Tak satu pun dari kita yang ingin mempercayai bahwa gempa dan tsunami Jepang, 11 Maret 2011 akan terjadi lagi. Sayangnya, itu pasti akan terjadi, di salah satu tempat di Bumi. Satu tempat yang memungkinkan untuk mengalami hal itu adalah kawasan pantai barat Amerika Utara. Pertanyaannya adalah, kapan itu terjadi?

Geofisikawan dari tujuh institusi riset di seluruh Amerika Serikat coba menjawab pertanyaan itu. Lewat sebuah proyek yang akan berlangsung selama lima tahun dan diperkirakan memakan biaya hingga Rp 42 miliar, mereka melakukan penelitian. Dengan kecepatan komputasi 1.000 kali lebih tinggi, menggunakan metodologi baru, tim peneliti membuat simulasi gempa bumi gabungan pertama di seluruh kawasan barat Amerika Utara.

“Salah satu tujuan kami adalah meningkatkan kemampuan prakiraan gempa jangka pendek dan jangka panjang,” kata James Dieterich, ketua tim peneliti dari University of California, Riverside. “Prediksi yang lebih akurat sangat penting, sebagai contoh, asuransi gempa bumi sangat mengandalkan prakiraan gempa,” ucapnya.

Sebagai informasi, warga AS yang tinggal di kawasan Pacific Northwest menghadapi ancaman besar. Di lepas pantai, terdapat retakan sepanjang hampir 1.000 kilometer di dasar laut yakni di Cascadia Subduction Zone yang sangat rentan mengalami gempa bumi dan tsunami raksasa serupa dengan gempa berskala 9.0 yang menghasilkan tsunami di Jepang, tahun lalu.

Kawasan ini sendiri pernah mengalami gempa raksasa di tahun 1700. Meski sudah cukup lama, ini perlu dikhawatirkan karena bencana dahsyat itu terjadi setiap 300 sampai 500 tahun sekali.

“Pemantauan gempa sejauh ini hanya hingga sekitar 100 tahun lalu dan hasilnya, catatan data yang kita miliki relatif sedikit,” kata Dieterich. “Jika kami menggunakan metode yang tepat, simulasi kami terhadap lempeng bumi akan menghasilkan catatan pantauan pergerakan lempeng selama 10 ribu tahun yang mengandung hingga satu juta kejadian gempa bumi dan memberikan kita banyak sekali data untuk dianalisa,” ucapnya.

Dari data baru tersebut, Dieterich dan rekan-rekannya berharap bisa menemukan petunjuk terkait proses jangka panjang yang bisa menyebabkan gempa bumi dahsyat, yang lebih besar dari magnitude 8.

sumber :
“Salah satu tujuan kami adalah meningkatkan kemampuan prakiraan gempa jangka pendek dan jangka panjang,” kata James Dieterich, ketua tim peneliti dari University of California, Riverside. “Prediksi yang lebih akurat sangat penting, sebagai contoh, asuransi gempa bumi sangat mengandalkan prakiraan gempa,” ucapnya.

Sebagai informasi, warga AS yang tinggal di kawasan Pacific Northwest menghadapi ancaman besar. Di lepas pantai, terdapat retakan sepanjang hampir 1.000 kilometer di dasar laut yakni di Cascadia Subduction Zone yang sangat rentan mengalami gempa bumi dan tsunami raksasa serupa dengan gempa berskala 9.0 yang menghasilkan tsunami di Jepang, tahun lalu.

Kawasan ini sendiri pernah mengalami gempa raksasa di tahun 1700. Meski sudah cukup lama, ini perlu dikhawatirkan karena bencana dahsyat itu terjadi setiap 300 sampai 500 tahun sekali.

“Pemantauan gempa sejauh ini hanya hingga sekitar 100 tahun lalu dan hasilnya, catatan data yang kita miliki relatif sedikit,” kata Dieterich. “Jika kami menggunakan metode yang tepat, simulasi kami terhadap lempeng bumi akan menghasilkan catatan pantauan pergerakan lempeng selama 10 ribu tahun yang mengandung hingga satu juta kejadian gempa bumi dan memberikan kita banyak sekali data untuk dianalisa,” ucapnya.

Dari data baru tersebut, Dieterich dan rekan-rekannya berharap bisa menemukan petunjuk terkait proses jangka panjang yang bisa menyebabkan gempa bumi dahsyat, yang lebih besar dari magnitude 8.