Politikindonesia – Graduate Research on Earthquake and Active Tectonics (GREAT) yang bernaung dibawah program studi Sains Kebumian Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Simposium Nasional Hasil Penelitian Gempa Bumi dan Tektonik Aktif. Simposium yang digelar di Aula Barat Kampus ITB Bandung, Selasa (10/01) ini hingga Rabu (11/01) besok tersebut, dihadiri oleh sejumlah pakar ilmu kebumian.

Dalam rilis yang diterima politikindonesia.com, Selasa (10/01), Ketua Program Studi GREAT ITB, DR Irwan Meilano mengatakan, simposium ini merupakan bentuk tanggung jawab GREAT ITB untuk melakukan penelitian-penelitian untuk memahami sumber-sumber gempa bumi. “Hasil-hasil penelitian tersebut diseminasikan kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat umum,” ujar dia.

Kata Irwan, gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat adanya pelepasan energi yang secara langsung maupun tidak langsung berasal dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Fernomena gempa bumi sampai saat ini masih terus dipelajari karakteristik dan mekanismenya.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko akibat kejadian gempa bumi adalah memberikan pemahaman serta pengetahuan tentang fenomena gempa bumi dan langkah mitigasi yang harus dilakukan. “Pemahaman tingkat aktifitas tektonik dan potensi gempa bumi harus dimulai dengan mengkaji beberapa persoalan mendasar,” ujar dia.

Seperti, dimana lokasi dari sesar aktif, seberapa sering sesar tersebut menghasilkan gempa dengan magnitudo besar, kapan gempa yang pernah terjadi, seberapa cepat akumulasi energi akibat regangan tektonik yang terjadi dan bagaimana perilaku gelombang saat gempa serta pengaruhnya pada infrastruktur dan pemukiman. “Ketidakmampuan untuk menjawab persoalan mendasar tersebut, akan menjadi masalah dalam melakukan mitigasi gempa bumi.”

Salah satu langkah gempa bumi, sambung dia, adalah pembuatan peta potensi bahaya gempa bumi untuk mengetahui probabilitas percepatan tanah di permukaan yang berdampak pada bangunan dan infrastruktur.

Dengan mengetahui wilayah-wilayah yang berpotensi tinggi bahaya gempa bumi, diharapkan pemerintah, pengambil kebijakan dan masyarakat untuk lebih siaga menghadapi ancaman tersebut. Misalnya, dengan memperhatikan konstruksi bangunan dan infrastruktur umum lainnya yang aman terhadap goncangan gempa bumi. “PPada hakikatnya, gempa bumi tidak membunuh, akan tetapi kontruksi bangunan yang tidak mampu menahan goncangan yang menjadi resiko utamanya,” tandas dia.