Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengidentifikasi sedikitnya ada delapan kawasan “seismik gap” (celah seismik) di Indonesia yang saat ini berpotensi mengalami gempa besar dan berpotensi tsunami.

Celah itu termasuk di dalamnya berada di wilayah Jawa Barat. “Delapan celah seismik yang berpotensi tsunami itu terbentang Pulau Sumatera, Jawa, hingga pulau-pulau di sekitar Nusa Tenggara Timur,” terang Direktur Pesisir dan Kelautan KKP Soebandono Diposaptono, Minggu.

Ia menjelaskan, celah seismik pertama berada di sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Barat.

Celah seismik di wilayah ini menurut analisa Soebandono, terpicu oleh gempa bumi berkekuatan 9,1 skala richter (SR) yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tahun 2004 dan gempa Bengkulu tahun 2007.

Sedangkan celah kedua terbentang mulai Lampung sampai sekitar Pantai Pangandaran, Jawa Barat (Jabar).

“Kabupaten Pacitan masuk di celah ketiga, sejajar dengan Cilacap, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Trenggalek. Celah tersebut merupakan berada di antara peristiwa tsunami Jatim tahun 1994 dan tsunami Jabar tahun 2006,” paparnya.

Ke arah timur, celah seismik berada di sekitar Provinsi Bali dan muncul karena gempa di Banyuwangi pada tahun 1994 silam dan Sumbawa Timur tahun 1977. Celah tersebut menurut Soebandono, memanjang sampai ke Samudera Pasifik.

“Kemudian di Selat Ambon, yang Halmahera itu. Tapi jangan lupa juga yang di utara Flores. ‘Flores Back Arch’ yang menimbulkan tsunami Flores tahun 1992,” imbuhnya.

Berdasar catatan KKP, sejak tahun 1600 hingga saat ini telah terjadi 110 kali tsunami di berbagai kawasan pesisir yang berada di jalur pertemuan lempeng, yakni lempeng Eurasia – Indo Australia serta lempeng Eurasia – Pasifik.

“Yang harus dicatat, frekwensi tsunami sejak kurun tahun 1960 hingga sekarang justru meningkat. Total sudah terjadi 23 kali tsunami pada kurun 50 tahun terakhir,” ungkapnya.

Disinggung mengenai gempa bumi dengan kekuatan 7,1 skala richter (SR) yang baru saja melanda Simeulue, Aceh , Kamis (11/1), Soebandono berpendapat bahwa fenomena alam akibat gerakan tektonik dalam perut bumi tersebut tidak akan memicu tsunami. Sebab, gempa tersebut dinilai hanya merupakan gempa susulan.

“Gempa di kawasan celah seismik yang berpotensi tsunami biasanya terjadi dengan rentang waktu lebih dari 100 tahun. Di Aceh saya yakin tidak karena gempa besar yang diikuti tsunami baru saja terjadi,” terangnya.

Ia justru mengkhawatirkan potensi gempa besar dan berpotensi tsunami di sekitar kawasan celah seismik yang berada di Sumatera Barat, Pelabuhan Ratu di Banten, serta selatan perairan Pacitan-Trenggalek.

“Tiga titik celah seismik di tiga wilayah ini patut diwaspadai karena sudah 100 tahun lebih tidak mengalami gempa berskala besar dan berpotensi tsunami. Maaf, bukan bermaksud mendahului kehendak yang di atas, ini hanya analisa teoritis agar masyarakat dan pemerintah lebih waspada,” tutur Soebandono.

sumber: http://www.inilahjabar.com/read/detail/1819262/inilah-celah-seismik-di-ri-yang-rawan-tsunami