Oleh Ahmad Arif, Indira Permanasari, dan Amir Sodikin

KOMPAS – Kayu hitam serupa arang muncul dari balik tanah di pinggir hutan yang senyap. Bekas tebasan parang—atau sejenisnya—menandakan ada jejak manusia di kayu. Anyaman bambu rapuh tercetak di tanah dan tiga umpak batu disusun berjajar menguatkan jejak manusia. Jejak yang terkubur hampir 200 tahun lalu.

”Kayu itu dulu penyangga atap, anyaman bambu adalah dinding rumah, dan batu fondasinya,” I Made Geria, arkeolog dari Balai Arkeologi Bali, menjelaskan temuannya, Rabu (22/7/2011). Berbekal cangkul, kuas, dan cerita yang samar, Made memimpin tim arkeologi untuk melacak jejak masa lalu yang terkubur letusan Gunung Tambora.

April 1815, Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus hebat. Letusan terhebat yang tercatat dalam sejarah. Kekuatan letusannya, berdasarkan Volcanic Explosivity Index, berada pada skala 7 dari 8, hanya kalah oleh letusan Gunung Toba (Sumatera Utara) sekitar 73.000 tahun lalu.

”Puting beliung yang kejam mengempaskan orang, kuda, ternak, dan apa saja yang dilintasinya ke udara, mengangkat pohon-pohon besar hingga akarnya, dan menutupi lautan dengan gelondongan kayu,” demikian Charles Lyell, ilmuwan Inggris, dalam Principles of Geology, 1830, menggambarkan letusan itu berdasarkan catatan saksi mata. ”Daratan tertutup awan panas, beberapa alirannya mencapai lautan.” Tsunami menghantam.

Tambora tercatat sebagai gunung yang paling mematikan. Jumlah korban tewas akibat letusannya mencapai 71.000 jiwa. Sebagian ahli lainnya menyebut 91.000 jiwa. Sepuluh ribu orang langsung tewas, sementara sisanya karena bencana kelaparan dan penyakit. Jumlah ini belum termasuk kematian di negara lain, termasuk Eropa dan Amerika yang didera kelaparan. Asam sulfat yang dilepas Tambora menutup angkasa, menyebabkan tahun tanpa musim panas di dunia Barat.

Terabaikan

Setelah menggali tanah di Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, berukuran 25 meter persegi dengan kedalaman 3 meter, melewati lapisan piroklastik, batuan apung, abu, dan tanah lempung, muncullah jejak bekas rumah dari masa lalu itu.

Berbeda dari penggalian tahun-tahun sebelumnya, kali ini mereka tidak menemukan kerangka manusia. Namun, temuan tersebut menguatkan bahwa pernah ada permukiman padat di lereng Tambora berketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut itu.

Kisah tentang kerajaan di lereng Tambora telah disebutkan dalam sejumlah literatur lama, seperti dalam Bo’ Sangaji Kai. Disebutkan dalam buku pusaka Kerajaan Bima itu, hingga sebelum April 1815, terdapat tiga kerajaan di sana, yaitu Pekat, Sanggar, dan Tambora.

Namun, cerita tentang kehidupan yang terkubur selama hampir 200 tahun tersebut hanya dibiarkan dalam kertas, tak pernah ada penggalian untuk membuktikannya. Justru, lereng gunung yang hijau permai itu hanya menarik bagi perusahaan kayu PT Veneer Products Indonesia yang tergiur dengan hutan hujan yang kaya pohon klanggo (Duabanga moluccana).

Sejak beroperasi di Tambora pada tahun 1972, para pekerja PT Veneer tidak hanya mengangkut kayu klanggo yang bernilai tinggi, tetapi juga menemukan harta lain berupa barang pecah belah, koin lama, hingga perhiasan emas dan perak dari dalam tanah.

”Saat itu, sore tahun 1979, saya mendengar buldoser PT Veneer menemukan harta karun dari dalam tanah. Waktu itu mereka membuat jalan untuk membawa kayu,” kisah Suparno, Kepala Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Bima, di Desa Oi Bura. Temuan itu sekitar 1 kilometer dari kebun kopi yang dia kelola.

Suparno dan puluhan warga Oi Bura bergegas ke sana. Mereka menemukan tembikar, pecahan keramik, perhiasan dari emas, permata, cincin, bokor, dan senjata tajam. Bahkan, ada warga yang menemukan kerangka manusia. Sebagian temuan itu disimpan warga hingga kini dan sebagian dijual kepada kolektor yang datang.

sumber:www.cincinapi.com