Sejak dilakukanya paparan terbuka yang dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari ahli dari berbagai disiplin illmu, terkait temuan awal di beberapa objek penelitian, termasuk di situs Gunung Padang & Sadahurip oleh Tim Katastropik Purba yang diwakili oleh DR.Andang Bachtiar dan DR.Danny Hilman Natawidjaja di Gedung Krida Bakti pada Seminar Nasional 7 Febuari 2012 yang lalu. Beberapa instansi di pemerintah telah merilis pernyataan untuk melakukan pendalaman.

Apalagi pada 9-10 Febuari 2012 di Bali, Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam beserta Tim Katastropik menjadi keynote speaker pada International Conference yang diselenggarakan oleh FIB Universitas Indonesia dan berbagai periset Internasional, termasuk penulis buku induk DNA semua bangsa di Dunia & “eden of the east”, Prof.Oppenheimer dari Oxford University.

Dalam international conference tersebut, hasil hasil riset Tim Katastropik, mendapatkan apresiasi yang luar biasa, bukan saja oleh para intelektual dalam negeri seperti Rektor Universitas Indonesia, Arkeolog Senior Prof Arismunandar dan lain-lain tetapi juga para periset dari LN seperti Prof.Oppenheimer.

Untuk mengapresiasi perhatian dari kementrian dan instansi terkait terhadap hal penelitianya, berdasarkan informasi yang redaksi dapatkan, Tim Katastropik Purba dalam minggu ini akan memberikan hasil atau laporan resmi riset mereka kepada Mendikbud, Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif, Menristek, Institusi kebencanaan dan lain-lain. Termasuk laporan untuk hasil riset di Gunung Padang dan Sadahurip yang menerbitkan antusias masyarakat yang cukup luar biasa.

Menurut informasi dari koresponden SigapINFO, sejak rilis resmi dalam Seminar Nasional di tanggal 7 Febuari 2012, kunjungan masyarakat ke situs Gunung Padang melonjak pesat. Hari ini saja (12/02) diperkirakan pengunjung situs mencapai lebih dari 1000 orang. Ini merupakan sinyal positif, apresiasi masyarakat terhadap kekayaan peradaban masa lalu bangsa Indonesia masih sangat tinggi.

Apakah temuan awal dari Tim Katastropik ini akan memancing gelombang baru temuan-temuan lain di Indonesia yang akan memberi pengaruh besar dalam dunia ilmu pengetahuan dunia? mari kita tunggu bersama.

Highlights dari Hasil Serasehan & Seminar Nasional, 7 Febuari 2012 (DR.Danny Hilman Natawidjaja) :

1. Hasil penelitian di Banda Aceh, Batujaya, dan Trowulan memperlihatkan keterkaitan antara sejarah peradaban dan bencana alam. Apabila masyarakat tahu tentang bencana masa lalu yang pernah menghancurkan negerinya seperti kasus tsunami Aceh pada Abad 14 dan 15 maka tidak akan terjadi banyak korban pada tahun 2004 yang banyak disebabkan oleh ketidaktahuan ini.

2. Situs sejarah yang dianggap banyak arkeologi penelitiannya sudah ‘selesai’ seperti Trowulan ternyata masih menyimpan banyak misteri sejarah yang terpendam di bawahnya. Hal itu hanya dapat terkuak oleh metoda “arkeo-geologi”. Demikian juga banyak situs yang terlihat menyembul hanya beberapa meter dipermukaan dan oleh para ahli arkeologi hanya di trenching 1-2 meter saja ternyata menyimpan tubuh bangunan sampai kedalaman 15 meter bahkan lebih -kemungkinan menyimpan misteri sejarah peradaban kuno yang berlapis-lapis.

3. Hasil survey Geolistrik, Georadar, Geomagnet dan pemboran menunjukan bahwa situs Megalitik Gunung Padang tidak sesederhana seperti yang sudah diketahui orang tapi sangat luarbiasa. Di bawah situs yang terlihat dipuncak bukit ternyata ada struktur bangunan, paling tidak, sampai kedalaman 20 meteran dari puncak seperti yang terlihat dari geolistrik dan georadar dan sudah diverivikasi oleh data pemboran. Dari data geolistrik diduga kuat bahwa struktur bangunan ini sampai memenuhi seluruh bukit dari puncak hingga level tempat parkir, atau kurang lebih 100 meteran tingginya

4. Hasil penelitian di Gunung Padang menunjukkan bahwa peradaban Indonesia pada masa 4700 SM sudah demikian tinggi. Ini adalah bukti nyata yang pertamakalinya ditemukan di Indonesia. Hal ini diharapkan menjadi pioneer untuk menguak masa Pra-Sejarah Indonesia yang masih gelap tapi sepertinya sudah divonis primitive itu oleh banyak orang termasuk para ahli arkeologi.

5. Temuan Gunung Padang ini sejalan dengan hasil riset Oppenheimer bahwa Bangsa Nusantara sejak sebelum 10.000 tahun lalu merupakan pusat teknologi pertanian, peternakan, dan pelayaran untuk wilayah Asia-Pasific, dan bahkan Dunia.

6. Dari aspek mitigasi bencana, temuan adanya hamparan pasir dikedalaman 3-5 meter dibawah Situs bagian atas boleh jadi merupakan warisan ‘kearifan masa lalu’ dalam mengantisipasi bencana akibat goncangan gempa (dari Patahan Cimandiri).

7. Ada kesamaan karakter dan geometri dari struktur resistivity Gunung Sadahurip dan Gunung Padang, selain banyak fenomena unik di Sadahurip yang (masih) sukar untuk dijelaskan oleh proses dan bentukan geologi. Oleh karena itu penelitian di sana perlu dilanjutkan untuk memperoleh hasil yang lebih terang.

*Catatan: DR.Danny Hilman Natawidjaja (Puslit Geotek LIPI, Pendiri Graduate Research on Earthquake and Active Tectonics ITB), Anggota Tim Katastropik Purba dari Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial & Bencana Alam.

Iklan