Sesaat setelah Gempa Aceh 2004 dan gempa Yogya 2006, siklus gempa menjadi sebuah perhatian serius dari para periset gempa. Kalau di patahan sumatera dan zona subduksinya, terutama segmen siberut mentawai adalah tempat yg risetnya paling lengkap sehingga ketemu periodesasi siklusnya. Entah kapan energi itu akan keluar, DR Danny Hilman yg meriset di sana hampir 20 tahun tidak bisa memastikan apakah besok, lusa, setahun, atau sepuluh tahun lagi, walaupun segmen itu masuk periode siklus. Lain sumatera lain pula segmen lampung – selat sunda, selatan Jawa dan jawa tengah. Irwan Meilano dkk dengan dibantu GPS dan teknologi lainnya serta metode paleotsunami, berhasil menemukan siklus gempa di segmen itu. Bahkan bersama tim kebumiannya seperti DR Eko Yulianto dkk, mereka mampu membuktikan sesar darat “Lembang” dan “Cimandiri” memang aktif.

MEWASPADAI SIKLUS GEMPA 1875

Bagaimana dengan Yogya dan Jawa tengah? Staf pengajar Geofis-ika dan Me-teorologi, Institut Teknologi B-an-dung yang juga anggota tim 9 peta gempa , Wahyu Triyoso, pada tahun 2006 mulai mengungkapkan periodesasi gempa yogya dan Jateng. Menurutnya: pola kerusakan gempa 27 Mei mirip de-ngan gempa yang terjadi 4 Januari 1840 di Bantul dan Klaten. Gempa ini dicatat dalam buku Sejarah Gempa karya New Comb dan Mc. Com yang terbit 1987.

Doktor dari Institut Riset Gempa, Uni-versitas Tokyo, ini menunjukkan gempa tersebut ternyata melahirkan gempa susulan. Gempa susulan ini arah dan guncangannya makin luas. Gempa 1840, kata dia, disusul gempa 20 Januari 1867 yang meninggalkan area kerusakan yang jauh lebih besar. Gempa berikutnya, 28 Maret 1875, jauh lebih besar lagi. Dia khawatir satu gempa di Yogya-kar-ta ini akan memicu sistem gempa yang berdekatan.

Saat itu Wah-yu mendesak pemerintah membuat peta sesar aktif yang ada di seantero Jawa dan Sumatera. Di Jawa ada beberapa sesar penting, di antaranya sesar Cimandiri di Pelabuhan Ratu (Sukabumi) dan sesar Lembang di Bandung.

Menurut Wahyu, ada metode pemetaan sesar yang biasa dila-kukan Jepang dan Amerika Serikat. Car-anya, air disuntikkan ke sesar. Selanju-tnya, air akan merembes memenuhi ruang kosong sesar dan memicu gempa m-inor yang hanya dapat dicatat oleh alat pe-mantau. Wahyu pernah ikut mengerja-kan penyuntikan ini.

Lewat serangkaian penghitungan itu bisa ditentukan posisi sesar dan derajat keaktifannya serta potensi kekuatan gempa ditimbulkan. Jika peta sesar itu sudah ada, “Pemerintah bisa memberikan peringatan dini potensi gempa.”

Wahyu Triyoso secara serius memetakan perubahan stress static berdasarkan kombinasi data model fault, katalog gempa bumi dari 1964 – 1999, dan data GPS. Hasilnya Ia dapat mengidentifikasi kemungkinan adanya
Seismic Gap disekitar Off Cost Sumatra Selatan “Bengkulu-Lampung”, Area Sekitar Selat Sunda dan Area disekitar Kejadian Gempa 1875 yg sangat merusak kota jawa

Menurut wahyu, Berdasarkan Indikasi aktifitas kegempaan akhir-akhir ini, sangat dimungkinkan
bahwa ancaman gempa besar dengan ~ M8.0 sd M8.5 disekitar area diatas. Mitigasi, Warning dan Awerness masyarakat disekitar pantai selatan Jawa Barat sampai dengan Bengkulu sangat diharapkan, dikarenakan daerah tersebut merupakan Seismic Gap yang mana energy strain belum terlepaskan dalam bentuk “Gempa Bumi”.
Tsunami sangat besar kemungkinan terjadi jika kita mengalami gempa dengan diatas M8.0.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.