“Gunung Padang Cianjur simpan Kedahsyatan Teknologi Masa Lalu”. Sejauh ini orang hanya tahu struktur situs yang dipermukaan saja. Berdasarkan keterangan petugas lapangan di lokasi maupun hasil koordinasi dg Pihak ARKENAS dan Dinas Purbakala, serta berbagai input dari periset sejak jaman Belanda saat situs itu ditemukan, belum pernah menggali lebih dalam dari 2 meter (tidak sampai menembus lapisan batuan keras pertama di bawah permukaan).

Tim Katastropik purba yg melakukan riset menemukan fakta penting bahwa dari georadar ada beberapa bidang diskontinuitas di bawah itu. Bahkan untuk dilapisan batuan keras yang pertama itupun orang belum tahu persis apa (alamiah atau manmade), Dari uji georadar horizon sangat terlihat sangat tegas. Jadi untuk mengetahui lebih jauh struktur bangunan situs dan bahkan juga umur absolute situs ini jika kita bisa dapat hasilpermukaan tanah purba-paleosoil di bawah bangunan.

Oleh karena itu untuk survey lanjuta tim akan membuat trenching sampai kedalaman 5-7 meter adalah hal sangat penting, Diduga kuat, trenching ini bisa sekalian di-“musium”kan dan dijadikan obyek wiasata sangat menarik. Untuk menjadi catatan: sampai saat ini umur situs hanya diduga-duga orang saja, ada yang menyebut tahun masehi jaman kerajaan Galuh, ada yang menyebut 2500 SM, bahkan ada yang menyebut 60.000 thn SM. Perihal umur ini sangat krusial sehingga republik Indonesia dapat meng-klaim atau mengusulkan, misalnya situs ini adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.

Perihal sumber batuan yang dipakai situs ini juga masih merupakan misteri sampai saat ini. Dan hasil geolistrik kita menunjukan kemungkinan bahwa sumbernya dari tubuh batuan dibawah situs ini sendiri yaitu di kedalaman sekitar 10-12 meter itu. Dan yang menarik kalau benar tubuh batuan itu memang dipangkas di atasnya oleh manusia, maka ini juga merupakan hal yang sama sekali luar biasa untuk ukuran kemajuan di zamannya.

Perihal tubuh biru dalam penampang geolistrik di kedalaman 40-100 meter tentu temuan lebih jauh lagi. Interpretasi sederhananya, bisa merupakan reservoir air yang bisa bermanfaat untuk membuat sumur artesis di puncak bukit. Interpretasi lebih imajinatifnya, ya bisa merupakan sesuatu yang dapat membangkitkan energy. Pada saat eskavasi nanti Misteri besar ini akan menguak banyak hal.

Hal lain yang menarik adalah perihal kemungkinan bahwa perbukitan melengkung ke utara di selatan G Padang adalah bentukan sisa Kaldera G Api Purba berumur dua jutaan, dan bahwa G. Padang itu adalah tubuh gunung api lebih muda yang tumbuh di dalam kawah gunung api purba tersebut. Kemudian beberapa kilometer di utara situs terdapat jalur patahan besar Cimandiri yang berarah barat timur, memanjang dari Pelabuhan Ratu ke wilayah Cinajur – Padalarang. Di Utaranya lagi terdapat Komplek Gunung Api aktif: Gede-Pangrango. Info geologi ini tentu sangat menarik dan bisa dikemas dengan baik untuk memperkaya daya tarik situs untuk wiasata-pendidikan kebencanaan dan kepurbakalaan.

Dalam waktu dekat tim katastropik akan berkoordinasi lanjut dengan pihak arkenas, para periset yg pernah meneliti di gunung padang, ahli vulkanologi, pemerintah kabupaten Cianjur dan Pemda Jabar.