Sains telah begitu jauh berkembang. Dan dari perkembangan sains, kita tahu kalau sebagian hasil temuannya bertentangan dengan akal sehat (Kaku, 1994). Apa artinya ruang waktu melengkung? Gak masuk akal kalau bumi itu bulat, tidak masuk akal kalau elektron bisa menjadi gelombang sekaligus partikel, dsb. Tentu saja, kalau sains semata hanya akal sehat, kita sudah tidak perlu lagi belajar sains sejak ribuan tahun lalu.

Cukup memakai otak dan anda tahu semua penjelasannya di alam semesta ini. Sayangnya, kemampuan bernalar setiap orang berbeda. Anda mungkin pernah berusaha menjelaskan sesuatu kepada orang idiot, dan membuat anda frustasi sendiri. Karena bagi orang idiot, penjelasan anda tidak masuk akal.

Saya juga pernah bertemu seorang jenius ber IQ 155. Beliau mengeluh pada saya, betapa sulitnya menjelaskan sesuatu pada orang awam. Untung kita punya sains dengan metode ilmiahnya. Sains menjembatani itu semua. Terlebih lagi pendidikan dan komunikasi sains.
Kemudian saya menemukan seorang pembaca yang kritis memberi saya sebuah link untuk diperiksa. Silakan anda baca, link ini berasal dari web UGM : Ngarayana

Saya merasa ini cukup menantang karena linknya berasal dari UGM. Tapi sungguh mengecewakan saat saya melihat artikelnya. Artikel ini berusaha menjelaskan sesuatu yang diterima umum oleh kalangan ilmuan, tapi sepenuhnya lepas dari standar ilmiah. Lihat saja, ia tanpa referensi ilmiah sama sekali!

Saya heran kenapa artikel semacam ini ada di web UGM yang bagi saya, merupakan salah satu universitas paling kaya intelektual di Indonesia. Ambil contoh, UGM satu-satunya (CMIIW) Universitas di Indonesia yang memiliki program studi Ilmu Nuklir.

Kekecewaan saya beralasan, silakan anda simak baik-baik kutipan saya dari artikel tersebut:

“Mengenai makhluk manusia, dikatakan ia berasal dari monyet yang berturut-turut ber-evolusi menjadi makhluk-makluk sebagaimana tercantum pada daftar dibawah ini.”

Sebuah ketinggalan informasi mengenai penemuan baru di bidang sains dapat dimaafkan, tapi miskonsepsi masalah dasar? Ini menunjukkan kalau sang penulis sama sekali tidak paham apa itu teori evolusi dan tidak peduli kalau ia tidak paham. Buktinya ia sama sekali tidak memberi referensi tentang siapa yang mengatakan kalau manusia berasal dari monyet di atas. Tentu saja kalau ia mencari, ia tidak akan menemukan ahli biologi manapun yang mengatakan demikian. Hal ini karena manusia memang bukan berasal dari monyet.

Saya ilustrasikan begini. Dalam teori evolusi, ada yang namanya pohon evolusi. Perhatikan gambar ini. Jelas teman kita mengalami miskonsepsi seperti di atas

Tidak heran kalau penulis tersebut selanjutnya membuat tabel yang menunjukkan manusia berevolusi dari australopithecus dan seterusnya. Kalau saja ia mau menunjukkan pohon evolusi bukannya tabel, ia akan terlihat seperti orang yang, minimal, mau belajar dulu sebelum menyanggah sesuatu. Ini adalah pohon evolusi manusia yang sebenarnya.

Pohon evolusi primata, termasuk manusia (Weber, 2009)

Selanjutnya, beliau mengatakan kalau sains berpendapat kalau manusia berperadaban sejak 40 ribu tahun lalu, dan kembali, tanpa referensi. Siapa ilmuan yang bilang 40 ribu tahun yang lalu? Anda tidak akan menemukan jawabannya dalam tulisan beliau, walaupun pada dasarnya, ini adalah pernyataan yang ingin diserangnya. Sepertinya ia menyerang sesuatu yang ia buat sendiri dan mengatakan kalau anda yang kalah! Dalam berdebat, ini dinamakan straw man argument.

Well bukan tugas saya untuk mencari siapa ilmuan yang mengatakan kalau peradaban manusia berawal 40 ribu tahun lalu. Itu tugas dari sang penulis sendiri, yah, paling tidak sebelum beliau membuat tulisan ia mengklaim sesuatu, ia memeriksa wikipedia terlebih dahulu. Tidak perlu lah artikel jurnal ilmiah berat dengan bahasa teknis yang hanya dapat dimengerti pakar.

Beliau lalu meneruskan kalau piramida merupakan bukti kalau manusia pernah hidup jutaan tahun lalu. Oh please. Saya menahan tawa mengenai hal ini. Pertama, Piramida itu usianya baru 4000 tahun. Bagaimana bisa ini menjadi bukti kalau manusia hidup jutaan tahun lalu? Tampaknya akal sehat penulis tidak dapat memahami kalau manusia dengan teknologi seadanya mampu membuat piramida.

Saya rasa demikian. Tapi seperti yang saya sebutkan di awal sekali. Itu akal sehatnya penulis, bukan akal sehatnya ilmuan. Dan saya yakin, ilmuan lebih cerdas daripada pembawa klaim pseudo ilmiah seperti ini.

Kalau ia membaca perkembangan arkeologi terbaru, paling tidak ia tidak akan mengetengahkan piramida mesir, tapi piramida charal, yang seribu tahun lebih tua dari mesir. Tapi well, mungkin dia akan mengatakan kalau ini bukti manusia pernah hidup miliaran tahun (bukan lagi jutaan tahun).

Sang penulis tersebut sebenarnya kontradiktif dalam tulisannya. Di satu sisi ia mengatakan kalau penemuan ilmiah di sembunyikan, di sisi lain ia memberikan bukti ilmiah kalau manusia sudah hidup berjuta tahun lewat fosil. Dari mana ia dapatkan bukti ini? Sepertinya ia dapat bocoran.

Jadi bagaimana orang zaman dulu membuat piramid? Arkeolog Cambridge, Stuart Kirkland Weir sudah menjelaskannya tahun 1996 dengan sangat memuaskan dalam artikelnya di Cambridge Archaeological Journal. Saya tidak menemukan jurnalnya online, tapi menemukan reviewnya di scientific american oleh Ian Stewart dan juga artikel dari Stuart Kirkland sendiri, yang menjelaskan lebih jauh, tentunya dalam bahasa yang tidak terlalu teknis.

Artikel ini tampaknya adalah artikel Stuart Kirkland Weir karena isinya sama persis dengan deskripsi Ian. Tapi bisa saja sebuah copy paste karena tanpa referensi. Saya tidak yakin. Silakan anda cek : http://prevos.net/wp/pyramid/construction/deskstudy/

Oke, Piramid memuat 7 juta ton batu. Itu jumlah yang sangat besar. Beliau menghitung kalau piramid memerlukan pekerjaan 10 juta hari jika dikerjakan oleh satu orang. 27 ribu tahun lebih! Tentu saja, itu satu orang. Dengan memakai 1250 orang, hasilnya hanya 8400 hari, atau 23 tahun. Sudah masuk akal?

Kalau ada hari libur, ada perang, atau ada kecelakaan, perlu 10 ribu orang untuk bekerja selama setengah abad. 10 ribu orang hanyalah kurang dari 1% jumlah orang yang hidup di mesir 4000 tahun lalu. Herodotus, sejarawan mesir menulis kalau piramida dibangun oleh sekitar 10 ribu orang. Tapi bisa saja dia salah.

Dia menulisnya 2000 tahun setelah piramida dibangun. Kalau 100 ribu orang, well, selain akan mengurangi pengangguran di mesir kala itu, ia juga mengurangi usaha pemberontakan. Dan piramida akan lebih cepat lagi terbangun. Lagi pula, piramida Besar Mesir bukanlah bangunan yang sempurna. Ia sedikit condong di sisi tenggara, dan panjang sisi-sisinya bervariasi sekitar 18 cm.

Oke, kita perlu sekitar itu, tapi itu baru jumlah manusia. Bagaimana cara membuatnya? Sederetan hieroglif di makam raja dinasti ke-12 bernama Djehutihotep (sekitar abad ke-20 SM) menunjukkan caranya. Jika para pembuat hieroglif bohong atau disuruh raja berbohong, itu sepertinya sulit diterima. Tapi terserah raja toh, kalau melawan anda bisa dipenggal.

Oke, apa kata hieroglif tersebut? Well, disitu terlihat sebuah patung Djehutihotep raksasa setinggi 5 meter dan seberat 60 ton, diikatkan pada sebuah luncuran kayu. Dan luncuran ini, memang ditemukan oleh para arkeolog, dan tampaknya ia dipakai untuk menarik batu dari bagian dasar ke puncak piramid. Oke, kembali ke hieroglif. Ada empat baris pekerja, totalnya 172 orang, menarik tali yang terikat pada lengseran. Di depan lengseran, seseorang berdiri sambil menuangkan semacam cairan ke bawah. Ini tentunya bertujuan untuk melumas lengseran sehingga mudah maju. Dan tentu saja, si boss tampak mengawasi. Ia berdiri di lutut patung raksasa.

Dari hieroglif ini, perhitungannya adalah 60 ton dengan 172 pekerja, hasilnya tiap orang mendapat beban 330 kg. Rekonstruksinya menunjukkan kalau koefisien gesek lengseran ini adalah 0.1. Akibatnya beban tiap orang hanyalah 33 kg saja. Bisa diterima?
Lebih jauh lagi, arkeolog sudah menemukan sebuah kota pemukiman para pembangun piramid. Kota ini penuh dengan jalan, kuburan, warung, dan infrastruktur lainnya untuk menampung populasi 20 ribu orang. Perlu bukti lagi?

Well, itu bukti tidak langsung. Anda bisa bilang kalau di atas itu bukti cara menggerakkan patung, bukan membangun piramid. Ya. Ini benar. Tapi sungguh aneh kalau orang mesir tidak melakukan hal yang sama dengan cara memindahkan patung.
Perlu diakui kalau pengetahuan kita tentang cara membuat piramida belumlah lengkap. Ini jelas, karena pembuatan piramid di zaman mesir tidak direkam dan dipamerkan di YouTube. Atau mungkin, kalau saya boleh memakai pola pikir penulis di atas, kalau orang Mesir begitu canggihnya sehingga tidak tahu cara membuat video.

Penulis artikel di atas mungkin bisa disebut Piramidiot oleh ilmuan Robert Bianchi. Piramidiot adalah orang yang mendadak jadi idiot saat melihat kebesaran piramid lalu mengeluarkan teori tanpa bukti, seperti UFO, peradaban jutaan tahun, penjelajah waktu dari masa depan, dewa langit dan sebagainya.

Sang penulis lalu merujuk pada naskah kuno seperti tulisan “pada waktu gugusan bintang Lyra berada di rasi Cancer” dan mengatakan kalau sejarawan arab Abu Said El Balchi mengartikannya 73,300 tahun lalu. Well, sejak kapan ilmuan memakai ucapan kuno, ketimbang teknologi modern untuk menentukan waktu? Bisa saja sang pembuat naskah tersebut berbohong kan? Lagi pula, mana referensinya langsung dari El Balchi? Haruskah pembaca yang mencarinya sendiri? Para arkeolog memakai cara yang sama dengan menentukan usia fosil, yaitu memakai carbon dating. Baca saja dalam artikel ilmiah yang saya berikan sebagai referensi di bawah.

Satu lagi hal yang konyol dalam tulisan artikel tersebut. Piramida membagi dua bumi sama besar karena berada di garis nol derajat! Apa orang ini bisa membaca peta? (Mukulin kepala sendiri). Bumi itu bulat, dan karenanya, setiap titik di bumi akan membagi dua bumi bila ditarik garis keliling. Ambil saja jeruk, terserah mau ditusuk dari mana, asalkan kamu membelahnya melewati pusat jeruk, jeruknya akan terbagi dua sama besar! Oh, pleease.

Klaim selanjutnya mengenai titik temu diagonal saya sama sekali tidak mengerti. Mungkin perlu bantuan gambar. Seandainya beliau sedikit saja, tidak perlu lah banyak, memberikan dukungan ilmiah, artikel ilmiah keq, perhitungan matematika keq, saya mungkin bisa percaya. Tapi kalau cuma bilang ia bergeser 4 mil dari arah kutub karena perjalanan waktu, saya rasa lebih masuk akal kalau ia tidak bergeser, tapi orang mesir memang salah buat atau kurang teliti.

Klaimnya lagi, keliling piramida sama dengan 365,24 sama dengan panjang hari dalam setahun. Apa satuannya? Tidak diberi tahu. Tanpa satuan jangankan 365,24, semua bilangan bisa dihasilkan. Oke, ini yang saya peroleh dari Wikipedia. Tiap sisinya sepanjang 440 kubit, yang setara dengan 230.37 meter atau 755.81 kaki. Silakan anda kalikan empat semuanya, karena piramida punya empat sisi dan itulah kelilingnya. Hasilnya 1760 kubit, 921.48 meter atau 3023.24 kaki. Mana 365.24 nya? Tidak ada. Alhasil, ini sepertinya cuma karangan saja.

Perhitungan matematika selanjutnya sisanya hanyalah cocologi (mencocok-cocokkan) dan salah informasi (membohongi?). Cek saja dengan sumber terpercaya :
1. Keliling piramid kali dua = 1842.96 meter. Ini diklaim sama dengan satu derajat khatulistiwa. Cara menemukan besar satu derajat khatulistiwa gampang. Keliling bumi adalah di khatulistiwa adalah 40075.16 km. Bagi dengan 360 derajat, hasilnya 111.32 kilometer untuk satu derajat. Sama gak?

2. Jarak dari puncak ke dasar pada apotema? Tinggal gunakan rumus pitagoras. Dari wikipedia, tinggi piramida adalah 146.48 meter. Sementara setengah panjang sisi untuk alas adalah 230.37 meter. Kita dapat sisi miringnya, 272.99 meter. Sekarang klaimnya adalah ini sama dengan 1/600 derajat lintang. Cek keliling bumi pada meridian, besarnya 40,008.00 km. Bagi 360 dapat 111.13 km per derajat lintang. Bagi 600 hasilnya 185.22 meter. Sama gak?

3. Tinggi piramid dikali satu miliar sama dengan 146.48 juta km. Well, ini memang mendekati jarak rata-rata bumi matahari yaitu 149,598,261 km. Tapi namanya cocologi, penulis akan lebih pas kalau memakai jarak bumi matahari pada perihelion yaitu 147,098,290 km. Dan ini jelas cocologi karena kita memakai satuan meter, bukannya kubit! Tentang masa piramida dibangun? Well, masa piramida di bangun saja anda salah, gimana mau disesuaikan dengan itu.

4. Keliling dibagi dua kali tinggi piramid. Well, ini tidak jelas. Apakah K / (2t) atau Kt/2. Tapi kita bisa memakai yang pertama, karena yang kedua pastinya tidak masuk akal karena jauh lebih dari Pi. Menurut penulis nilai ini sama dengan Pi loh. K/(2t) = 6.29. Woaaa, sama dengan Pi? Jauuuh bro. Pi itu besarnya 3.14. Perhatikan kalau anda tidak boleh mengkonversi nilai diatas menjadi kubit karena nilai di atas tanpa satuan! Mengakalinya dengan mengalinya dengan 0.524 menunjukkan anda tidak mengerti matematika dasar. Lagian kalau dikali pun, anda baru mendapatkan 3.30, gak nyampe ke Pi.

5. Berat piramida di kali 1000 triliun? Berat piramida itu 5.9 juta ton. Entah darimana datangnya 1000 triliun ini, tapi okelah, kalikan saja biar puas. Hasilnya 5.9 x 1.000.000.000.000.000.000.000.000 kg. Nolnya ada 24. Berapa massa bumi? 5.9736 × 10^24 kg. Kebetulan? Tentu saja kebetulan. Karena tidak ada alasan yang diberikan kenapa harus mengambil massa bumi, dan kenapa harus mengali dengan 1000 triliun, atau apakah sang penulis bisa membedakan antara massa dengan berat.

6. Diagonal silang dasar piramid ditambahkan? Sederhana, hasilnya adalah 1244.51 kubit, atau setara dengan 651.59 meter atau 2137.73 kaki. 25827 nya mana?

7. Ukuran kamar raja. Hal ini tidak jelas sama sekali. Kecuali kalau kamar raja bentuknya segitiga. Emang ada kamar bentuknya segitiga?

8. Bintang kutub adalah sirius. Hahaha. Well, asal tau saja, bintang kutub adalah Polaris. Sirius adalah bintang terterang di langit dan sama sekali tidak berasosiasi dengan kutub apapun. Sebagai bintang terterang di langit, sangat mudah bagi orang zaman dulu untuk meletakkan jendela kamar mengarah ke sana.

Saya akan terkesan kalau jendela tersebut di arahkan ke, katakanlah HD 85828, yang merupakan bintang paling redup dilihat dari bumi, tanpa alat. Sirius itu magnitudo nya -1.44 sementara HD 85828 magnitudonya 7.72. Hampir 10 ribu kali lebih redup dari Sirius. Try That!

O iya, baru-baru saja hasil penelitian mengungkapkan para pakar jenius di balik pembangunan piramida, mereka manusia dan mereka adalah kontraktor.
Tentang 1 hasta piramid itu sama sekali bukan argumentasi. Tidak ada alasan mengatakan satuan panjang yang satu lebih baik dari yang lain kecuali karena kesepakatan.

Penulis kemudian mengatakan kalau piramida tersebar di seluruh penjuru dunia dan ini berarti kalau ada peradaban maju di mana-mana. Sayangnya, kalau penulis tersebut paham matematika atau teknik, ia akan tau kalau bentuk piramida adalah bentuk yang paling sederhana secara konstruksi. Dia sangat stabil. Dari pada kamu membuat kubus atau rumah (yang bawahnya balok dan atasnya piramida), lebih baik buat piramida.

Atasnya lancip, jadi semakin ke atas, semakin sedikit membawa barang. Ini tepat apa yang akan dilakukan oleh peradaban kuno. Kesederhanaan. Saya akan terkesan kalau orang mesir kuno mampu membuat bangunan yang rumit seperti gedung pencakar langit yang bagian atas kurang lebih sama dengan bagian bawah.
Dan tolong, ada tidaknya sesuatu itu bukan hasil renungan, tapi hasil pengamatan. Dan tidak ada bukti kalau piramida mengeluarkan gelombang elektromagnet apapun. Memangnya dia handphone?

Ayolah kawan, daripada mendaftarkan hasil tulisan orang yang tidak mengerti sains dan tidak mengikuti perkembangan zaman yang terus di salin semenjak lima puluh tahun lalu, kenapa tidak memeriksa perkembangannya? Kunjungi sciencedaily.com setiap hari. Masuk ke bagian archaeology. Itu membuat pikiran kita terbuka. Atau periksa satu demi satu klaim dengan wikipedia. Dan bila kamu sangat skeptik, kamu bisa berlangganan jurnal ilmiah di bidang Arkeologi.

Situs megalitikum lainnya yang disebutkan penulis belum sempat saya periksa literatur ilmiahnya, mungkin lain kesempatan. Sekarang cukup piramida saja. Memang masih banyak juga hal arkeologi yang belum terjelaskan. Arkeologi itu ilmu yang erat kaitannya dengan sejarah.

Belum ada (tidak ada) mesin waktu sekarang dan orang masa lalu tidak punya video yang di upload di youtube agar kita dapat melihat bukti langsung bagaimana ia membuat piramid, moai, bangunan di puncak gunung. Tapi apakah ilmiah kalau kita mengatakan: Ah, sudahlah, orang zaman dulu memang lebih pintar dari kita.

Mari kita tinggalkan materialisme dan tenggelam dalam spiritualisme. Lalu jika orang zaman dulu begitu hebat, hingga bisa mengangkat batu raksasa ber ton-ton beratnya di pundak, buat apa mengangkat batu? Batu kan material? Kenapa membuat bangunan? Bangunan kan material?

Sains setiap hari menemukan hal baru. Misteri terpecahkan, namun dibalik penjelasan, selalu muncul pertanyaan baru, kadang lebih mendalam, kadang lebih mendasar. Inilah yang membuat sains begitu menarik. Selalu ada ruang untuk dipelajari dan selalu ada daerah untuk ditemukan. Kita pastinya jauh lebih maju dari masa dahulu.

Orang kuno membuat bangunan dari batu, kita membuat bangunan dari kaca, besi dan beton. Orang masa kuno di maya dan aztec membangun piramida untuk mencabut nyawa manusia di puncaknya, sekarang kita membangun gedung bertingkat untuk memberi makan anak cucu kita. Ada alasannya mengapa zaman dahulu di sebut zaman batu dan sekarang zaman polimer.

Sekarang kita tidak terlalu peduli dengan batu, akibatnya saat anda melihat bangunan batu raksasa, anda menduga itu bukti kalau orang masa lalu lebih maju dari kita. Hati-hati dengan generalisasi. Saat anda jadi orang zaman batu, dan berada di zaman modern sekarang, anda kemungkinan besar akan bilang, wah, zaman modern ini lebih maju dari zaman batu.
Dan kapan internet di temukan? Zaman Mesir Kuno atau sekarang? Oh iya, saya lupa, orang mesir kuno jauh lebih maju dari masa kini.

Update, 26 September 2010

Profesor arsitektur Ole J. Bryn menemukan hal baru mengenai teknik pembuatan piramida. Beliau yakin kalau bangsa Mesir telah menemukan kisi-kisi bangunan modern, dengan memisahkan sistem pengukuran struktur dari bangunan fisik itu sendiri. Hal ini menyebabkan adanya toleransi, sebagaimana dipakai oleh profesi arsitektur dan teknik.

Bryn melakukan pendataan pada 30 piramida tertua dan menemukan sistem presisi yang memungkinkan bangsa Mesir mencapai titik tertinggi dan terendah bangunan dengan derajat ketelitian mengesankan. Dengan ini, bangsa Mesir memiliki semacam cetakan yang dapat diduplikasi kapanpun mereka ingin membuat piramida baru.

Sejauh arsitek tau dimensi utama piramida, ia dapat memproyeksikan bangunan seperti yang dilakukan para arsitek modern. Bryn menjelaskan konstruksi sejumlah besar piramida Mesir dengan memakai kisi bangunan, bukan bangunannya sendiri, sebagai titik awal analisa.

Bila prinsip dibalik gambar-gambar Bryn benar, maka arkeolog memiliki peta baru yang menunjukkan kalau Piramida bukanlah setumpuk batu berat dengan struktur misterius. Strukturnya sangat teliti karena adanya cetak biru.