Pasal 33 UUD 1945 memang mengamanatkan dengan jelas hak-hak rakyat atas apa yang ada di bumi Indonesia dan di dalamnya. Selain Bencana dan pendudukan kolonial, Bangsa kita yang resmi menjadi negara berdaulat, kehilangan cerita dan fakta bencana berikut sejarah masa lalu.

Kita kehilangan kontinuitas mengakibatkan kehilangan ilmu pengetahuan tentang cara mendapatkan amanah pasal 33 UUD 1945. Sampai sekarang bahkan modal dan teknologi selalu menjadi hal penting yg menghadang penguasaan sumber daya alam.

Selain belajar ttg tsunami dari jejak-jejak sedimentasi di Sumbawa 4 hari kemarin (13-17Apr), Tim Katastropik purba menguji dengan fakta bahwa belum ada satupun sumber tulisan yang lengkap mengulas tentang keanehan-keanehan sejarah dan ekstraksi bumi di daerah selatan yang diriset (Benete, Maluk, Sekongkang, Nenga Memenga, Swis, Sejurong, Tongo, Senutuk, Labuhan, Brang Tatar, Yangse, dan lain-lain).

Perhatikan nama-nama yang berbau “oriental” seperti MA-LUK, TSE KONG KANG, TA(R)TAR, YANG TSE. Muncul Hipotesa awal Kemungkinan hal tersebut mengindikasikan daerah pantai selatan Sumbawa itu pernah dijelajah oleh bangsa Mongol – China, mungkin tentara-tentara Jenghis Khan atau panglima-panglimanya. Tapi belum pernah ada yang meneliti mendalam tentang hal ini.

Selain itu ada cerita terpendam sampai skrg tentang bgmn para eksplorasionis awal geologist-geologist Newmont menemukan bekas-bekas penambangan kuno di puncak Batuhijau, yang sekarang sudah hilang ditambang menjadi lembah kerucut terbalik dengan kedalaman sampai 700m dari permukaan awal, seperti di Grassberg Freeport.

Awal 90-an saat melakukan pemetaan mereka mendapati 1 lapisan tipis “arang” yg ditutupi oleh endapan volkanik (tuff?) dan soil. Di zona lapisan memanjang tersebut didapati banyak sekali keramik (pottery) dan juga SLAG – sisa-sisa pembakaran bijih untuk pemurnian tembaga.

Para geologist curiga bahwa fenomena itu adalah bekas penambangan kuno, mereka pun memanggil Tim Arkeologi dr Jakarta (Tim pemerintah). Kemudian Tim tsb melakukan ekskavasi memakai bentangan benang-benang saling menyilang seperti umumnya standar penggalian arkeologi.

Tim mendapatkan kabar bahwa Laporan tertulis Tim Arkeologi itu ada di Newmont, tapi mrk tidak tahu disimpan dimana sekarang, karena sejak dulu proyek tersebut dirahasiakan.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa benda-benda yang ditemukan di puncak gunung Batuhijau tersebut TIDAK MEMPUNYAI NILAI SEJARAH. Dengan demikian maka Newmont-pun meneruskan usaha awal eksplorasinya dengan feasibility study dan standar resmi penambangan umumnya sampai mereka menambang bukit itu menjadi kaldera seperti saat ini.

Tentu saja lokasi dan lapisan-lapisa pembawa bukti-bukti “man-made” yg diteliti Tim Arkeologi tersebut sudah hilang tertambang. Sebagian dari “artefak-artefak” yang dikumpulkan banyak dijadikan souvenir oleh tim eksplorasi Newmont, termasuk dibawa ke Denver kantor pusatnya.

Tim katastropik berharap geologist Indonesia yang sudah keluar dari Newmont masih menyimpannya, karena menurut analisis Tim Katastropik purba : sangat aneh kalau ada lapisan “arang” dengan banyak artefak yang ditutupi endapan gunung api lalu dianggap tidak punya nilai sejarah.

Kalau benar lapisan penguburnya adalah endapan tuffa gunung api, kemungkinan itu adalah endapan piroklastik letusan Tambora 1815. Berarti kegiatan penambangan tembaga di daerah situ sdh terjadi sebelum 1815.

Apakah Tentara Jenghis Khan – kah yg melakukannya, apakah peradaban lain? Sangat disayangkan sampai ada kesimpulan bahwa lapisan tersebut tidak punya nilai sejarah.

Karena dengan dasar itulah maka sah-sah saja lapisan-lapisan itu dibongkar dalam rangka mengakses cadangan raksasa tembaga, emas, dan perak di bawahnya.

Selain 2 hal di atas, Tim juga menemukan suatu bentukan morfologi yg menarik di daerah pantai, suatu gunung yg radial, tapi bagian sirkular tengahnya menunjukkan pola menurun ke tengah, seperti kaldera dangkal, seolah-olah seperti bentuk galian tambang porfiri yang sudah ditutup.

Peta geologi menunjukkan data yang tidak konsisten. Kemungkinan memang belum pernah didaki untuk diteliti. Seperti gunung api purba. Bahkan eksplorasionis Newmont-pun tertarik dengan fenomena tersebut, karena kalau memang ada mineralisasinya, berarti di dalam “gunung” tersebut kemungkinan juga akan didapatkan cadangan serupa seperti Batuhijau.

Atau mungkin sudah habis ditambang orang-orang terdahulu? (Jenghis Khan? Orang-orang Purba?). Berita yang didapatkan bahwa ada Rencana dalam tahun ini newmont akan menelitinya, karena masih masuk daerah konsesi .

Ternyata makin banyak misteri masalalu Indonesia kita. Bekas-bekas penambangan-penambangan kuno (purba?) menunjukkan bahwa pengetahuan dan teknologi mineral dan metalurgi telah sangat maju di jaman dulu (Jaman Raden Wijaya – Jenghis Khan? Jaman sebelum itu?).