Tim Bencana Katastropik Purba :

Jakarta- Meski telah banyak yang meneliti tentang keberadaan situs Gunungpadang, yang tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Tim Bencana Katastropik Purba bentukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial Dan Bencana Alam tengah melakukan penelitian serupa.

Hal itu disampaikan Anwar Syadat Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial Dan Bencana Alam kepada wartawan Dijakarta, (22/12)
kepada wartawan, disampaikan tujuan penelitian tersebut melengkapi penelitian yang ada, dan bertujuan melakukan pengkayaan terhadap data dan informasi atas penelitian yang sudah ada.

Untuk itu langkah koordinasi dengan pihak terkait selain survey akan terus dilakukan.

“ Ingin juga kami disampaikan, penelitian patahan Cimandiri yang merupakan patahan aktif yang terdapat di daerah Sukabumi Selatan yang memanjang dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cianjur sampai Padalarang, adalah riset awal kita tentang kebutuhan mitigasi bencana, dan upaya mencari sumber bencana purba yang pernah terjadi,” Ujar Anwar Syadat.

Dikatakannya, beberapa kejadian gempabumi yang tercatat dalam kurun waktu relatif terkini yang terkait dengan aktivitas Patahan Cimandiri adalah Gempa Pelabuhan Ratu tahun 1900, Gempa Padalarang tahun 1910, Gempa Conggeang tahun 1948, Gempa Tanjungsari tahun 1972, Gempa Cibadak tahun 1973, Gempa Gondasoli tahun 1982 dan Gempa Sukabumi tahun 2001.

Terkait Gunung Padang, seperti diketahui, dalam banyak literatur disebutkan Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom.

Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie.

Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada pemilik kebudayaan dari pemerintah daerah.
Dikatakan Anwar, situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat memiliki Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Survei Awal

Tim Katastropik Purba telah melaksanakan survey awal di Gunung Padang untuk mengetahui penyebab rubuhnya situs megalitikum tersebut di masa lalu.
Dalam penelitian awal tersebut telah ditemukan anomali struktur geologis dari Gunung Padang.

Untuk lebih mendalami temuan-temuan pendahuluan yang telah ada, Lanjut Anwar, akan dilakukan survey lanjutan disitus tersebut oleh Tim Katastropik Purba dengan melibatkan ahli geologi dan sedimentasi tanah.

“ Kami mentargertkan melalui survei ini akan dapat ditentukan umur dari situs megalitikum Gunung Padang berdasarkan penelitian jenis batuan pembentuknya serta sedimentasi tanah yang ada,” Ungkapnya.

Menurut Anwar, akan segera diketahui juga jenis dan sumber batuan pembentuk situs megalitikum, setrta citra dari anomali geologis struktur bawah permukaan tanah di situs megalitikum Gunung Padang.

“ Saat ini, kami sedang mengumpulkan data dengan cara melakukan pertemuan para ahli untuk memberi gambaran tentang penelitian-penelitian dan eskavasi yang telah dilakukan di Gunung Padang sebelumnya, berikutnya survei geolistrik, Coring (pengeboran manual) di beberapa titik di situs Gunung Padang dengan kedalaman hingga 300 cm,” Terang Anwar.

Survey geolistrik, dikatakan Anwar dilakukan dengan beberapa lintasan, baik itu penampang arah utara – selatan maupun penampang melintang arah timur – barat. Juga dilakukan survei penampang 3 dimensi pada puncak Gunung Padang untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang struktur di bawah situs Gunung Padang.

“ Sedang pengeboran manual dilakukan di beberapa titik di puncak Gunung Padang pada kedalaman 1 – 3 meter dari permukaan tanah. Coring dilakukan pada permukaan tanah disekitar tunjaman batuan-batuan megalitikum, nantinya sedimentasi hasil coring kemudian dibawa ke laboratorium untuk penelitian lebih lanjut, serta proses karbon dating,” Jelasnya.

Banyak pihak telah memberikan perhatian penuh pada situs ini. Ditahun 2011 ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengalokasikan dana sekitar Rp 1-2 Miliar untuk merawat temuan tersebut. (Ir Anwar Sadat 08568609949)