Catatan:

Dua minggu lalu ketika jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia, terpana dengan buku berjudul EKSPEDISI BUKIT BARISAN 2011, PEDULI DAN LESTARIKAN ALAM INDONESIA. Waah, ternyata buku hasil kegiatan ekspedisi yang saya ikuti di bulan Maret 2011 lalu di bawah komando KOPASSUS, sudah terbit dalam format buku besar.

Harganya? Mahal. Rp. 350.000,- Tapi saya terkejut bahagia ketika membuka halaman-halaman awal. Tulisan saya dimuat sebagai pengantar keseluruhan buku. Saya segera kontak penanggung jawab ekspedisi, Letkol Inf Iwan Setiawan. Alhamdulillah akhirnya dua eksemplar buku terkirim ke Geologi ITB. Berikut ini tulisan kontribusi saya yang telah diedit dengan baik oleh penyunting dari drfat asli yang saya kirim. Selamat membaca.

Sumatra bisa dikatakan pulau tidak seimbang. Ujung barat dihiasi gunung-gunung tinggi dan perbukitan berrelief kasar. Sedangkan sisi timur, kita hanya akan menjumpai dataran sangat luas dengan sungai-sungai yang bermeander berkelok-kelok genit seperti penari, sebelum bermuara ke Selat Malaka atau Selat Karimata. Sisi barat yang bergunung-gunung dikenal dengan nama Pegunungan Bukit Barisan, sebuah nama yang sebenarnya rancu: di satu sisi disebut pegunungan, tetapi juga disebut bukit. Maka tidaklah mengejutkan jika nama pegunungan ini dalam Bahasa Inggeris selalu menjadi Barisan Range atau Barisan Mountain saja. Nama Bukit Barisan yang semula hanya untuk perbukitan tinggi di sekitar Lampung-Bengkulu, akhirnya dipakai untuk keseluruhan pegunungan yang memanjang di sisi barat Sumatra itu.

Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki beberapa gunung api aktif, dikenal sebagai Cincin Api Pasifik dalam konteks vulkanologi dunia. Di kalangan geolog, sisi-sisi benua yang menghadap ke Samudra Pasifik memang dikenal akan untaian gunung berapi aktifnya — mulai dari Chile di selatan Amerika, Kolumbia, San Salvador, Meksiko, Amerika Serikat, Kanada, Alaska, berputar ke arah Benua Asia ke Jepang, Kepulauan Mariana, Filipina, Kepulauan Indonesia, hingga ke Selandia Baru. Secara geografis, Kepulauan Indonesia pun menjadi titik bertemunya dua rangkaian pegunungan utama: Rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik dan Maditerania. Pegunungan Bukit Barisan sendiri adalah bagian dari Rangkaian Maditerania yang dimulai dari Pegunungan Pirenina di Spanyol-Prancis, Pegunungan Alpen di Eropa Barat, Pegungan Kaukasus di Eropa Timur, Pegunungan Zagros di utara Irak-Iran, Pegunungan Himalaya, menerus melewati utara Myanmar, menyeberang di Laut Andaman, hingga menyentuh Sumatra di utara Aceh.

Lantas, proses geologis apa yang menyebabkan terbentuknya Pegunungan Bukit Barisan yang menyebabkan potongan timur-barat Pulau Sumatra menjadi seolah-olah tidak seimbang? Jawabannya terletak pada sutau peristiwa maha dahsyat di masa lampau, ketika Lempeng India-Australia bergerak dan menunjam di bagian bawah Lempeng Eurasia. Ketika kontak dua lempeng raksasa ini terjadi di Sumatra, keduanya membentuk sudut yang berakibat kecepatan penunjaman menjadi berkurang (Verstappen, 2000). Hal itulah yang mungkin menyebabkan gunung api di Sumatra tidak sebanyak Pulau Jawa yang interaksi lempeng-lempengnya berarah tegak lurus.

Interaksi antara kedua lempeng itu emlahirkan sebuah robekan pada permukaan bumi Sumatra yang terletak di antara Pegunungan Bukit Barisan, dikenal se bagai dextral transcurrent fault system, atau Sesar Besar Sumatra. Sesaran ini mematah dalam zona yang rumit, berawal dari pulau-pulau di ujung utara Sumatra di Aceh, membentuk lembah-lembah memanjang di daratan, dan di antaranya membentuk deretan danau-danau besar di sepanjang jalur yang dilintasinya, hingga ke ujung selatannya di Teluk Semangko, Lampung.

Karena adanya sesar itu pula, di sepanjang jalur yang dilintasinya, bermunculan pusat-pusat gempa bumi bersama-sama dengan pusat-pusat erupsi gunung api. Tak ayal lagi, Pegunungan Bukit Barisan menjadi kecantikan yang mematikan: menyimpan sumber daya bumi yang kaya dan berlimpah (mulai dari sumber-sumber mineral, batubara, air, minyak bumi, batu mulia, dan lain sebagainya) dan menyajikan panorama alam yang memukau, serta lahan-lahan yang subur untuk hidup bertani, tetapi di sisi lain, memendam potensi bahaya bencana kebumian yang sulit diprediksi.

Gempa bumi tercatat hampir di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, beberapa di antaranya berakhir sebagai tragedi. Pesisirnya pun sering terlanda tsunami akibat gempa bumi yang berpusat di dasar laut, sedangkan perbukitannya yang berrelief kasar sering dilanda bencana longsor atau banjir bandang. Sekalipun letusan gunung api relatif jarang, tetapi secara geologis dan dari rekaman sejarah letusan gunung api, beberapa gunung api aktif selalu menjadi ancaman jika meletus pada permukiman di kaki-kakinya. Bukit Barisan jelas tidak mengenal istilah ‘daerah aman.’

Bentang alam Pegunungan Bukit Barisan adalah gabungan dari berbagai bentuk muka bumi yang bervariasi. Jajaran perbukitan-pegunungan memanjang yang umumnya dikontrol secara geologis oleh proses perlipatan batuan-batuan sedimen berumur Mesozoik hingga Tersier, terrentang sepanjang pegunungan tengah di Aceh, barat daya Sumatra Utara, jalur tengah Sumatra Barat di sepanjang jalur yang melalui Danau Singkarak, termasuk di antaranya Ombilin dan Sawahlunto penghasil batubara, menerus ke Jambi, Bengkulu, dan Sumatra Selatan. Disamping itu terdapat perbukitan-pegunungan berrelief kasar yang didominasi oleh batuan metamorf yang mengisi Pegunungan Leuser di Aceh hingga Sumatra Utara.

Akibat sistem patahan rumit yang terjadi di daerah ini, lahirlah pembumbungan morfologi berupa perbukitan memanjang. Tetapi kekayaan geografis Bukit Barisan tidak berhenti di sana; selain pembumbungan, terjadi pula penarikan pada arah yang berlawanan sehingga menghasilkan lembah-lemabha yang kemudian menjadi danau-danau yang memanjang di sepanjang jalur ini. Danau Lauttawar, Danau Toba, Danau Singkarak, Danau Kerinci, hingga Danau Ranau adalah beberapa danau yang terbentuk di sepanjang jalur patahan ini.

Di samping perbukitan-pegunungan dan lembah yang memanjang itu, muncul pula kerucut-kerucut gunung api, suatu terobosan magma aktif yang menyembul di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Sekalipun tidak intensif baik dari sisi jumlah mau keaktifan, beberapa gunung api tetap menjadi ancaman bahaya bencana letusan yang sangat mengkhawatirkan. Gunung api Sinabung yang tadinya digolongkan sebagai gunung api tipe B (yang tidak pernah tercatat meletus sejak 1600), tahun 2010 lalu tiba-tiba meletus cukup besar, memancarkan abunya hingga berratus-ratus meter ke angkasa. Kondisi terbaru itu menyebabkan Gunung Sinabung menaikkan statusnya menjadi gunung api tipe A (Aktif; atau pernah meletus sejak 1600).

Gunung-gunung api aktif justru terkonsentrasi di Sumatra Barat. Tercatat beberapa gunung api, di antaranya yang terbesar adalah G. Merapi, G. Singgalang, dan G. Talang. Beberapa gunung api dalam kondisi yang boleh dikatakan mati, misalnya sisa-sisa gunung api yang membentuk Danau Maninjau. Walaupun G. Merapi gunung terbesar yang kawahnya masih mengepulkan asap solfatarnya, tetapi gunung api teraktif adalah G. Talang di Solok. Gunung api ini beberapa kali meletus dan mengancam penduduk yang mendiami kaki gunung, terutama ke arah utara.

Gunung Kerinci (sekitar 3805 meter di atas permukaan laut) merupakan gunung api aktif tertinggi di Indonesia. Gunung api ini terletak di perbatasan Sumatra Barat dan Jambi. Pos pemantauan di Kayuaro, Kerinci, beberapa kali mencatat adanya gejal-gejala tremor dari aktivitas vulkanik gunung ini. Tahun 2010 tercatat meletus kecil dengan memuntahkan asapnya sekitar 500 m dari kawah. Ke arah selatan, gunung api berikutnya yang cukup aktif adalah G. Dempo di Sumatera Selatan, dan Suoh di Lampung. Gunung Dempo tercatat beberapa kali meletus, sehingga aktivitasnya juga dipantau melalui pos gunung api dari Kabupaten Lahat (*)

* Penulis, staf dosen Teknik Geologi ITB, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (FITB, ITB); anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), dan koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Iklan