padang untuk membuktikan dalil keberadaan piramida di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.

Tapi, rencana ekskavasi tidak berjalan mulus. Pada 26 April 2013, 34 arkeolog yang tergabung dalam Forum Pelestari Gunung Padang mengeluarkan petisi menolak ekskavasi saat itu. Mereka menyatakan bahwa ekskavasi Gunung Padang yang melibatkan banyak relawan tidak mengikuti kaidah-kaidah keilmuan, wawasan pelestarian, dan ketentuan administrasi.

Kepada Sukron Faisal dan Fahmi W. Bahtiar dari SINDO Weekly, mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini mengatakan akan terus melanjutkan ekskavasi. “Diyakini situs Gunung Padang merupakan bangunan dari masa prasejarah yang terbesar di dunia. Sebagai upaya membuktikan teori Plato tentang Atlantis, Tim melakukan penelitian di tiga tempat, yakni Gunung Padang, Sadahurip, dan Dago Pakar,” katanya, Senin pekan ini.

Bagi Andi, tidak hanya piramida yang diburu di Gunung Padang, tetapi jejak peradaban yang hilang sekitar 9.500 SM. Dia mengutip percakapan di Buku Plato Tidak Bohong yang berbunyi, “Jika ingin bukti Atlantis, carilah sisa-sisa monumen sakral yang biasanya dibangun dekat mata air mancur, yaitu dekat pegunungan. “Jadi kalau sampai ditemukan bukti ini, maka resmilah Atlantis,” imbuhnya.

Walau banyak yang sinis, Anda tetap yakin ada sesuatu yang penting di Gunung Padang. Bahkan kerap dikaitkan dengan Kota Atlantis yang hilang, seperti dikatakan Plato. Kenapa bisa berpandangan seperti itu?

Bahwa sumber mengatakan ada Negeri Atlantis itu benar. Ada manuskrip, ada cerita, dan itu bukan khayalan atau mitologi. Selama ini ada sedikit kontradiksi menerima pikiran-pikiran republik, soal demokrasi. Tapi yang soal Atlantis itu dianggap mitologi, berbeda dengan pikiran-pikiran lain yang dianggap bukan mitos. Ada cerita-cerita menarik yang membuat kita harus belajar dari masa lalu. Sebab peristiwa itu sudah disebut-sebut beberapa kali sebagai peradaban yang musnah.

Memang Plato tidak bohong soal Negeri Atlantis. Hal ini penting bagi kita untuk memahami persoalan kebencanaan di Indonesia. Mulai dari bencana yang bersifat lokal sampai nasional. Jangan juga sekali-kali melupakan bencana yang bersifat besar, katastropik, lokal maupun global.

Kalau kita belajar sejarah, maka kita juga tahu bencana Gunung Tambora yang terjadi pada abad pertengahan ke-19 M. Letusannya sangat dahsyat dan memengaruhi iklim dunia. Jadi, potensi-potensi sebesar itu ada di sekitar kita, karena itulah faktanya. Kami baru dari Swiss. Kami punya kebudayaan masa lalu dan bangunan-bangunan hebat seperti yang sedang diriset, yakni Gunung Padang.

Ada pernyataan situs Gunung Padang sebagai temuan terbesar abad ini. Apa tanggapan Anda?

Jangan sama saya. Saya takut salah jawab. Sebenarnya situs Gunung Padang sudah dalam tahap penelitian. Jadi saya tidak berani menginterpretasikan lebih jauh. Bukannya saya tidak mau. Sekarang ini kan sudah masuk ke tahapan pembuktian, jadi harus lebih hati-hati memberikan pernyataan.

Mengapa harus hati-hati? Bukankah penelitiannya sudah sesuai prosedur ilmiah?

Karena takut salah interpretasi. Sesungguhnya sudah sampai tahap pembuktian di situs itu. Misalkan, saya boleh meneliti Gunung Merapi, tapi kan yang mengeluarkan status Siaga bukan saya, harus ahlinya. Jadi saya tidak boleh mengeluarkan pendapat sendiri, harus menunggu laporan dari ahlinya, baru saya sampaikan kepada khalayak.

Bagaimana hasil pengeboran oleh Tim Peneliti Mandiri?

Saya akan bicara kalau mereka sudah menyampaikan laporannya. Kalau saat ini saya belum berani. Ini kan riset, jadi tidak bisa sembarang disampaikan oleh bukan ahlinya.

Bagaimana dengan kabar bahwa riset yang dilakukan telah merusak situs Gunung Padang?

Tidak ada itu (kabar) kami merusak situs. Kami sudah tahu di bawahnya itu ada apa. Justru yang dituduhkan longsor itu tidak memakai pembuktian. Yang digali itu kan, bawahnya adalah susunan batu-batu seperti terasering (berundak), jadi tidak mungkin rusak. Mana mungkin geolog dan arkeolog salah. Tidak mungkin seorang arkeolog didoktrin untuk merusak gunung atau situs.

Mengapa sampai ada dua tim arkeolog yang harus meneliti situs Gunung Padang?

Masalahnya begini, kita kan tidak terbiasa dengan yang mandiri-mandiri. Jadi begitu ada yang mandiri, yang lainnya kelimpungan. Seseorang meneliti sebuah gunung itu boleh saja. Hanya saja untuk menentukan status Awas itu tidak boleh sembarang orang, harus ahlinya.

Bagaimana petisi 34 arkeolog yang menolak ekskavasi pekan lalu?

Sudah tidak ada masalah. Kami sudah ketemu di tempat Wamendikbud, Bu Windu Nuryanti. Kalau ada kesalahpahaman sedikit, itu kan sudah biasa. Perizinan juga kami dapat dari Bupati Cianjur, begitu juga dengan warga sekitar.

Dari riset Tim Terpadu Mandiri, apakah ditemukan adanya emas di situs Gunung Padang?

Tidak ada, masih sangat jauh sekali. Kalau memang ada, saya bersyukur sekali, ha..ha..ha. Sepanjang penelitian ini semua belum ada, belum ditemukan.

Jadi, apa hasil temuan sementara Tim Terpadu Mandiri di Gunung Padang? Benarkah ada sebuah piramida?

Saya tidak berani kalau bicara soal teknis. Yang kami sebut itu lebih tepatnya struktur bangunan, bukan piramid. Kalau ahli arkeologi bilang itu bangunan berupa punden berundak. Bangunan itu akan menjadi struktur bangunan terbesar di dunia.

Bagaimana dengan tawaran sister site dari negara Peru?

Ada kutipan menarik dari buku Pak Danny Hilman. Ada inti yang tidak sempat dibahas. “Kalau ingin menemukan bukti Atlantis, carilah sisa-sisa monumen sakral yang biasanya dibangun dekat lokasi mata air mancur (fountain), yaitu di wilayah pegunungan.” Itulah kunci dari buku dari percakapan Plato. Jadi kalau sampai ditemukan bukti ini, resmilah ada Atlantis (di sini).

Kapan target penelitian di Situs Gunung Padang selesai?

Presiden SBY minta dipercepat. Tidak harus 2014 selesai, sesegera mungkin diminta diselesaikan karena hal itu sudah terbukti secara ilmiah. Harapannya, kami harus lebih dulu tahu ketimbang UNESCO. Beda dengan penelitian dulu, pihak asing yang menemukan lebih dulu dan mereka berhak untuk tahu lebih dulu juga. Kalau sekarang ini Gunung Padang kan kami yang menemukan. Jadi harus kami yang lebih dulu tahu. Sifat penelitian ini sendiri terbuka. Kalau sudah ditemukan hasilnya, mereka (pihak asing) boleh masuk. Penelitian yang terlibat di Gunung Padang ini hebatnya adalah ahli-ahli dari dalam negeri, tidak ada pihak asing dari luar.

Siapa yang menentukan keterlibatan para peneliti Tim Terpadu Mandiri?

Saya mencari para peneliti itu dengan sungguh-sungguh. Awalnya ada yang menyatakan diri untuk bergabung dengan kami karena mereka percaya dengan temuan ini. Ali Akbar itu bukan arkeolog kemarin sore, hasil risetnya sudah banyak. Dia juga ahli perundang-undangan. Sebelum kami melakukan riset, semuanya berkomitmen untuk menyampaikan hasil riset kepada masyarakat supaya ada edukasi kepada masyarakat. Kebetulan ada orang-orang yang melihatnya setengah-setengah.

Berapa besar anggaran untuk penelitian ini sampai memakai citra satelit dan georadar?

Sebetulnya penelitian ini tidak mahal. Yang paling mahal itu justru hasil pencitraan dari Bakosurtanal. Kalau saja salah satu titik itu ketemu, kita bisa numpang. Tapi dengan foto IFSAR (alat fotografi), kami bisa foto dari jarak dekat tiga meter di atas helikopter dengan skala perbandingan peta 1:300 cm. Jadi hasilnya sangat akurat. Kami harus cari uang Rp47 juta dulu untuk beli alat itu, jadinya kami terlambat sampai dua bulan dalam penelitian ini. Penelitian kami benar-benar mandiri sekali.

Bagaimana dengan peneliti asing yang ingin ikut serta dalam penelitian?

Masih kami embargo. Kami sudah ditawarkan banyak negara untuk joint research. Ada negara Eropa yang menawarkan dana US$5 juta (setara dengan Rp45 miliar), dengan syarat: mereka ingin dicantumkan dalam hasil risetnya. Waktu itu saya katakan: kami masih mampu untuk meneliti sendiri. Artinya apa, jangan-jangan mereka sudah tahu bahwa hasilnya akan jauh lebih besar dari itu, ha..ha..ha…

Mengapa hasil pengeboran dikirim ke Amerika? Apa kita tidak mampu?

Kami sudah kirim ke Batan, tapi kami dicela. Hasil (kata) analisa Batan: bisa saja direkayasa oleh Andi Arief. Akhirnya kami kirim sampel ke Miami, tempat uji umur karbon yang paling hebat di dunia. Hasilnya pun tetap sama dengan Batan, konsisten. Dari kedalaman 12 meter, diketahui usia karbonnya mencapai 25.000 tahun. Belum lagi diukur umur lapisan karbon di bawahnya.

Apa tanggapan SBY atas penelitian ini?

Beliau sangat mendukung sekali. Bahkan, situs itu sudah dipugar. Seharusnya orang bisa membaca situasi. Kalau saya bicara terus dan salah, tidak didukung oleh SBY. Pastinya saya sudah dipecat. Harapan saya sendiri, situs Gunung Padang ini harus ada manfaatnya untuk rakyat Indonesia, dan saya yakin akan sangat bermanfaat untuk Indonesia.

Meskipun nanti tidak menemukan piramidanya?

Piramida atau bukan, yang pasti akan memberikan manfaat kepada rakyat Indonesia.

sumber: http://www.sindoweekly-magz.com/artikel/12/ii/23-29-mei-2013/qanda/75/akan-jadi-struktur-bangunan-terbesar-di-dunia

Iklan