DR Wahyu Triyoso adalah salah satu periset yang tergabung dalam tim Katastropik purba. Pengajar di jurusan Geofisika ITB dan GREAT ITB ini berhasil menemukan jejak sungai purba di beberapa segmen dataran Sundaland yg sangat luas itu.

Selama ini perdebatan tentang apakah ada dataran Sundaland dan peradabannya menjadi perdebatan serius di kalangan masyarakat akademik dan masyarakat dunia.

Berikut penjelasan singkat DR Wahyu Triyoso: Ini adalah gambaran time slice sekitar two way time 100 msec seismic data.

Kira kira coincide dengan jaman yg dimaksud oleh Openheimmer maupun hipotesa Alm Prof Santos. Artinya yang mereka hipotesakan adalah nyata.

Sungai purba ini berada dalam kisaran di saat ketinggian air laut berada di bawah 132 meter dari saat ini (dalam 20 ribu tahun terakhir openheimer dan juga santos menyimpulkan ada beberapa banjir besar yang mendadak yang mengakibatkan air laut mendadak naik drastis, dan ada peradaban terkubur serta ada migrasi genetika).

Jejak Sungai purba bukan sikap latah sekedar pembuktian hipotesa Sundaland. Jika kita tarik dan kita refleksikan ke “hazard purba”, kita musti mulai merenungi gagasan “punctuated unifomitarianism” secara lebih serius.

Target dan fokus utamanya adalah mapping dan mengkuantifikasi paleo hazard atau hazard purba. GeoScientist musti bersinergi dengan arkeolog dan sosiolog. Workflownya, dalam filosofi bencana ada dua hal yang penting.

Yang pertama adalah sumber bencana. Yang kedua, adalah efek yg ditimbulkan. Untuk jaman recent atau sekarang, kita bisa estimasi sumber dan kita mencoba mengestimasi efeknya.

Untuk jaman baheula, kita butuh informasi dari disiplin lain. Arkeolog or Sosiolog misalnya. Sebagai gambaran, runtuhnya budaya yang tiba-tiba atau missing dari sejarah jika bisa dilokalisir oleh arkeolog dan sosiolog itu bisa jadi gambaran efek dari satu bencana.

Dengan prinsip reverse extrapolation, kita bisa menjejak sumbernya. Dari semua itu diharapkan kita memiliki gambaran peta PSHA purba seperti yang digarap Tim 9 diera sekarang. (lap har)