Jakarta, 11/2 (SIGAP)- Saresehan “Menguak Tabir Peradaban dan Bencana Katastropik Purba di Nusantara untuk Memperkuat Karakter dan Ketahanan Nasional” Tgl 7 Februari kemarin berlangsung dengan sangat meriah dihadiri oleh sekitar 500-an pengunjung dari berbagai kalangan dan juga bidang keilmuan.

Luarbiasanya lagi, sebagian besar pengunjung setia duduk dari pkl 9 pagi sampai selesai (pkl 16:00), Sebagian sudah datang sejak pkl 7 pagi, dan sebagian tidak kebagian makan siang, namun tetap rela duduk sambil menahan lapar sampai sore. Uniknya saresehan ditutup tanpa sesi kesimpulan, mungkin panitia lupa mempersiapkan dan melakukannya, karena terlalu excited dengan jalannya saresehan, bisa jadi, yang kata peserta seru. Jadi, tulisan berikut harapan kami akan bisa menyusulkan informasi, bagi yang tidak datang sebagai sebuah resume.

Presentasi dimulai dari perkenalan tentang Tim Bencana Katastropik Purba, yang berisi pemaparan apa, siapa, visi, konsep, hipotesa kerja, metoda, dan goals. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi singkat oleh Danny Hilman Natawidjaja (DHN ) dan Andang Bachtiar (ADB) tentang hasil penelitian di Banda Aceh, Batujaya, dan Trowulan.

DHN presentasi tentang temuan dua gempa besar yang terjadi sekitar tahun 1390 dan 1440 M di Aceh yang diikuti tsunami sebesar yang terjadi pada tahun 2004. Bukti berupa data pengangkatan dari koral mikroatol di P. Simelue dan lapisan endapan tsunami yang ditemukan di dekat Kota Banda Aceh.

Pada lapisan tsunami banyak ditemukan artefak-artefak keramik. Dua bencana tsunami ini diduga berperan besar dalam keruntuhan kerajaan Samudra Pasai yang kemudian diikuti dengan kemunculan Kerajaan Iskandar Muda. Adanya ‘diskontinuitas’ dari peralihan dua kerajaan ini banyak membuat para sejarawan bingung. Baru mereka mengerti setelah tahu peristiwa bencana tsunami ini. Sebetulnya ‘kenangan’ tentang bencana tsunami ini masih ada dalam masyarakat Aceh sekarang yaitu dengan adanya istilah IEU-BEUNA (Airbesar) namun sayangnya mereka sudah tidak paham lagi apa maksud dari kata tersebut, hingga terjadi lagi bencana serupa tahun 2004.

Selanjutnya ADB mempresentaskan tentang penelitian di Situs Batujaya, Krawang. Survey Georadar memperlihatkan bahwa di beberapa situs bangunan batubata merah yang hanya tersembul beberapa meter saja dipermukaan ternyata dibawahnya ada bangunan yang terkubur sampai 15 meter yang bisa merupakan bagian bangunan dengan umur sama (Abad 4 Masehi) atau peninggalan peradaban yang lebih tua lagi. ADB juga menguraikan bahwa di sekitar situs ditemukan endapan marin (laut). jadi dulunya situs ada di dekat garis pantai. ADB juga memperlihatkan sayatan horizontal dari hasil survey seismic 3D di utara Jakarta yang memperlihatkan jejak sungai purba dengan jelas sekali, dan mengemukakan pentingnya dunia industri minyak menyumbangkan data seismic hanya sebatas data Pleistosen-Holosen yang tidak ada gunanya untuk ekslorasi minyak, tapi akan banyak manfaatnya untuk penelitian pemetaan Patahan Aktif, pemetaan paleogeografi, kebencanaan, dll.

Terkait Trowulan, ADB memperlihatkan bahwa dari hasil survey Georadar dan pemboran tangan dangkal juga analisa carbon dating ditemukan bahwa (jejak) kanal besar yang disimpulkan oleh para arkeolog dibuat pada Jaman Majapahit, ternyata posisinya ada di bawah “ketidakselarasan” struktur batamerah Majapahit di (dekat) permukaan, atau dengan kata lain kanal itu dibuat oleh peradaban sebelum Majapahit.

Hasil carbon dating menunjukan bahwa umur dari lapisan peradaban di bawah Majapahit itu sekitar 600 SM (kelahiran Budha). Dari berbagai singkapan karena penggalian tanah yang diambil untuk industri pembuatan bata ditemukan banyak struktur sisa bangunan dari batamerah di bawah lapisan Majapahit yang tertimbun oleh endapan lumpur mirip LUSI. Di singkapan lain ada juga reruntuhan batamerah (pra-Majapahit) yang tertimbun endapan seperti lahar.

Sesi Gunung Padang, Luthfi Yondri, arkeolog yang meneliti Gunung Padang, memaparkan tentang sejarah penemuan situs dan hasil penelitian arkeologi, yaitu sebatas bahwa situs Gunung Padang di Cianjur adalah Situs Megalitikum yang ‘sederhana’ terdiri dari kolom-kolom andesit/basalt yang ditata membentuk teras-teras di atas puncak sebuah bukit.

Siapa yang membuat, bagaimana membuatnya, darimana source kolom-kolom andesit-basaltnya dan kapan dibuatnya belum diketahui, kecuali hanya dikira-kira berdasarkan perbandingan dengan situs-situs megalitik lain dan frame-time arkeologi Indonesia, yaitu sekitar 2500 tahun SM. Untuk diketahui, Lutfi Yondri sesungguhnya memiliki data actual yang cukup menarik dari trenching yang pernah dilakukannya tahun 2000-an.

Dari trenching sedalam sekitar 2 meter di Teras pertama dia menemukan bahwa setiap kolom andesit yang ditumpuk-tumpuk terbungkus oleh satu lapisan seperti tanah. Disampaikam Lutfi Yondri, sudah dikonfirmasi ke para geolog, tentang bungkus tanah tersebut, namun tidak mendapat jawaban yang memuaskan.

Dalam pandangan kami, itu bisa jadi merupakan semacam semen purba. Semen antar kolom andesit itu malah masih bisa dilihat pada dinding-ramp antara Teras satu ke Teras dua. Sungguh disayangkan hasil trenching dan kolom andesit yang seperti dibungkus tanah tersebut tidak ditampilkan di saresehan, padahal menurut kami sungguh sangat menarik.

Pon Purajatnika, mantan Ikatan Ahli Arsitektur JABAR, mempresentasikan penelitiannya di Gunung Padang yang sudah dilakukannya sejak tahun 2008. Menurut Beliau, konstruksi tumpukan batu G. Padang bukan pekerjaan sembarangan tapi hasil olah arsitektur yang luar biasa. Setelah dilakukan studi banding ke Michu-Pichu (bangunan Piramid Maya di Peru), beliau berkesimpulan bahwa arsitektur G.Padang persis sama dengan Michu Pichu. Beliau juga sudah membuat rekonstruksi Situs Gunung Padang di atas bukit. (kami tahu beliau sudah membuat sketsa imajiner arsitektur G.Padang dari puncak sampai dasar Sungai Cimanggu ~200m – Yaitu sebuah Piramid – ala Maya – yang sangat besar, tapi entah kenapa tidak beliau perlihatkan di seminar).

DHN memberikan presentasi tentang analisis morfologi G. Padang yang jelas memperlihatkan G.Padang seperti sebuah tumor besar di kaki sebuah punggungan dari Gunung Karuhun (perbukitan tinggi di Selatan G.Padang). Artinya, interpretasi geologi yang paling mungkin adalah Gunung api purba atau intrusi batuan beku. Tapi apakah demikian ? Hasil survey lintasan Geolistrik (menggunakan SuperSting R8) tidak mendukung interpretasi geologi ini.

Ada beberapa lintasan geolistrik yang dibuat : 2 lintasan dengan spasing elektroda 3m dan 8m untuk penampang Utara-Selatan, 3 Lintasan dengan spasing elektroda 1m, 4m, 10 meter untuk penampang Barat-Timur, (catatan: spasing elektroda 3m dengan jumlah electrode 112 depth of penetrationnya ~60m, yang 8m sampai 200 m-an). Singkatnya, data geolistrik tidak memperlihatkan struktur intrusi magma, volcanic plug ataupun gunung purba, melainkan satu geometri yang sangat unik dan sepertinya tidak alamiah. Inti gambaran subsurface Gunung Padang. Dari atas 0 – ~20m adalah lapisan horizontal dengan resistivity ratusan Ohm-meters. Di bawah itu ada lapisan dengan resistivity ribuan Ohm-meters (warna merah) dengan tebal sekitar 20-30meter, miring ke Utara tapi anehnya bagian atas lapisan miring ini seperti TERPANCUNG RATA (di kedalaman 20 meteran itu) dan membaji pas di ujung selatan Situs.

Hal ini mengindikasikan bahwa dari depth 20 meter ke atas adalah man-made structures. Lapisan merah diduga adalah batuan keras massif – batuan andesit-basalt. Di bawah lapisan merah adalah lapisan batuan yang low-resistivity – kemungkinan berpori dan ber-air. Tapi yang unik adalah adanya bentukan biru besar membulat di bawah situs yang sangat rendah resistivitasnya (mendekati 1 atau true conductor). Keunikan tidak berhenti di situ, di bawah si biru bulat itu ada lapisan dengan resistivitas tinggi (merah) – batuan keras yang berbentuk seperti cekungan atau “cawan raksasa” yang posisinya kira-kira sekitar 100 meter dari puncak atau sedikit di bawah level tempat parkir di permulaan tangga untuk naik ke situs. Penampakan cawan ini sangat konsisten terlihat di lintasan Utara-Selatan dan Barat-Timur. Sama sekali tidak terlihat ada indikasi “feeding dukes” atau leher intrusi di Penampang geolistrik.

Dugaan lapisan 20 meter ke bawah dari atas situs adalah man-made structures ditunjang oleh Survey GPR di atas Situs. Survey GPR dilakukan berbagai lintasan di semua Teras 1-5 dengan memakai antenna MLF 40 MHz dari SIR-20 GSSI yang dapat menembus kedalaman sampai sekitar 25-30 meteran. Dari survey GPR terlihat ada bidang very high reflector di kedalaman sekitar 3-5 meter dari permukaan di semua teras. Bidang ini sangat horizontal dan juga membentuk undak-undak seperti situs di atasnya.

Dibawah bidang ini struktur lapisan tidak kalah unik. Ada lapisan melintang yang memotong lapisan-lapisan horizontal – tidak mungkin ada struktur geologi seperti ini apalagi di bukit ‘vulkanik’. Singkatnya, penampang georadar sangat mendukung interpretasi struktur bangunan sampai kedalaman 20 m. Struktur dibawah situs ini berundak juga mengikuti struktur teras situs yang terlihat di permukaan. Dari berbagai lintasan geolistrik 2D sangat mungkin bahwa sampai ke kedalaman sekitar 100 meter, yaitu sampai ke struktur batuan keras berbentuk Cawan adalah bangunan atau paling tidak tubuh batuan alamiah yang sudah dipermak manusia.

Lebih lanjut lagi, DHN juga mempresentasikan hasil survey geolistrik 3-D pada situs di atas puncak yang dimaksudkan untuk mendapatkan sub-surface structure yang lebih detil. Survey 3-D ini mencakup hamper seluruh luas situs (memakai spacing 5m dibuat 4 lines Utara Selatan dengan electrode 112 buah – atau setiap line ada 28 electroda). Depth of dari survey 3-D ini mencapai kedalaman 25 meteran. Hasil 3-D dapat meng-iluminasi struktur di bawah situs dengan baik. Yang membuat kami semua terkesima adalah kenampakan tiga tubuh very-high resistivity (lebih dari 50.000 ohm.m) di bawah Teras 1, 2, dan 5. Dengan nilai resistivitas setinggi ini kemungkinannya ada dua: tubuh sangat solid/pejal atau merupakan ruang (“CHAMBER”). Yang paling mungkin adalah Ruang hampa udara (“The Chamber of secret”). Dimensi chamber tersebut kelihatannya sangat besar!

DHN juga memperlihatkan hasil survey geomagnet yang dilakukan dengan peralatan GEM Overhauser yang sangat sensitive yang biasa dipakai untuk survey arkeologi.

ADB kemudian mempresentasikan hasil pemboran di Gunung Padang. Ada dua titik yang kami pilih: Bor satu di ujung Selatan Teras 3, Bor ke dua di samping Selatan Teras 5. Sebenarnya dua lokasi bor yang dipilih bukan titik “Jack-pot” yang seharusnya di-bor, misalnya persis di atas Chamber atau anomaly high magnetic-nya. Hal ini dikarenakan lokasi-lokasi ini di atasnya dipenuhi tumpukan kolom andesit situs yang TIDAK BOLEH DIPINDAHKAN. Kami mendapat ijin bor dari pihak berwenang tapi belum diperbolehkan untuk memindahkan bebatuan situs. Walaupun demikian, hasil pemboran sudah cukup untuk membuktikan dugaan struktur bangunan dan juga sukses dalam mengkalibrasi hasil survey georadar dan geolistrik.

Pada Lubang Bor 1 : dari permukaan sampai kedalaman kira-kira 3 meter terdapat perlapisan susunan kolom andesit 10-40 cm (yang dibaringkan) diselingi lapisan tanah. Setiap kolom andesit ini dilumuri oleh semacam semen (sama seperti yang ditemukan oleh Arkelog Lutfi Yondri sewaktu melakukan trenching tahun 2000 sampai kedalaman 1.8 meter). Sewaktu menembus 3 m kami mendapat surprise karena tiba-tiba drilling loss circulation dan bor terjepit. Yang dijumpai adalah lapisan pasir-kerakal SUNGAI (epiklastik) yang berbutir very well rounded setebal 1 meteran (Note: Rupanya bidang tegas yang terlihat pada GPR itu di kedalaman 3-5 meter di semua Teras adalah batas dengan permukaan hamparan pasir ini).

Menurut Pak Pon yang ahli arsitek, boleh jadi hamparan pasir ini dimaksudkan sebagai peredam guncangan gempa. Kalau benar demikian, alangkah hebatnya para leluhur pembuat bangunan ini.

Sesi Sadahurip, setelah makan siang saresehan dilanjutkan dengan Topik yang paling diramaikan orang, yaitu, Sadahurip. Pembicaranya, Pak Sujatmiko, Pak Awang, dan DHN. Pak Sujatmiko menyampaikan hasil penelitian kilatnya, yaitu pengamatan singkapan di sekitar Gunung Sadahurip. Singkat kata menurut keyakinan beliau, dari jenis batuan yang tersingkap dan morfologi bukit serta posisi geografisnya, disimpulkan tanpa ada keraguan bahwa Bukit Sadahurip adalah bentukan biasa di komplek gunung api. Kemungkinannya dapat merupakan lava dome, atau tubuh gunung api purba. Beliau juga menambahkan adalah sangat sia-sia memakai peralatan survey macam-macam karena dengan prinsip geologi dasar saja sudah cukup untuk tahu isi bukit, percuma kuliah geologi, dikatakannya, kalau tidak dapat menyimpulkan fenomena begitu saja.

Pak Awang dalam presentasinya tidak sependapat dengan Sujatmiko ( Pak Miko). Menurut beliau fenomena Bukit Sadahurip bukan perkara mudah. Jika dikatakan bukit itu adalah gunung api purba, lalu mana kawah (“crater”) nya. Lantas jika dibilang itu adalah intrusi magma atau volcanic plug, dimana “plug”nya ; pertanyaan berikutnya mengapa bentuknya begituu aneh.

Pak Awang memperlihatkan 3-D Topografi dari bukit sadahurip dan sekitarnya yang dibuat dari DEM. Kemudian, menurut Pak Awang yang lebih aneh dan barangkali malah harus menjadi perhatian menjadi adalah Lembah Rahong yang berada di sebelah timur Sadahurip. Lembah Rahong adalah dataran di bawah tebing andesit berbentuk U menghadap ke Timur (ke punggungan bukit lain di lereng barat Gunung Talaga Bodas). Bentuk dan posisinya aneh dan lebih aneh lagi material/massa yang hilang (“longsor”) di tengah-tengah tebing “U” tersebut sepertinya hilang ditelan bumi, entah kemana. Menurut penduduk setempat tidak pernah ada cerita tentang penambangan di masa lalu dari orangtua-kakek-buyut mereka. Jadi kemana massa andesit Tebing Rahong yang hilang tersebut ?

DHN memperlihatkan peta DEM – IFSAR yang beresolusi 5-m spacing. Image IFSAR ini lebih mempertegas keunikan dari Lembah Rahong. Dalam ulasannya, Sutikno Bronto sampaikan bahwa struktur kawah tidak selalu kelihatan, demikian juga magma plug bisa tidak terlihat. Namun jika memang demikian, apakah jika tandanya tidak terlihat kemudian lantas bisa disimpulkan “barangnya” menjadi ada ?

DHN melanjutkan presentasi hasil-hasil survey geolistrik di Gunung Sadahurip. Sebelumnya dikatakan bahwa presentasi kali ini dimaksudkan utamanya untuk memperlihatkan data-fata hasil penelitian yang sudah dilakukan, bukan presentasi hasil karena penelitian di Sadahurip masih on-going.

Pertama diperlihatkan dua lintasan geolistrik Utara-Selatan dan Barat-Timur dari tebing andesit di Lembah Rahong. Lintasan ini adalah untuk mengkalibrasi alat. Hasilnya, survey geolistrik dapat meng-iluminasi struktur bawah permukaan dari lapisan lava andesit itu dengan baik. Yang menarik, di bawah lapisan lava andesit-basalt itu ada lehernya (= badan intrusi/”vent”), artinya itu bukan hasil aliran lava dari atas (Gunung Talaga bodas) tapi lelehan di permukaan dari intrusi magma (tanpa pencitraan subsurface hal ini sukar untuk diketahui). Lintasan geolistrik di Rahong ini lebih menegaskann bahwa massa dari tebing U yang disinyalir hilang oleh Pak Awang itu juga memang tidak terlihat di bawah permukaan Lembah Rahong. Kemudian di Bukit Sadahurip ada banyak lines 2-D yang sudah dibuat: Untuk penampang geolistrik Timur ke Barat ada .. Lines: 1 Line dengan electrode spacing 3m (56 electroda)), 2 line dengan e spacing 5m (56e + 112e), 1 line dengan e spacing 10m, dan 1 line dengan e spacing 20m yang menembus sampai kedalaman sekitar 350m dari puncak. Untuk penampang geolistrik Utara- Selatan ada.

Lines : 1 Line dengan spacing 3m (56e), 1 line dengan spacing 5m (56e),1 line dengan spacing 10m (56e), dan satu line dengan spacing 5m (112e). Daripenampang geolistrik ini struktur yang paling jelas terlihat dan stabil (selalu ada dan konsisten di semua lintasan dan juga dengan berbagai pemodelan yang di-running puluhan kali) adalah bahwa di bawah Gunung sadahurip ada satu tubuh dengan resistivitas sangat tinggi yang kemungkinan besar adalah batuan intrusi. Uniknya, tubuh batuan ini TERPANCUNG di level sekitar 100-120 meter dari puncak bukit. Lebih uniknya lagi bidang terpancung ini ditengahnya cekung, seperti sebuah kolam/cawan raksasa mirip dengan yang ada di Gunung Padang. Struktur resistivity di atas bidang pancung ini garis besarnya adalah tubuh dengan resistivitas rendah ditengahnya, kemudian di atasnya kembali ada bentukan-bentukan dari tubuh dengan resistivitas tinggi (merah).

Ada beberapa keunikan yang bisa dilihat dari kenampakan struktur resistivitas di dekat puncak sampai kedalaman puluhan meter. Singkatnya, ada kesamaaan pola struktur umum antara Sadahurip dan Gunung Padang, yaitu: bagian atasnya ‘bertopi merah”, di bawahnya si biru yang di alasi oleh cawan merah. Meskipun demikian detil struktur Sadahurip di atas cawannya belum sejelas yang di Gunung Padang.

Eksplorasi lebih lanjut, termasuk pengujian/kalibrasi dengan sumur bor masih diperlukan untuk memastikan apa sebenarnya Bukit Sadahurip itu. Di bagian akhir Saresehan, Pak Sutikno Bronto kembali memberikan ulasannya. Intinya dia berpesan agar hati-hati dalam mentafsirkan geologi/stratigrafi di komplek gunung api karena sangat komplek. Beliau tidak merinci tentang apa struktur komplek yang ditakutkan bisa di-salahtafsirkan itu. Hanya disampaikan, “ Pokoknya komplek.” Terkait ulasan Sutikno Brontpo ini, saya mulai mengerti kenapa di banyak peta-peta geologi sering sekali ketemu yang diberinama “Satuan Gunung Api yang Tidak Teruraikan” termasuk Komplek Sadahurip.

Bagian dibawah kedalaman 4m yang ditembus bor ditemukan berupa selang seling antara lapisan kolom andesit yang ditata dan lapisan tanah-lanau. Lapisan kolom andesit yang ditata itu sebagian ditata horizontal dan sebagian lagi miring (catatan: ini sesuai dengan survey GPR yang memperlihatkan bahwa perlapisan ada yang horizontal dan ada yang miring). Baru dikedalaman sekitar 19 meter bor menembus tubuh andesit yang kelihatannya massif tapi penuh dengan fractures sampai kedalaman sekitar 25 meter (note: sesuai dengan penampang geolistrik bahwa kelihatannya bor sudah menembus lapisan merah yang terpancung itu). Banyak ditemukan serpihan karbon, diantaranya ditemukan di kedalaman sekitar 18m yang lebih menguatkan bahwa lapisan batuan dan tanah yang ditembus bukan endapan gunung api alamiah tapi struktur bangunan.

Bor ke-dua yang dilakukan persis di sebelah selatan Teras 5 menembus tanah, (yang seperti tanah urugan sampai kedalaman sekitar 7 meter, kemudian ketemu batuan andesit keras. Di kedalaman 8 m terjadi hal mengejutkan – Total Loss, 40% air di drum langsung tersedot habis. Hal ini berlangsung sampai kedalaman 10 m. (Note: BINGO! Inilah target utama-nya – tubuh very high resistivity yang terlihat jelas di Geolistrik 3-D). Kelihatannya bor menembus rongga yang diisi pasir (kering) yang luarbiasa keseragamannya seperti hasil ayakan manusia. Di bawahnya ketemu lagi dua rongga yang juga terisi pasir ‘ayakan’ itu diselingi oleh ‘tembok’ andesit yang sepertinya lapuk. Pemboran berhenti di kedalaman 15m.

Hasil preliminary dari analisis carbon radiometric dating dari banyak serpihan arang yang ditemukan dikedalaman sekitar 3.5 m menunjukkan umur Carbon Dating sekitar 5500 tahun yang kalau dikonversikan ke umur kalender adalah sekitar 6700 tahun BP, atau sekitar 4700 SM, jauh lebih tua dari umur Pyramid Giza yangsekitar 2800 SM !

Tidak lupa ADB mengingatkan bahwa kali ini adalah presentasi “preliminary results” (sampai Hari Minggu tgl 5, ADB masih di lapangan, nge-bor). Masih banyak analisis yang sedang dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih solid lagi, termasuk penentuan umur carbon dating dibeberapa horizon stratigrafi.

Sebagai sinopsis, pengeboran berhasil melakukan kalibrasi survey Georadar dan Geolistrik. Satu diantaranya yang penting bahwa tubuh high resistivity yang terlihat di geolistrik adalah rongga yang di lokasi Bor-2 rongga ini sebagian terisi oleh pasir ‘ayakan’ yang sangat kering. (perlu diketahui juga bahwa sudah dilakukan kalibrasi geolistrik di atas gua Jepang. Gua-gua ini terlihat sebagai tubuh dengan nilai resistivitas sangat tinggi (30.000 – 50.000 Ohm.m).

Pokok pikiran dari hasil Sarasehan, bisa disampaikan Pertama, hasil penelitian di Banda Aceh, Batujaya, dan Trowulan memperlihatkan keterkaitan antara sejarah peradaban dan bencana alam. Apabila masyarakat tahu tentang bencana masa lalu yang pernah menghancurkan negerinya seperti kasus tsunami Aceh pada Abad 14 dan 15 maka tidak akan terjadi banyak korban pada tahun 2004 yang banyak disebabkan oleh ketidaktahuan ini.

Kedua, situs sejarah yang dianggap banyak arkeologi penelitiannya sudah ‘selesai’ seperti Trowulan ternyata masih menyimpan banyak misteri sejarah yang terpendam di bawahnya. Hal itu hanya dapat terkuak oleh metoda “arkeo-geologi”. Demikian juga banyak situs yang terlihat menyembul hanya beberapa meter dipermukaan dan oleh para ahli arkeologi hanya di trenching 1-2 meter saja ternyata menyimpan tubuh bangunan sampai kedalaman 15 meter bahkan lebih – kemungkinan menyimpan misteri sejarah peradaban kuno yang berlapis-lapis.

Ketiga, hasil survey Geolistrik, Georadar, Geomagnet dan pemboran menunjukan bahwa situs Megalitik Gunung Padang tidak sesederhana seperti yang sudah diketahui orang tapi sangat luarbiasa. Di bawah situs yang terlihat dipuncak bukit ternyata ada struktur bangunan, paling tidak, sampai kedalaman 20 meteran dari puncak seperti yang terlihat dari geolistrik dan georadar dan sudah diverivikasi oleh data pemboran. Dari data geolistrik diduga kuat bahwa struktur bangunan ini sampai memenuhi seluruh bukit dari puncak hingga level tempat parker, atau kurang lebih 100 meteran tingginya.

Keempat, hasil penelitian di Gunung Padang menunjukkan bahwa peradaban Indonesia pada masa 4700 SM sudah demikian tinggi. Ini adalah bukti nyata yang pertamakalinya ditemukan di Indonesia. Hal ini diharapkan menjadi pioneer untuk menguak masa Pra-Sejarah Indonesia yang masih gelap tapi sepertinya sudah divonis primitive itu oleh banyak orang termasuk para ahli arkeologi.

Kelima, temuan Gunung Padang ini sejalan dengan hasil riset Oppenheimer bahwa Bangsa Nusantara sejak sebelum 10.000 tahun lalu merupakan pusat teknologi pertanian, peternakan, dan pelayaran untuk wilayah Asia-Pasific, dan bahkan Dunia.

Keenam, dari aspek mitigasi bencana, temuan adanya hamparan pasir dikedalaman 3-5 meter dibawah Situs bagian atas boleh jadi merupakan warisan ‘kearifan masa lalu’ dalam mengantisipasi bencana akibat goncangan gempa (dari Patahan Cimandiri).

Ketujuh, ada kesamaan karakter dan geometri dari struktur resistivity Gunung Sadahurip dan Gunung Padang, selain banyak fenomena unik di Sadahurip yang (masih) sukar untuk dijelaskan oleh proses dan bentukan geologi. Oleh karena itu penelitian di sana perlu dilanjutkan untuk memperoleh hasil yang lebih terang. Demikian hasil resume, semoga bisa menampilkan resume yang lebih baik untuk sarasehan-sarasehan berikutnya. (wa)