Ditengah keragu-raguan sejumlah kalangan terhadap kemungkinan bahwa Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat adalah bangunan buatan manusia yang tertimbun oleh lapisan tanah, Tim Katasropik Purba telah meneliti lebih jauh. Hasil pengeboran terhadap gunung tersebut bahkan telah berhasil menemukan bangunan dan ruang-ruang dalam piramida tersebut.

Temuan tersebut merupakan hasil pengeboran yang dilakukan Tim Katastropik Purba beberapa waktu lalu. Politikindonesia.com beruntung ikut menyaksikan langsung pengeboran di Gunung Padang tersebut.

Dari hasil pengeboran dibeberapa titik lokasi yang terpangpang dalam geolistrik yang dilakukan sebelumnya terbukti dalam pengeboran. Hasil Geolistrik yang diduga lorong-lorong ternyata cocok dengan hasil pengeboran. Di salah satu teras yang digali sampai 26 meter, Tim Katastropik menemukan lorong-lorong tersebut berisi pasir halus yang merupakan hasil proses ayakan.

Keyakinan akan adanya piramida di Gunung Padang tersebut semakin tidak terbantahkan, dengan ditemukannya atap piramida Gunung Padang. Atap tersebut ditemukan melalui metode Coring.

Dengan penemuan ini, sulit untuk dibantah bahwa Gunung Padang yang selama ini dianggap sebagai situs megalitikum terbesar dfi Asia Tenggara ternyata di bawah lapisan tanahnya ada bangunan berbentuk piramida raksasa.

Menariknya, bangunan tersebut telah menggunakan teknologi yang mampu meredam gempa.

Uji carbon dating yang di lakukan di kedalaman 6 meter menunjukkan bahwa bangunan itu berusia 6500 sebelum Masehi, lebih tua dari Piramida Giza, di Mesir. Penggalian itu, belum bisa memastikan umur piramida di lapisan bawahnya. Besar kemungkinan usianya jauh lebih tua.

Penelitian secara scientific atas Gunung Padang ini dapat dapat dilanjutkan dengan tahap eskavasi. Sejumlah bukti kuat lainnya juga dikumpulkan oleh Tim Katastropik Purba, akan tetapi hal itu masih dirahasiakan untuk kepentingan penelitian. Hasil penelitian ini dapat mengkalibrasi piramida Sadahurip, meski di Sadahurip akan tetap dilakukan pengeboran.