SoekarnoMenurut Daniel Dhakidae dia mencatat setidaknya ada 4 mitos tentang Soekarno, tiga mitos saat Ia dibuang ke Ende, dan satu di saat pendudukan Jepang. Mitos orang pintar dari jawa meski informasi itu dari mulut ke mulut kuat menancap di masyarakat Ende.

Mitos pertama saat di ende adalah Soekarno selalu ditemani seekor burung elang yang datang saat Ia tiba di pemandian umum dan pergi saat Soekarno kembali ke rumah. Mitos itu berkembang setelah kepala desa yang selalu mengikuti Soekarno melihat dengan jelas seekor burung rajawali besar yang selalu datang saat Soekarno datang dan bertengger di atas batu. Mitos ini dipercayai sebagai representasi perlindungan ilahi dan lambang keberanian. Uniknya, Soekarno sendiri mengatakan “Aku menjadi seekor burung elang yang telah dipotong sayapnya ketika berada di ende. Soekarno seorang yang rasional memang sering gunakan idiom atau metafor irasional.

Mitos kedua adalah Soekarno pernah sekolah di jepang mendapat gelar insinyur dan gelar Ir. Dr yang didapatnya bersama dua belas orang lainnya di Tiongkok. Beita itu menyebar karena pemain tonil salah satu kelompok kesenian pangggung yang dibuat Soekarno yang pada suatu malam menyaksikan perbincangan itu antara ibu Inggit dan Soekarno. Mitos itu diterima masyarakat ende karena ukuran orang pintar dari jawa adalah apabila mereka lulusan sekolah luar negeri apalagi Jepang dan Tiongkok adalah dua negara asia yang dianggap bangkit.

Mitos itu ada juga yang menentang, seorang pemuda yang sampai kini tak bisa ditelusuri menulis di Grafiti/corat/coret dinding dengan tulisan “Soekarno bukan orang jawa, Soekarno orang dari pulau Kolo, kota Jogo tenggelam dia lari ke Ende”. Kolo adalag wilayah di Ende utara yang merupakan kampung kecil. Sedangkan Kota Jogo tidak jauh dai Pulau kolo yang perlahan-lahan tenggelam. kota Jogo adalah kota yang hilang. Soekarno dianggap bukan dari jawa tetapi dari kota yang tenggelam lalu lari ke Ende

Itu mitos yang berkembang di masyarakat sangat sederhana di ende. Ada juga mitos yang berkembang lima tahun kemudian setelah kedatangan Jepang. Tidak tanggung-tanggung Mitos itu datang dari petinggi Militer Jepang Letjend Hitoshi Imamura yang menyebut panggilan Soekarno Doktor Soekarno. Pimpinan tertinggi Tentara Jepang ini menulis Soekarno sebagai Doktor lulusan Belanda. Memoar jenderal tersebut setidaknya menyebut Doktor Soekarno sebanyak sembilan kali.

Sulit bagi siapapun untuk menjelskan bagimana mungkin Jendral Jepang ini yang bertemu Soekarno dan hatta sebanyak lima kali di kantornya dalam keadaan Ia tak mengetahui bahwa Hatta lah yang lulusan Belanda. Kekeliruan yang sangat tidak mungkin menukar tempat antara Soekarno dan hatta. Bagi Imamura, Soekarno adalah mesias yang akan memerdekakan Indonesia. Bagaimana pendapat Anda?

sumber : FB Andi Arief