Jakarta, 10/1 (SIGAP) – Finishing riset kebencanaan dan penjelasan scientific anomali Gunung Sadahurip yg diduga kuat “man made” terus “dikebut” Tim Peneliti Katastropik Purba. Bersamaan dengan hal tersebut, Tim bentukan kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) juga secara serius mengamati mata air yang ada di Lembah Batu Rahong.

Seperti diketahui Lembah Batu Rahong adalah Gunung Batuan Rahong yang karena sebuah proses menjadi lembah.

“Diduga kuat materialnya menjadi bahan bangunan di Sadahurip,” ujar Iwan Sumule, salah seorang anggota Tim Peneliti Katastrofik Purba kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

Menurut Iwan Sumule dan Wisnu Agung P, mata air yang ada di bawah Gunung Sadahurip, sedang dalam penelitian intensif, apakah ada hubungan dengan mekanisme yang ada di gunung “man made” Sadahurip.

Berdasarkan hasil IFSAR, lanjut Iwan, ada penambangan bukit sampai terbentuk tebing batu Rahong yang sudah kita lihat dari gambar langsung dan hasil geolistrik.

Kata Iwan, data Ifsar lembah batu Rahong memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan pola kelongsoran tebing alami karena tidak ada tumbukan longsorannya.

Selain itu, volume material di atas elevasi 110 meter dari puncak bukit Sadahurip sama dengan volume yang berkurang dari lembah tebing batu Rahong.

“Mata air dari lembah batu Rahong berkarakteristik air artesis sumur dalam,” ujarnya.

Kesamaan penambangan bukit dan fill untuk gunung Haruman dari lembah kota Limbangan ( Timurnya Nagreg) dan Gunung Kaledong dari lembah Mandalawangi, jelas Iwan, volume materialnya juga sama.

Iwan mengungkapkan, untuk riset air lembah Rahong, sementara ini difokuskan pada gelombang yang berubah ubah karena Amplitudo (AM) atau fasa (FM) frekuensinya beresonansi dengan wadahnya.

Untuk itu, agar terjadi resonansi diberikan sekat membrane logam yang berpori hexagonal dan ditata seperti Mitochondria.
“Kita uji coba dengan frekuensi tetap misalnya gelombang Fibonacci atau Plutna,” katanya.

Pemisah molekular H2 dengan O , tetapi dengan menggunakan frekwensi dengan ukuran Plutna, lanjutnya, memiliki intensitas gelombang transversal dan longitudinal secara berubah-ubah , karena kalau gelombang itu konstan , maka air akan mudah beradaptasi , tetapi kalau berubah-ubah , maka ikatan molekular air akan segera terpecah dengan cepat .

“Tidak bisa konstan di 28 Khz atau di satu gelombang yang sama,” ujar Iwan.

Untuk saat ini, lanjut Iwan, adalah sebuah kewajaran kalau muncul dugaan air di sekitar piramida Sadahurip merupakan air yang bermutu tinggi sebagai sarana akselerasi sel di tubuh manusia.

Sementara untuk uji laboratorium air lembang Rahong, jelas Iwan akan dilakukan untuk melihat kecenderungan antioksidan dan akan dibandingkan dengan air mineral yang ada di Indonesia maupun air di beberapa negara. (lap/har)