Berikut adalah kisah gempa simuele 1907 dan melacak asal muasal istilah Smong sebagai Mitigasi

Tsunami 1907: Awal dan Perkembangan Arti

Hasil wawancara terhadap sejumlah informan di pulau Simeulue memberikan indikasi
yang kuat mengenai adanya kejadian tsunami tahun 1907, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Smong 07”, yaitu penyebutan singkat untuk merujuk pada kejadian tsunami padatahun 1907. Namun demikian, dalam penelitian ini, selain berdasarkan pada sumber-sumber lisan dari para informan, juga merunut pada beberapa sumber tertulis lain seperticatatan-catatan peninggalan pemerintah kolonial Belanda dan artikel-artikel ilmiah yangmembahas tentang kejadian gempa dan tsunami di wilayah pulau Simeulue dan Sumatera pada umumnya.

Bab ini akan membahas beberapa temuan yang terkait dengan:
(1) catatan-catatan dari pemerintah kolonial Belanda maupun kajian para ahli tentang kejadian tsunami 1907;
(2) berbagai versi penceritaan kejadian tsunami tahun 1907;
(3) peninggalan artefak dan alam tentang tsunami 1907; dan
(4) proses penyebaran cerita tsunami 1907, termasuk pola migrasi antar kecamatan di wilayah Simeulue yang menjadi dasar penyebaran cerita
tsunami 1907.

Catatan Kejadian Dalam artikel berjudul “Seismic History and Seismotectonic in Sunda Arc”, Newcomb and McCann (1987 : 429) memberikan sebuah deskripsi tentang kejadian gempa pada tanggal 4 Januari 1907 :

”…January 4, 1907. This event caused tsunamis that devastated Simeulue and
extended over 950 km along the coast (the extent of this tsunami appears to be
greater than 1861 event only because tide gauges were in use at this time). People in Nias were not able to stand. The shock was probably located seaward of the trench slope break, since islands on the seaward side of Nias and towns on the seaward side of Batu island were devastated by the seawater. Guitenberg and Richter (1954) have assigned this event a magnitude M = 7.6. The location they report seaward of the trench by Simeulue, is inconsistent with that expected from the extent of moderate intensities in the interior Sumatra. We prefer an epicenter seaward of the trench slope break but lanward of the trench. Aftershocks were reported for 8 days. While this was an intense shock, the damage was localized.”

Deskripsi tersebut menggarisbawahi beberapa hal penting, antara lain
(1) tanggal, bulan dan tahun kejadian;
(2) cakupan area yang terkena tsunami, khususnya pulau Simeulue dan
Pulau-pulau Batu Nias1;
(3) magnitud gempa dan tsunami yang terjadi pada saat itu
dibandingkan dengan kejadian sebelumnya pada tahun 1861.

Artikel tersebut telah memberikan informasi tentang kejadian tsunami pada tahun 1907 yang selama ini dikenal secara lisan oleh penduduk Simeulue bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1907 dan jatuh pada hari Jumat2. Beberapa keterangan lisan, khususnya di wilayah Salur, Naivos dan kampung Airpun menguatkan pendapat bahwa tsunami tahun 1907 terjadi pada hari Jumat, dikaitkan dengan beberapa peristiwa tentang tewasnya orang-orang di dalam mesjid pada
saat sembahyang Jumat atau orang yang tewas di depan mesjid. Keterangan lisan lain menyebutkan bahwa gempa terjadi pada pagi hari, sedangkan gelombang tsunami terjadi pada siang hari, dan baru surut sekitar pukul 5 sore.
Sumber : Newcomb and McCann (1997)

Selain artikel ilmiah tersebut, terdapat dua catatan lain yang dibuat oleh pihak pemerintah kolonial Belanda. Petikan catatan berikut antara lain berisi :
Di Simeuloee sering terjadi gempa bumi. Biasanya bersifat ringan. Pada tahun
1907 seluruh daerah pantai Barat dilanda ombak pasang besar. Jumlah korban
sangat banyak. Sejumlah besar kampung benar-benar hilang tertelan ombak yang
mengakibatkan tanah tersebut menjadi daerah gersang, sementara penduduk
disana tidak pernah berhasil mengatasi bencana ini, Kemakmuran sebelumnya
tidak pernah tercapai lagi. Hingga saat ini penduduk masih menyisakan kisah-
kisah dari masa lampau sebelum terjadi bencana gelombang pasang, pada masa itu
kampung-kampung sepanjang pantai termasuk makmur di pulau itu.

Catatan di atas pada awalnya menceritakan tentang aspek geografi pulau Simeulue pada jaman Belanda. Namun demikian, catatan-catatan dalam tulisan tersebut dapat memberikan bukti adanya kejadian tsunami tahun 1907 yang secara signifikan berdampak pada aspek sosial ekonomi masyarakatnya. Catatan ini juga memberikan informasi bahwa penduduk masih ingat tentang kondisi sosial-ekonomi masyarakat sebelum terjadinya bencana tsunami pada tahun 1907.
Sebuah catatan singkat dari kontrolir Belanda di Simeulue memberikan deskripsi tentangsuatu kampung yang disebut dengan “kampung lama”.

Informasi singkat ini juga memberikan pengetahuan tentang adanya kejadian tsunami (“ombak pasang”) pada tahun 1907 dan mulai adanya kehidupan baru di tempat yang disebut dengan kampung lama.

Sumber-sumber tertulis maupun visualisasi mengenai kejadian gempa dan tsunami tahun 1907 yang melanda pulau Simeulue relatif masih terbatas. Hal ini berbeda dengan kejadian tsunami tahun 1833 yang pernah melanda pantai Sumatera, dimana pernah dituliskan dalam bentuk cerita oleh seorang pedagang yang kebetulan sedang berada di wilayah tersebut. Meskipun begitu, tidak tertutup kemungkinan berbagai arsip maupun pemberitaan media kolonial Belanda pada tahun 1907 dapat ditelusuri lebih jauh lagi untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai dampak kejadian tsunami tersebut bagi penduduk pulau Simeulue.

Artefak dan Peninggalan Tsunami 1907

Selain berbagai cerita lisan tentang tsunami 1907, beberapa peninggalan berupa batu-batu koral dan bangunan tertentu seperti makam dan mesjid dapat menjadi pengingat bagi kalangan masyarakat tentang kejadian tsunami pada tahun 1907. Peninggalan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, pertama peninggalan berupa batu-batu koral dan biota laut. Sedangkan kelompok kedua berupa bangunan/peninggalan yang dibuat oleh manusia. Termasuk ke dalam kelompok pertama adalah batu-batu koral, Moluska (Pelecypoda) kima 4 dan kerangka ikan hiu dan paus. Sedangkan yang termasuk kelompok kedua adalah makam-makam para penyebar agama Islam dari abad ke 17, bekas mesjiddan makam korban tahun 1907.

Batu Koral

Pada saat penelitian dilakukan, diperoleh informasi yang cukup banyak tentang keberadaanbatu-batu koral maupun kima yang ada di hamparan sawah maupun di atas bukit. Menurut keterangan penduduk, fosil tersebut tidak lazim berada di hamparan sawah maupun perbukitan, karena habitat aslinya adalah di laut atau di tepi pantai. Beberapa orang menyebutkan bahwa benda-benda/hewan tersebut berasal dari laut yang terbawa gelombang tsunami tahun 1907.
Temuan batu koral di desa Naibos, bermula dari keterangan salah seorang informan yang mendapatkan cerita tentang tsunami 1907 dari ayahnya setelah ia melihat batu koral dihamparan sawah milik keluarganya.

Batu koral ini disebut sebagai Batu Alaih, artinya batu-batu yang berasal dari laut. Istilah “Alaih” tidak hanya digunakan untuk batu-batu saja, melainkan berbagai benda yang berasal dari laut yang berada di wilayah daratan. Batu koral berukuran kurang dari 1 meter yang ditemukan di daerah Naibos berasal dari
terumbu karang (Coelenterata). Pada saat survei lapangan dilakukan, batu ini sudah ditumbuhi lumut di permukaannya dan rumput liar tumbuh subur di sekitarnya, Di laut, terumbu karang hidup pada kedalaman kurang dari 30 meter. Keberadaan bongkah koral di tengah sawah bisa jadi karena dibawa penduduk untuk suatu keperluan atau bisa jadi juga memang terbawa oleh gelombang tsunami. Namun alasan sengaja dibawa oleh penduduk menuju hamparan sawah sejauh ini belum dapat dibuktikan.

Gelombang tsunami 2004 misalnya, telah melemparkan bongkah-bongkah koral yang
berukuran lebih dari satu meter ke daratan di daerah Teluk Langi. Batu koral yang ditemukan di Naibos berada di tengah sawah pada jarak sekitar 300 m dari garis pantai saat ini. Kemungkinan besar batu ini terbawa oleh gelombang tsunami tahun 1907, yang dibuktikan dengan adanya lapisan tipis pasir tsunami di bawah batu koral tersebut. Lapisan pasir ini tidak lagi ditemukan di persawahan di sekitar batu koral dan diduga lapisan pasir itu telah tercampur menjadi satu dengan lumpur sawah.

Makam Penyiar Agama Islam

Terdapat dua buah makam penyiar agama Islam yang dikunjungi pada saat penelitian, yaitu makam Tengku Halilullah atau Tengku Di Ujung yang terletak di desa Latak Ayah, kecamatan Simeulue Tengah dan makam Nurullah atau Bakudo Batu yang terletak di desa Salur, kecamatan Teupah Barat. Kedua makam ini diperlakukan secara khusus dengan adanya bangunan yang menaungi makam, bahkan makam Tengku Di Ujung diberi benteng pembatas dengan pantai yang ada di sekitarnya. Makam Tengku Di Ujung benar-benar menyentuh bibir pantai Latak Ayah, sedangkan Makam Nurullah kira-kira berjarak 300 meter dari wilayah pantai.

Sebuah penelitian yang didanai oleh pemerintah kabupaten Simeulue memberikan
deskripsi ”…keberadaan makam Tengku Di Ujung dan makam Tengku Nurullah di
Simeulue tidaklah mengherankan mengingat daerah Aceh terkenal dengan banyaknya
peninggalan arkeologi berupa makam-makam Islam yang memiliki tipe batu nisan
tersendiri, yang lazim disebut istilah “batu Aceh”, batu-batu nisan Aceh…” (Pemkab Simeulue, 2003 : 23).

Dalam kaitannya dengan peristiwa tsunami tahun 1907, dapat diasumsikan bahwa kedua makam telah berdiri pada masa itu, mengingat penyebaran Islam dilakukan di daerah tersebut pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Khusus mengenai makam Tengku Di Ujung yang posisinya berada di bibir pantai desa Latak Ayah, dikenang oleh penduduk sebagai daerah yang tidak mengalami kerusakan walaupun mengalami dua kali tsunami tahun 1907 dan 2004, padahal daerah di sekitarnya termasuk daerah yang terkena tsunami, baik menurut cerita rakyat maupun berdasarkan hasil temuan studi paleo tsunami. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kapal yang terdampar di tepi pantai dan menempel pada dinding benteng makam. Makam Tengku Di Ujung menjadi semacam pengingat bagi masyarakat di sekitarnya, bahwa tempat tersebut seolah-olah menyimpan
suatu kekuatan supra-natural.

Makam Tengku Di Ujung di desa Latak Ayah, Simeulue Tengah

Namun demikian, di dalam kompleks makam belum ada informasi tertulis yang dapat
memberikan cerita tentang makam tersebut dan kaitannya dengan peristiwa tsunami tahun 1907 yang tidak dapat menghancurkan lingkungan makam. Berbagai cerita yang terkait dengan keberadaan makam tersebut masih merupakan cerita lisan dengan versi yang berbeda. Selain itu, terdapat cerita yang disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat dari desa Langi, kecamatan Alafan, bahwa di pulau Leukon terdapat makam penyiar agama Islam yang juga selamat dari gelombang tsunami tahun 1907.

Bahkan pada saat kejadian tersebut, beberapa orang yang berada di wilayah makam dikabarkan selamat dari sapuan gelombang, walaupun lokasi di sekitarnya hancur. Namun cerita ini belum dapat dikonfirmasi mengingat informan maupun lokasi makam di desa Lafakha, kecamatan Alafan tidak sempat didatangi.

Diselamatkan oleh Makam Keramat di Leukon

Kejadian Smong 1907 juga terjadi di pulau Leukon, yang sekarang dikenal dengan pulau Harapan, terletak di kecamatan Alafan. Menurut cerita Tengku Syamsudin, seorang tokoh masyarakat di Desa Langi, kejadian smong 1907 sangat dikenang oleh orang-orang tua penduduk desa Lafakha dan desa Langi, yaitu dua desa yang masih menggunakan bahasa Leukon. Ada dua versi cerita mengapa kejadian tsunami tahun 1907 dikenang.

Pertama, cerita tentang seseorang yang pada tahun 1958 bertanya mengapa tinggi batang pohon kelapa di pulau Leukon tidak sama yang dijawab dengan penjelasan bahwa ada kejadian smong yang menyebabkan pohon-pohon lain hanyut terbawa gelombang, sedangkan pohon kelapa yang ditanyakan itu tidak terbawa gelombang. Melalui pohon kelapa itulah orang tersebut memahami cerita tentang smong.

Sedangkan cerita kedua ialah tentang orang-orang yang pada saat kejadian smong 1907 tengah berada di pulau Leukon, kemudian menyelamatkan diri dengan cara berlindung di dekat makam keramat, yaitu makam penyiar agama Islam di daerah Leukon. Mereka percaya, makam keramatlah yang telah menyelamatkan banyak orang dari gelombang smong pada saat itu.

Sendi Batu Mesjid Salur

Di daerah Salur, kecamatan Teupah Barat, terdapat suatu situs yang merupakan puing darimesjid pertama yang pernah didirikan di Simeulue. Peninggalan dari mesjid yang hingga kini masih disimpan di dalam mesjid baru adalah 7 (tujuh) buah sendi batu. Hasil penelitian tentang benda cagar budaya di kabupaten Simeulue memberikan deskripsi sebagai berikut :
”…7 buah sendi batu. Sendi batu ini adalah bekas umpak tiang bangunan mesjid
pertama yang didirikan Salur oleh Tengku Nurullah atau Bakudo Batu.
Berdasarkan cerita atau informasi masyarakat diyakini bahwa sendi batu itu
adalah pemberian Sultan Aceh pada kedelapan orang utusan suku dari Simeulue
yang menghadap Sultan Aceh untuk mendirikan mesjid di Salur. Ukuran sendi batu lebar 22 cm dan tebal 16 cm. Sendi batu dari bahan batuan andesit. Sekarang
(tahun 2003) sendi dijadikan umpak tiang mesjid Salur, pada tiang tengah (soko
guru) 4 buah dan pada tiang teras depan 3 buah…” (Pemkab Simeulue 2003 : 17)

Masyarakat Simeulue mempercayai bahwa pada mulanya jumlah batu sendi masjid
tersebut ada 8 (delapan) buah. Angka delapan ini dipercayai sebagai representasi dari delapan suku yang ada. Ketika gelombang tsunami 1907 melanda daerah Salur, mesjid pertama di Simeulue ini hancur dan hanya menyisakan 7 batu sendi. Satu batu sendi lainnya hilang terbawa arus tsunami. Hilangnya satu batu sendi ini menjadi mitos dan pertanda yang dipercaya di kalangan masyarakat bahwa gelombang tsunami 1907 cukup besar. Mitos yang berkembang di masyarakat adalah bahwa satu buah batu sendi tersebut kadang-kadang muncul, namun menghilang kembali jika dilihat orang.

Makam Korban Tsunami 1907

Di depan Mesjid Salur, kecamatan Teupah Barat, terdapat sebuah makam tidak bernama, yang dipercayai sebagai makam korban tsunami 1907. Penggunaan semen pada keempat sisi makam merupakan bentuk baru yang dibuat sekitar 10 tahun yang lalu, walaupun disana dituliskan angka 1907 yang kurang jelas. Menurut salah seorang informan kuburan itu merupakan makam dari seorang laki-laki yang meninggal saat akan keluar dari mesjid setelah shalat Jumat pada saat tsunami 1907 menimpa daerah Salur. Walaupun nama orang yang dimakamkan tidak diketahui, tetapi salah seorang keturunannya menjadi pegawai di kantor Bupati Simeulue.

Meyakini Makam Korban Smong 1907

Kejadian smong tahun 1907 masih dikenang oleh banyak orang-orang dewasa di pulau
Simeulue. Namun bukti-bukti artefak masih sulit untuk dijumpai. Perlu ada satu teknik penelitian dengan waktu penelitian yang lebih lama untuk tinggal pada suatu komunitas. Namun demikian, suatu hasil wawancara di desa Salur, kecamatan Teupah Barat secara tidak sengaja membuka informasi tentang adanya sebuah makam yang diyakini sebagai makam korban smong tahun 1907.

Berikut ini adalah cuplikan tanya-jawab yang membuka informasi tentang adanya makam korban tersebut :
Di mesjid tersebut tersimpan pula beberapa peninggalan lain, yaitu 1 (satu) buah Alqur’an tulis tangan yang ditulis oleh Tengku Nurullah Bakudo Batu, 1 buah batu asah pisau Bakudo Batu dan 1 buah stempel kerajaan yang pada bagian pegangan dari kayu berbentuk bulat berukir, dan bagian bawah cap terbuat dari
bahan besi berbentuk persegi delapan, bagian cap terdapat tulisan Arab-Melayu bertuliskan 1340 H, Wakil Sultan Aji Datuk Pamuncak Negeri Teupah.
Wawancara dengan Bapak Amir Hamzah, laki-laki, guru SMP Salur, tanggal 16 April 2006. Sedangkan menurut Bapak Karim, karena adanya pengaruh bahasa Aceh terhadap bahasa di Simeulue, arti kemong adalah air yang meluap.

(Hasil wawancara sebelumnya)
…..Tanya (T)
Sebetulnya kalau menurut catatan ahli, itu terjadi pada tanggal 4 Januari
tahun 1907, harinya tidak tahu tapi kalau cerita orang-orang tua kan Jumat,
makanya banyak yang meninggal di Mesjid. 1907.
Jawab (J)
Ini banyak orang yang meninggal ?
T
Ada ?
J
Ini mesjid, ada disitu dibuka
T
Itu tahun 1907, bekasnya ya?
J
Ya bekas
T
Mari kita lihat
J
Itulah kenang-kenangan semua orang disini, ya sempat dimakamkan
T
Kuburan siapa ini ?
J
Itu ndak tau saya.
T
Jadi meninggal saat semong 1907, dan dikuburkan disitu ?
J
Mau keluar dari mesjid meninggal, itulah kenyataannya semong, kalau dikata lupa
namanya
T
Bisa ditulis namanya ? anak salur sini ?
J
Anak Salur pak, cuman itulah kalau disini sudah ada kenyataan itulah orang
meninggal disini, sampai sekarangpun masih ada kuburannya disini
T
Orang masih ingat ?
J
Masih ingat, tsunamipun ndak tampak kuburannya, samping mesjid.
T
Kalau disini kuburan tidak pakai nama ya ?
J
Ndak, pakai. Nama . Sebelum tsunami itu …….. ada tempat saksi juga.
T
Dimana ?
J
Dekat …….. yang …..
T
Nanti kalau ada waktu kita lihat.
Berdasarkan hasil wawancara, lalu diadakan pengamatan terhadap lokasi makam tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan adannya sinkronisasi antara cerita adanya orang yang meninggal di depan mesjid lama, sesaat setelah keluar dari mesjid pada saat shalat Jumat untuk menyelamatkan diri.

Arti Kata Smong

Arti kata smong sendiri ditafsirkan berbeda-beda oleh beberapa informan maupun
dokumen tertulis yang pernah ada. Dari segi bahasa tutur, ada dua kata untuk menyebut smong, yaitu untuk penutur bahasa Devayan dan Leukon disebut smong, sedangkan untuk penutur bahasa Sigulai disebut emong. Secara linguistik, perbedaan diantara ketiga bahasa tersebut untuk menyebut smong hanya bersifat perbedaan dialek saja. Namun demikian, untuk kata-kata lain perbedaannya cukup signifikan.

Namun ketika memberikan tafsiran terhadap arti smong ada beberapa pendapat, diantaranya adalah:
(1) Smong berasal dari
bahasa Aceh untuk kemong, yaitu gelombang air laut yang belum pecah menjadi ombak;
(2) Smong adalah bahasa pulau Simeulue untuk menyembur10 khususnya untuk penutur
bahasa Teupah Barat dan Simeulue Tengah; dan
(3) Smong, artinya gelombang besar yang
datang tiba-tiba (mendadak).

Selain itu masih terdapat berbagai varian cerita tentang arti kata Smong, tetapi pada intinya menggambarkan satu peristiwa mengenai air laut yang naik secara tiba-tiba dan menghancurkan berbagai benda yang ada dihadapannya, juga
membawa berbagai material yang berasal dari wilayah laut.

Beberapa Pengertian Smong

Dalam wawancara antara peneliti dengan informan, untuk mengungkapkan arti kata
smong tidaklah mudah. Kendala utamanya adalah tidak dikuasainya bahasa daerah
dan dialek tertentu oleh peneliti, sehingga dibutuhkan penerjemah. Tetapi
penerjemahpun perlu memahami dialek lokal, karena adanya tiga bahasa daerah yaitu Devayan, Sigulai dan Leukon dan dialek dari masing-masing wilayah. Selain itu, tingkat pendidikan dan pengalaman seorang informan berkomunikasi dengan orang lain dalam bahasa Indonesia akan mempengaruhi pemahamannya tentang pertanyaandari peneliti.

Dari berbagai hasil wawancara, ada informan yang dapat menjelaskan asal usul kata (etimologi) smong, tetapi lebih banyak yang menceritakan tentang “kejadian smong”, sehingga kata smong tidak diartikan sebagai sebuah kata tunggal, melainkan sebuah rentetan peristiwa (sequences) dari sebuah kejadian. Petikan hasil wawancara ini memberikan gambaran bagaimana asal-usul kata smong dijelaskan oleh seorang informan :
Tanya (T) : Apakah benar smong berasal dari kata kemong ?
Jawab (J) : Sama dengan, artinya air yang hampir pecah, gelombang itu kan belum
pecah dia, naik dulu gitu naik ke atas, belum putih, di pantai kan hampir pecah
dia kan. Jadi yang dimaksud kemong ini, inilah dia yang ini, naik dia begini,
naik dia macam begini tapi belum pecah, di pinggir baru pecah dia, lah
disinilah yang kemong, sebagian naik sendiri, tapi belum pecah.
T
Jadi sebelum ada semong tahun 1907 kata kemong sudah ada bagi orang-
orang sini?
J
Sudah, cuman dikasih orang itu semong.
T
Sekarang apa bedanya semong dengan sapal?
J
Kalau sapal itu dari hulu, kalau hujan lebat sekali, dah menjadi sepal, air
deras, banjir katanya
T
Kalau dari laut itu semong ?
J
Semong
T
Tapi kalau air pasang saja gimana? Misalnya ada pasang ya, pasang sampai
masuk ke kampung.
J
Lulfuk
T
Coba bisa digambar ?
J
Pasang dari laut, kalau kami disini bahasanya Lulfuk kemudian pecah, pecah
dan membanjiri, maksudnya seluruhnya membanjiri air laut ini.
T
Jadi kalau kita lihat cara kata-kata pak ya, kemong dengan semong artinya
sama atau tidak?
J
O itu tidak sama, karena kalau kemong itu kan belum pecah dia, naik dia,
kalau semong jangan pecah, berarti ini maknanya sudah komplek ini, kalau
kemong ini baru gulung, jadi kalau pasang menyala-nyala …upuk, pasang
naik ya
T
Kalau Lulfuk tidak berbahaya ya ?
J
Tidak
T
Kalau kemong ?
J
Kalau kemong itu kan belum meletus kan, yang bahaya yang semong.
T
Sekarang kata semong sering tidak digunakan untuk hal-hal lain selain ombak
naik gitu, adalah misalnya sambil bercanda menyebut orang
J
Ndak ada, cuman kalau kami di daerah Simeulue ini tetap kami sebut ini
semong, kalau gempa sama dengan linon

(Hasil Wawancara dengan seorang guru di desa Salur, kecamatan Teupah Barat, April 2006)

Dialog diatas dilakukan dengan pertanyaan yang tidak terstruktur, namun
menghasilkan beberapa informasi yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai
perbedaan beberapa kejadian alam, seperti tsunami, gempa, gelombang pasang dan
banjir, termasuk persepsinya mengenai bahaya yang ditimbulkan.

Beberapa pertanyaan mendasar yang terkait dengan kejadian tsunami pada tahun 1907adalah
(1) apakah kata smong pertama kali muncul pada tahun 1907, setelah adanya
tsunami yang melanda wilayah Teupah Barat hingga Salang;
(2) apakah kata smong hanya mempunyai arti yang bersifat khusus dan sinonim dengan pengertian ilmu pengetahuantentang tsunami;
(3) apakah kata smong mempunyai makna lain dalam bahasa-bahasa
daerah di Simeulue.

Kenyataannya tidak mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara
langsung, mengingat adanya perbedaan persepsi dari para informan. Selain itu catatan tertulis dalam dokumen Belanda tentang wilayah Simeulue tidak menggunakan terminologi tertentu untuk tsunami. Misalnya dalam laporan mengenai geografi Simeulue hanya disebutkan tahun 1907 terdapat “ombak pasang besar”, “bencana gelombang pasang” dan “ombak pasang”. Demikian halnya dengan berbagai jawaban yang muncul dari para informan seringkali telah sarat dengan campuran antara pengetahuan-pengetahuan “modern” tentang kegempaan, seperti penyebutan Skala Richter (SR) untuk mengukur terjadinya gempa.

Asal-usul kata smong mungkin telah ada sebelum terjadinya tsunami tahun 1907, namun bukan berarti muncul karena adanya kejadian tsunami di Simeulue yang lebih tua daripada tahun 1907. Menurut salah seorang informan, ketika ditanyakan apakah kata smong muncul pada tahun 1907, jawabannya adalah :
”…itu sudah bahasa pulau (maksudnya Simeulue), smong artinya menyembur,
jadi karena orang melihat air itu surut kemudian melimpah. Itu bahasa pulaunya ni semongan, artinya menyembur”.

Penjelasan lain diberikan oleh seorang sarjana ilmu pendidikan yang menulis ujian akhir tentang struktur bahasa Devayan memberikan beberapa deskripsi, diantaranya adalah:

Smong adalah satu kata dengan 5 huruf, tidak mempunyai suku kata, hanya
satu kata. Dan bisa juga diyakini benar bahwa kalaulah ada asumsi mengatakan
kemong itu boleh jadi tsunami atau kejadian alam seperti itu sebelumnya karena
pengaruh bahasa Aceh, sehingga berpengaruh atau berarti jadi smong, namun saya
tetap yakin bahwa untuk tsunami perdana di Simeulue ini tetap 1907…Saya yakin
kata itu sudah ada sebelum itu, karena itu bahasa tuturan itu juga ada dari
masyarakat terdahulu, tetapi akan kemungkinan muncul kata-kata itu kembali
manakala ada kejadian yang dialami sehingga dia muncul.

Pendapatnya ini ingin menegaskan bahwa sebuah kata bisa saja hampir hilang dan muncul kembali karena adanya peristiwa-peristiwa yang dianggap penting oleh masyarakat. Kejadian air laut yang naik secara tiba-tiba, dengan didahului oleh gempa kuat dan air laut di pantai surut tampaknya menjadi dasar dari argumentasi bahwa kata smong berasal dari kemong, yaitu gulungan ombak laut yang belum memecah.

Berdasarkan wawancara dengan orang tua yang telah berusia lebih dari 90 tahun, terdapat kesan umum pengertian smong merupakan suatu rangkaian kejadian yang dimulai dari adanya gempa kuat, air laut di pantai mengering, dan disusul datangnya gulungan ombak yang cukup tinggi. Dengan demikian, pengertian smong dianggap sebagai suatu kesatuan pengertian dan bukan berdasarkan asal usul katanya.

Pendapat umum mengatakan bahwa smong adalah “air laut yang meluap secara
mendadak”. Artinya luapan air tersebut berasal dari laut dan bukan dari tempat lain, misalnya untuk air yang meluap dan berasal dari gunung dalam bahasa Devayan dan Leukon juga disebut dengan Safal atau banjir.

Sedangkan pasang naik dalam bahasa Devayan disebut dengan Lulfuk. Dengan demikian, pendapat ini ingin menegaskan bahwa smong merupakan suatu terminologi khusus untuk air laut yang meluap secara mendadak, karena untuk gejala alam lainnya yang terkait dengan luapan air mempunyai terminologi lain.

Dibandingkan dengan Safal (banjir dari hulu), Smong memang mempunyai arti yang lebih bersifat spesifik, yaitu “air yang menyembur dari laut”, sedangkan sapal tidak menyembur, yaitu air hujan yang turun dari gunung, bukan menyembur. Namun demikian adapula yang mengatakan bahwa semua jenis luapan air, termasuk banjir dapat dikategorikan sebagai smong. Pendapat ini diutarakan oleh kepala desa Langi yang masih berusia muda.

Beberapa pendapat lainnya tentang arti kata smong diperoleh dari berbagai pembicaraan yang mempunyai arti berbeda-beda dan sering dihubungkan dengan kejadian yang menimpa wilayah kecamatan Teupah Barat dan Teupah Selatan pada tahun 1907 seperti berikut:

Istilah smong diduga muncul setelah adanya tsunami pada tahun 1907 yang pada saat itu melanda dua kecamatan, yaitu Teupah Barat dan Teupah Selatan. Berbagai definisi tentang smong, diantaranya adalah.”gelombang pasang besar sangat cepat”, “ingin memuntahkan sesuatu”, “badai besar dengan ombak” dan “ombak besar”. Apabila ada smong sebetulnya kalau kita di lautan akan selamat.

Perbedaan arti yang dikemukakan oleh masing-masing orang, terkait dengan dari siapa informasi mengenai smong diperoleh. Seorang informan mengatakan bahwa ia mendengar istilah “ingin memuntahkan sesuatu” dari seorang tua yang pada saat kejadian tsunami 1907 telah lahir dan usianya masih anak-anak. Orang tersebut mendengar cerita dari ayahnya yang mengalami langsung kejadian tsunami tahun 1907. Sementara informan lain mendengar dari ayahnya, dan si ayah mendengar dari kakeknya yang mengalami langsung kejadian tahun 1907. Berbagai versi arti tersebut agak sukar dilacak untuk mengetahui kebenarannya.

Pembelajaran dari pembicaraan tersebut, yaitu “apabila ada smong
sebetulnya kalau kita di lautan akan selamat”, memberikan suatu pelajaran bahwa smong sangat berbahaya bagi masyarakat yang ada di wilayah pantai yang termasuk dalam jangkauan kekuatan ombak tsunami yang terjadi pada saat itu. Namun sebagai kata yang muncul pada tahun 1907, tampaknya pendapat ini masih belum mempunyai bukti ilmiah yang kuat.

Kejadian Penting pada tahun 1907

Kejadian tsunami tahun 1907 diceritakan oleh para informan dengan informasi yang
berbeda-beda. Perbedaan informasi ini dikarenakan beberapa hal, yaitu:
(1) dari siapa kejadian itu diceritakan;
(2) usia dan pengalaman informan; dan
(3) jarak/lokasi informan dengan wilayah kejadian.

Berkaitan dengan siapa yang menjadi sumber cerita pada dasarnya terbagi dua, yaitu orang yang pada saat kejadian tahun 1907 sudah lahir dan yang lahir sesudah tahun 1907.

Informan terbanyak adalah mereka yang lahir sesudah tahun 1907. Dalam penelitian
dijumpai 3 orang yang mengaku telah lahir pada saat kejadian tsunami 1907, yaitu 1 orang laki-laki dari desa Lakubang, kecamatan Simeulue Tengah dan 2 orang perempuan, masing–masing dari desa Salur kecamatan Teupah Barat dan Labuhan Bajau kecamatan TeupahSelatan. Umur mereka diperkirakan antara 100-105 tahun. Namun informasi dari ketigaorang tersebut agak sulit dipahami, mengingat ketiganya mempunyai masalah dengan pendengaran.

Namun demikian, potongan-potongan cerita dari ketiga orang tersebut telah
dapat menggambarkan situasi yang terjadi pada saat tsunami tahun 1907.
Kelompok kedua adalah informan yang mendapatkan cerita dari saksi hidup kejadian. Pada kelompok kedua ini ada yang mendapatkan cerita dari orang tuanya langsung (ayah/ibu) maupun saudara-saudara ayah/ibunya. Adapula yang mendengar cerita dari saudara-saudaranya yang hidup pada saat kejadian.

Kelompok ketiga merupakan kelompok yang paling banyak, yaitu mereka yang mendengar cerita dari orang yang tidak mengalami kejadian tahun 1907, melainkan diceritakan oleh orang lain. Terdapat berbagai variasi informan yang ada di dalam kelompok ini. Tetapi pola umum yang paling banyak adalah penceritaan dari kakek/nenek terhadap cucu-cucunya.

Pada intinya cerita yang dikemukakan oleh para informan mempunyai kesamaan, yaitu menceritakan mengenai kedahsyatan tsunami pada tahun 1907, yang ditandai oleh banyaknya korban jiwa pada saat itu. Namun dari satu informan kepada informan lainnya ada pula perbedaan detil cerita, khususnya yang menyangkut situasi lokal yang terjadi di daerah dimana informan tersebut tinggal.

Dari cerita para informan tentang kejadian tsunami tahun 1907 pada umumnya
menceritakan tentang :
(1) hari dan tahun kejadian;
(2) wilayah yang dianggap sangat parah
karena sapuan gelombang tsunami 1907;
(3) gejala-gejala yang ada dan bagaimana
tindakan yang dilakukan penduduk saat itu;
(4) tingkat kedahsyatan dan korban; dan
(5) nasihat yang diberikan.

Hari, Tahun dan Waktu Kejadian

Secara umum dapat dikatakan bahwa semua informan mengetahui kejadian tsunami terjadi pada tahun 1907, yang dikenal “smong 07”. Tidak digunakannya tahun hijriah sebagai dasar penghitungan tahun kejadian karena alasan yang bersifat praktis, yaitu lebih mudah diingat dan umum digunakan untuk hal-hal di luar kegiatan keagamaan. Namun demikian adapula informan yang tidak tahu secara pasti tahun kejadian dan seringkali mengatakan “jaman nenek moyang” atau “jaman nenek-nenek kita dahulu”.

Sedangkan mengenai hari kejadian, informan-informan yang ada di wilayah kecamatan Teupah Selatan, Teupah Barat, Simelue Tengah dan Sinabang mengetahui secara pasti kejadiannya pada hari Jumat, dikaitkan dengan banyak orang yang meninggal pada saat melaksanakan shalat Jumat di mesjid, atau pada saat selesai shalat Jumat di mesjid dan diperkirakan gelombang tsunami terjadi pada siang hingga sore hari.

Sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang ibu berusia sekitar 80 tahun dan mendengar cerita dari pamannya telah dapat menggambarkan situasi tsunami yang terjadi pada saat itu, diantaranya adalah :
(1) tahunnya ia tidak ingat;
(2) kejadian pada hari Jumat pada saat orang sembahyang Jumat sehingga banyak yang mati di mesjid;
(3) adapula laki-laki yang meninggal di tempat lain karena pada saat itu tidak melaksanakan shalat Jumat;
(4) beberapa orang selamat karena lari ke arah bukit dengan ketinggian sekitar 250-300 di atas permukaan laut;
(5) ada anggota keluarganya yang meninggal saat menyelamatkan diri; dan
(6) tsunami 1907 lebih dahsyat dari pada tsunami tahun 2004, karena banyak orang
yang tersangkut di pucuk kelapa.

Dari beberapa keterangan informan, sebelum gelombang tsunami datang, didahului oleh gempa “kecil”. Namun keterangan mengenai kapan gempa itu terjadi berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa gempa terjadi pada malam hari, tetapi ada pula yang mengatakan gempa terjadi pada pagi hari; dan gelombang tsunami baru datang pada waktu shalat Jumat. Demikian halnya dengan waktu air surut, ada yang mengatakan telah surut pada pukul 5 sore; tetapi adapula yang mengatakan baru surut sekitar 5 hari, sehingga harus orang yang menyelamatkan diri harus makan buah-buahan di atas pohon.

Cerita tentang hari kejadian tsunami 1907 tidak diketahui secara pasti di desa Langi, kecamatan Alafan. Hanya seorang tokoh masyarakat yang memberikan informasi mengenai hari Jumat sebagai hari kejadian, itupun setelah ia mencoba mengumpulkan informasi dari pihak lain. Tampaknya masyarakat desa Langi tidak terlalu mengetahui kejadian tersebut karena Langi merupakan desa yang relatif “baru” ramai sekitar tahun 1960. Penduduk Langi berasal dari beberapa wilayah Simeulue, khususnya dari desa Lafakha dan desa-desa lain yang terpengaruh bahasa Sigulai (Simeulue Barat). Desa Langi dan Lafakha adalah dua desa yang penduduknya masih memelihara bahasa Leukon, satu bahasa yang hampir punah di pulau Simeulue. Pada saat tsunami 1907, daerah Lafakha-lah yang mengalami kerusakan cukup parah.

Wilayah Bencana Tahun 1907

Berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat, gelombang tsunami tahun 1907 menyapu wilayah Teupah Barat hingga Salang, khususnya wilayah Salur, Kampung Air hingga Nasreuhe (kecamatan Salang). Pendapat lain mengatakan bahwa tsunami menyapu juga wilayah Teupah Selatan dan sebagian kecil Simeulue Timur (khususnya Teluk Busung). Dalam beberapa wawancara dengan penduduk di desa-desa kecamatan Teupah Selatan, cerita tentang kejadian tsunami 1907 sangat dikenal. Beberapa informasi menyebutkan bahwa di beberapa daerah masih dapat dijumpai kima-kima besar yang merupakan biota laut, yang diyakini terbawa gelombang tsunami 1907.

Selain itu, adapula cerita tentang seorang perempuan dari Salur yang terbawa arus hingga wilayah Baturarang kemudian ia selamat dan kemudian hidup berkeluarga di desa Baturarang.

Berdasarkan studi paleo-tsunami yang dilakukan, endapan tsunami diketahui berada di wilayah desa Langi, desa Latak Ayah (Simeulue Tengah), desa Lakubang (Simeulue Tengah), desa Naibos (Simeulue Tengah), dan Teluk Busung (Simeulue Timur). Apabila dilihat dalam peta pulau Simeulue, daerah-daerah yang diceritakan tersebut mulai dari wilayah kecamatan Alafan, kecamatan Salang, kecamatan Simeulue Tengah, kecamatan Teupah Barat dan kecamatan Teupah Selatan. Daerah Teluk Busung berada diantara kecamatan Simeulue Timur dan Teupah Selatan.

Gejala sebelum Tsunami 1907

Informasi dari para informan tentang gejala-gejala yang terjadi pada saat tsunami 1907 pada dasarnya mempunyai beberapa kemiripan, yaitu :
(1) adanya gempa;
(2) air laut datangtiba-tiba; dan
(3) hewan-hewan berperilaku aneh.

Kejadian gempa yang datang sebelum peristiwa tsunami 1907 merupakan cerita umum
yang ada di kalangan masyarakat. Namun terdapat perbedaan variasi penceritaan mengenai kekuatan gempa. Ada informasi yang mengatakan bahwa gempa yang terjadi sebelum kedatangan gelombang tsunami bersifat kecil, tetapi adapula yang mengatakan gempanya sangat kuat. Sementara menurut catatan Newcomb and McCann (1987 : 427) magnitudnya (M = 7,6) dan gempa susulan terjadi selama 8 hari.

Mengenai kejadian gempa itu sendiri terdapat dua versi yang berbeda, yaitu versi yang mengatakan gempa bumi terjadi pada malam hari, sedangkan versi lain mengatakan bahwa kejadian gempa bumi terjadi pada pagi harinya. Kemudian setelah gempa bumi terjadi pada pagi hari, penduduk tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, termasuk pergi ke mesjid untuk melakukan shalat Jumat.

Selain itu, adapula yang menceritakan bahwa sebelum gelombang tsunami datang, situasi laut di sekitar pantai kering dan menyebabkan beberapa orang tergerak untuk mengambil ikan yang ada di tepi pantai. Orang-orang inilah yang pada akhirnya menjadi korban gelombang tsunami yang datang secara tiba-tiba.

Menurut seorang informan di desa Langi, dari cerita yang ia dengar, gejala-gejala yang mengawali terjadinya smong adalah:
(1) gempa kuat;
(2) air keluar dari tanah;
(3) air surut;
(4) suara merandang (suara mirip menggoreng ikan); dan
(5) air naik18.

Selain itu adapula yang menceritakan tentang adanya gejala tingkah laku kerbau air yang tidak biasa, seperti lari ke wilayah bukit sebelum adanya gelombang tsunami. Tetapi cerita tersebut bersifat tidak umum dan hanya diceritakan oleh 1 orang saja.

Tingkat Kedahsyatan Tsunami 1907

Cerita dari para informan kebanyakan memberikan gambaran tentang kedahsyatan tsunamitahun 1907 dibandingkan dengan tsunami 2004. Penggambaran kedahsyatan tersebut terlihat dari :
(1) jumlah korban yang ditimbulkan, termasuk tempat ditemukan para korban;
(2) kemampuan gelombang tsunami membawa berbagai material dari laut, baik berupa 18 Wawancara dengan keluarga Zunaid, desa Langi kecamatan Alafan, April 2006. batu koral maupun biota laut lainnya; dan
(3) tinggi dan jauh jangkauan gelombang tsunami di wilayah daratan.

Cerita dari Naibos menggambarkan bagaimana gelombang tsunami mencapai hamparan
sawah yang berjarak sekitar 1 kilometer dengan membawa material dari laut, termasuk batu alaih berupa batu koral dan biota laut lainnya, seperti ikan hiu dan ikan paus. Selain itu, di Naibos adapula suatu cerukan di depan rumah penduduk yang konon berasal dari pecahan gelombang tsunami di wilayah daratan hingga menyebabkan timbulnya ceruk di halaman rumah penduduk.

Adapula cerita yang menggambarkan ketinggian air hingga “ujung pucuk kelapa”, dengan ketinggian kira-kira antara 8-10 meter, penggambaran tentang mayat orang-orang yang tersangkut diatas pucuk kelapa, maupun kerbau air yang tersangkut di atas pohon.

Cerita dari Lakubang, Simeulue Tengah juga memberikan gambaran tentang betapa
jauhnya gelombang tsunami menjangkau wilayah daratan, hingga sekitar 2 kilometer dari wilayah pantai, yang digambarkan dengan adanya ikan lumba-lumba dan ikan paus yang terseret hingga sekitar 3 kilometer dari wilayah pantai.
Versi cerita dari wilayah desa Awe Kecil, sebuah desa yang bertetangga dengan desa Salur juga memperlihatkan jauhnya gelombang tsunami memasuki wilayah daratan.

Tetapi masyarakat di desa Awe Kecil dulunya banyak yang tinggal di daerah bukit delok (bukit bunga), suatu bukit yang berada di ketinggian dan terdiri dari hamparan sawah, sehingga pada saat itu penduduk aman tinggal di sana. Namun setelah adanya pembangunan jalan, banyak penduduk memilih tinggal di wilayah dan disepanjang jalan raya hingga saat ini.

Nasihat

Dalam memberikan penceritaan tentang tsunami 1907, sebetulnya agak sulit untuk melihat adanya “nasihat” baik secara langsung dan tidak langsung agar orang waspada terhadap datangnya gelombang tsunami. Hampir semua cerita pada intinya hanya memberikan deskripsi tentang bagaimana kedahsyatan tsunami 1907 dan bagaimana gejala-gejala yang mendahuluinya. Dalam proses penceritaan tersebut, terdapat pesan dari para orang tua yaitu jika terjadi gempa kuat dan air laut di pantai surut, segeralah naik ke gunung.

Di desa Langi terdapat versi cerita bahwa air laut dalam gelombang tsunami merupakan air laut yang mengandung racun, sehingga kalaupun banyak ikan mati menggelepar di pantai, tidak boleh diambil dan dimakan, karena dianggap mengandung racun.

Hasil Studi Paleo-Tsunami

Endapan lumpur dari tsunami 1907 dan tsunami 2004 ditemukan di empat tempat yang
diteliti yaitu Teluk Langi, Latak Ayah, Naibos dan Teluk Busung.
Teluk LangiTeluk Langi merupakan sebuah teluk yang berada di ujung utara pulau Simeulue. Teluk ini dikelilingi oleh dataran pantai sempit, kurang dari 500 meter. Sebagian besar dataran ini tersusun oleh platform batu koral. Platform ini kemudian ditutupi oleh endapan lumpur bakau dan pasir pantai. Sebagian dataran pantai ini, terutama di sisi barat dan selatan teluk, tumbuhan bakau masih banyak dijumpai pada saat survei dilakukan. Di belakang dataran pantai terdapat perbukitan cukup terjal yang ditumbuhi semak, hutan sekunder dan kebun-
kebun penduduk. Sebuah sungai kecil mengalir di sisi barat teluk, bermuara di teluk Langi.

Muara sungai ini mempunyai lebar lebih dari 50 meter. Di bagian timur teluk terdapat pulau kecil bernama pulau Panjang yang memiliki dataran pantai cukup lebar dan ditutupi oleh tumbuhan bakau dengan sebuah bukit kecil di tengahnya.
Di Teluk Langi, endapan tsunami 1907 secara jelas mengubur endapan lumpur bakau.
Lumpur bakau itu menutupi endapan laut dangkal berupa lempung abu-abu kehijauan yang lengket dibawahnya dengan ketebalan endapan mencapai hingga 30 cm. Di pulau Panjang yang berada di mulut teluk Langi, hutan bakau tumbuh kembali diatas endapan tsunami 1907 yang ditandai oleh keberadaan lapisan lumpur bakau. Endapan tsunami 2004 setebal kurang lebih 2 hingga 3 cm selanjutnya mengendap diatas lapisan lumpur bakau yang baru ini.

Gelombang tsunami 2004 juga telah membawa bongkah-bongkah batu koral berukuran
hingga 1 meter dan mengendapkannya di daratan baru yang terangkat ketika terjadi gempa 2004, yaitu di bagian tepi pulau Panjang.
Kondisi yang berbeda ditemukan pada sisi barat teluk yang mengalami pengangkatan
cukup berarti setelah terjadinya pengendapan pasir tsunami 1907. Pengangkatan ini menyebabkan bakau tidak dapat tumbuh lagi diatas campuran endapan tsunami 1907 dengan sedimen-sedimen yang diduga berasal dari daratan. Sedimen daratan ini kemudian ditutupi oleh endapan tsunami 2004 setebal kurang dari 5 cm.

Hal lain yang menarik di teluk Langi adalah didapatkannya paling sedikit tiga buah teras laut. Teras paling atas berada pada ketinggian sekitar 3 meter, teras kedua berada pada ketinggian sekitar 2 meter dan teras pertama berada pada ketinggian kurang dari 0,5 meter diatas permukaan laut. Keberadaan teras-teras laut ini menjadi bukti adanya perulangan kejadian gempa bumi dan pengangkatan yang terjadi di masa lalu.

Latak Ayah

Di Latak Ayah terdapat dataran pantai dengan lebar lebih dari 500 meter. Di bagian depan dataran ini terdapat pantai berpasir yang berkembang cukup baik, sementara di bagian belakangnya dijumpai rawa atau bekas-bekas rawa. Di beberapa tempat, platform koral berkembang di depan dataran pantai berpasir, dimana penduduk membangun pemukiman diatasnya.

Endapan tsunami 1907 dengan ketebalan lebih dari 50 cm ditemukan di daerah Latak Ayah yang mengubur permukaan tanah. Di bawah tanah dijumpai endapan pasir pantai tua yang banyak mengandung pecahan koral. Pada bagian atas endapan tsunami 1907, berkembang lapisan tanah baru yang tertutupi oleh endapan tipis tsunami 2004 setebal kurang lebih 2-3cm.

Naibos

Naibos merupakan sebuah teluk kecil yang dikelilingi perbukitan dengan jarak dari garis pantai ke kaki bukit sekitar 1 km, dimana sebuah sungai kecil membelah dataran ini. Pantai di daerah Naibos merupakan pantai berpasir yang ditumbuhi pohon-pohon kelapa. Di belakang pantai modern ini dijumpai bukit-bukit pasir pantai memanjang (beach ridge) dengan lembah-lembah dangkal berupa rawa-rawa diantaranya. Dataran yang luas berkembang dari batas bukit-bukit pasir pantai hingga ke kaki bukit.

Lapisan pasir setebal xx (???) cm yang diduga sebagai endapan tsunami 1907 ditemukan di Naibos. Lapisan ini menutupi endapan lempung yang kaya bahan organik yang kemungkinan merupakan rawa pantai atau bakau yang ada di bawahnya. Di atas endapan tsunami 1907 ditemukan endapan berwarna abu-abu kehijauan yang diduga sebagai endapan daratan. Perbedaan lingkungan pengendapan antara lapisan sedimen dibawah dan diatas endapan tsunami mengindikasikan bahwa daerah Naibos mengalami pengangkatan pada saat gempa 1907 terjadi. Pada bagian atas endapan daratan berkembang lapisan tanah yang kemudian tertutupi oleh endapan tsunami 2004 setebal 5 hingga 10 cm.

Di samping lapisan pasir, di daerah ini juga dijumpai sebuah bongkah batu koral berukuran kurang dari 1 meter. Posisi bongkah batu ini berada di dataran bekas sawah, kira-kira 300 meter dari garis pantai saat ini.

Teluk Busung

Teluk Busung adalah sebuah teluk di ujung selatan pulau Simeulue. Di belakang teluk terdapat dataran pantai sempit selebar kurang lebih 200 m. Dataran ini berakhir di kaki perbukitan terjal yang ada di sepanjang teluk. Tepat di belakang garis pantai terdapat platform koral mid-Holosen yang diduga terbentuk sekitar 5000 tahun yang lalu yaitu ketika muka air laut berada pada posisi lebih tinggi dari muka laut sekarang. Di belakang platform ini dijumpai dataran pasir pantai atau bekas-bekas rawa yang tertutupi oleh endapan pasir tsunami 2004 dan 2005.

Pada bagian tepi dataran pantai pasir tepat di belakang platform koral dijumpai tebing rendah yang memanjang setinggi sekitar 70 cm yang diduga muncul sebagai akibat abrasi air laut. Endapan tsunami 1907 berupa pecahan-pecahan koral yang bercampur pasir dan lumpur rawa yang diendapkan diatas platform koral mid-Holosen dijumpai pada saat sisi tebing dikupas. Daerah Naibos juga terlanda tsunami pada Desember 2004 dan Maret 2005 yang meninggalkan endapan pasir setebal 15 hingga 20 cm.

Perbedaan karakter endapan tsunami 1907 dengan tsunami 2004 dan 2005 ialah endapan tsunami 1907 berupa material berukuran kasar sedangkan endapan tsunami 2004 dan 2005 berupa material yang lebih halus (pasir, lanau) yang mungkin merupakan indikasi bahwa gelombang tsunami 1907 yang melanda daerah ini memang lebih besar dari tsunami 2004 dan 2005. Berdasarkan keterangan dari penduduk, tinggi gelombang (run-up) tsunami 2004 dan 2005 diperkirakan sekitar 2 hingga 3 meter.

diambil dari sebuah riset: https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:msHBbzlXRw4J:www.jtic.org/phocadownload/archived_old_files/pdf/SMGBab3.pdf+seismic+history+and+seismotectonics+of+the+sunda+arc&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESjEdljZ-4sBlbATF1jzm5D6yyIM2bxbqUGfRNZh34-7XlUvq7vaHlGhFQD3b9tVhInVBYA_5iEzSt41uhQTYVptVbKs4wATfeKiu-uqGGV_oUjslSMR75LMTHeZv8HXywKu0i8w&sig=AHIEtbRb7qgL1fj3v5TfXyqSCSERjKzWlw