Tim katastropik purba terus melakukan riset dan pengumpulan data2 tentang kebencanaan masa untuk melengkapi katalog kegempaan yang ada. Seperti kita diketahui bersama bahwa salah satu upaya mengumpulkan data kebencanaan juga berbarengan dengan temuan-temuan bangunan, artefak penting sebagai saksi kunci kebencanaan yg terjadi maupun kemajuan peradaban yang ada.

Dalam kurun waktu 10 tahun ini pun, Banyak gempa besar yang mengguncang Indonesia. Jika diurutkan dari utara, maka urutannya adalah Aceh, Nias, Padang, Bengkulu, Tasikmalaya, Ciamis, Jogja dan Mentawai. Jika kita urutkan rangkaian kejadiannya, ada daerah yang masih merupakan seismik gap, yaitu Lampung & Selat sunda. Memang, kita mesti bersyukur karena selama ini, gempa belum terjadi daerah Lampung. Namun pertanyaannya seberapa besar ancaman gempa di Lampung.

Banyak sumber gempa di Lampung, diantaranya adalah penunjaman lempeng Indo Australia terhadap Lempeng Eurasia, Sesar Semangko, dan Sesar Tarahan. Dilihat dari kejadian gempa selama ini, patut diperhitungkan kemungkinan sedang terjadi penumpukan enegi yang cukup besar di daerah Lampung. Apalagi Lampung di tunjam lempeng dari dua arah yaitu dari selatan dan dari barat. Berbeda dengan derah lain. Di Pulau Jawa, penunjaman dari arah selatan sedangkan di Sumatera penunjaman terjadi dari arah barat.

Patahan Tarahan yang melewati kota bandar lampung merupakan patahan aktif dimana sisi barat daya patahan bergerak melipat kearah timur laut. Akibat tekanan pergerakan lempeng yang luar biasa besar dan terjadinya fisure rekahan dalam yang bersuhu tinggi menyebabkan daerah itu banyak ditemukan material kuarsa disekitar daerah gunung Langgar, Bandar Lampung oleh tim katastropik purba.

Banyak yang tidak mengetahui dimana posisi gunung langgar ini. Karena selama ini perhatian lebih tertuju pada gunung-gunung api besar yg pernah meletus dahsyat seperti Krakatau, Gunung Rajabasa, Suoh, ulu belu, dan gempa darat Liwa dan sekitarnya. Padahal ada banyak bukit dan gunung di lampung. Selama ini perhatian pada gunung yg tidak pernah meletus sangat kurang. Bahkan jika diketahui kandungan batu atau pasir , justru dieksploitasi secara massive.

Tim katastropik purba dalam riset awal kebencanaan di lampung seperti dikemukakan di atas, menemukan beberapa bukti kegempaan di masa silam di daerah rekahan2 dari aktifnya patahan Tarahan yang melintasi kota Bandar Lampung. Patahan patahan tersebut merupakan sumber gempa yang patut diwaspadai.

Tanjung Karang Timur

Tanjung Karang Timur


Di dekat perbatasan Bandar Lampung dan Lampung selatan tepatnya di kelurahan sukabumi kecamatan Sukabumi Bandar Lampung, Tim Katastropik selain menemukan fakta2 rekahan, juga menemukan satu gunung yang dari studi awal secara hipotetik terjadi anomali morfologi diduga man made structure. Terlihat banyak kesamaan dengan riset di gunung sadahurip dan lainnya. Menurut masyarakat nama gunung itu adalah gunung “langgar”. Seringnya perubahan nama gunung dan bukit, tim katastropik purba belum bisa menyimpulkan apa nama gunung itu aslinya.
Bukit Langgar

Bukit Langgar


Saat ini tim teknis survey sedang persiapkan riset lebih lanjut tentang temuan menarik yang diduga piramida (man made structure) di bandar lampung. Seperti juga temuan di tempat lain, jika seratus persen “man made” akan banyak membantu menjawab. Bagaimana sebuah peradaban dan kebencanaan itu memang selalu beriringan. Kita tahu bahwa di lampung selatan, lampung Timur dan Lampung utara sudah pernah ada temuan2 artefak yg terkubur sebelumnya.

Gunung “langgar” diharapkan mengingatkan peristiwa gempa yng terjadi akibat sesar Tarahan. Sesar ini merupakan sesar lokal yang terjadi akibat penunjaman lokal di Lampung itu sendiri. Seberapa besar gempanya, belum ada yang memprediksi. Seperti beberapa sesar yg mulai aktif, sesar ini pun sedang mengalami penumpukan energi. Yang lebih harus dicermati lagi , sesar ini melintas tepat di Kota Bandar Lampung, dan Natar. Daerah yang berpenduduk padat di provinsi Lampung.

USGS

USGS


Gempabumi adalah proses alam yang mempunyai perulangan kejadian.
Gempabumi masih sukar untuk diramalkan kapan jatuh temponya, pengamatan dengan menggunakan teknologi jaringan Continuous GPS dan jaringan Broadband Seismograph diharapkan cukup untuk melakukan prediksi gempa jangka pendek ini. Tapi yang lebih penting, dengan memahami potensi gempa di masa datang kita bisa bersiap-siap untuk mengurangi dampak bencana yang ditimbulkan.

Bencana memang tidak bisa kita hindari, namun bisa kita meminimalisasi dampak yang terjadi

Untuk itu perlu ditekankan pentingnya pendidikan kewaspadaan dini terhadap bencana. Apabila kita bisa belajar dari bencana yang telah lalu. Penanganan yang tepat, bisa menyelamatkan banyak jiwa. Mudah2an pengungkapan “Gunung langgar” akan mengingatkan kembali memori tentang peradaban maju masa lalu serta bencana yg menguburnya. (Tim riset awal: DR.Didit, M.Defta, Jhonson Pasaribu, Zainal Asikin)