Politikindonesia – Tim Peneliti Bencana Katastropik Purba melakukan penelitian untuk menemukan bencana apa yg pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Sehingga diketemukan model mitigasi yang tepat bagi masyarakat agar dapat memberikan antisipasi yang tepat bila terjadi bencana.

“Tim Katastropik melakukan penelitian di Aceh, Karawang, Lubuk Linggau, Pagaralam, Trowulan, Bandung, Garut, Selat Sunda, Padang, Bengkulu, hingga Papua,” ujar Erick Ridzky, Koordinator Tim Peneliti Katastropik Purba dalam perbincangan dengan politikindonesia.com di Jakarta, Kamis malam (28/07).

Erick mengungkapkan, mengingat bencana ini berulang (tsunami, gunung api, gempa bumi), Tim Katastropik ingin mempelajari model mitigasi apa yg tepat bagi masyarakat agar dapat memberikan antisipasi apa yg tepat bila bencana itu terjadi.

“Kita jangan terjebak pada penelitian data sekunder. Tim kita melakukan penelitian hingga survei lapangan secara berulang dan apa yg ditemukan baru indikasi saja,” ujar Erick yang juga menjadi Koordinator Nasional Masyarakat Mitigasi Indonesia.

Kata Erick, Tim Katastropik melakukan penelitian terhadap bencana yang pernah terjadi dimasa lampau. “Apakah anda tahu dimanakah bekas kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Galuh, Pajajaran. Singosari? Dimanakah sisa-sisa kerajaan dan peradaban itu? Akibat bencana apa sehingga mereka seolah hilang tak berbekas itu?.”

Dijelaskan, Tim Peneliti Bencana Katastropik Purba yang dibentuk oleh kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantun Sosial dan Bencana, melibatkan para ahli yang memiliki reputasi internasional dalam bidang geologi, geofisika, paleotsunami, paleosedimentasi, geodinamika, arkeolog, filolog, dan antropolog.

Sejauh ini, ungkap Erick yang juga Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, para peneliti sudah melakukan riset, survei, dan mempelajari berbagai manuskrip kuno, dan berbagai catatan sejarah baik berasal dari prasasti maupun dari bahasa tutur yg ditranslasi kebahasa Indonesia.

Dalam 10 bulan terakhir, Tim sudah melakukan penelitian di Aceh Besar. Disana ditemukan sedimentasi paleotsunami. Bangsa Aceh mengenal istilah ‘Ie Bena’ (air bah), namun mereka tidak mengetahui kapan dan dimana peristiwa air bah itu terjadi.

Dari hasil survei, ujar Erick, diketahui bahwa pada sekitar tahun 1400-an, di wilayah pantai Aceh Besar telah terjadi tsunami besar sebanyak 2 kali dalam kurun seratus tahun.

“Pada lapisan paleotsunami itu, ditemukan berbagai kramik, alat-alat rumah tangga yang berusia lebih dari 1000 tahun,” ujar Erick.

Disamping itu, juga teridentifikasi bangunan mesjid yang dibangun pada 1200M di atas candi kedalaman 20 meter dibawah tanah yg berumur 1700 tahun yang lalu.

Ditempat lain, ujar Erick, juga dilakukan penelitian. Misalnya di percandian Batu Jaya, Kerawang, Jawa Barat. “”Disini menggunakan metodologi Geolistrik dan Georadar, hasilnya, berindikasi ada kompleks candi yang masih terkubur pada kedalaman 12 meter di bawah tanah dengan luasan mencapai 5 kilometer persegi.”

Sementara Tim Katastropik juga melakukan penelitian menyusuri seismic-gap di Selat Sunda. Doktor Yusuf Surahman telah melakukan observasi visual bersama kapal selam riset Jepang, dimana pada kedalaman 6500 meter dibawah laut, ditemukan jurang-jurang patahan aktif, yang diindikasikan pernah mengakibatkan gempabumi mencapai lebih dari 8 SR dalam kurun 1500tahunan telah terjadi lima kali. “Termasuk gempabumi yang diakibatkan dinamika vulkanik Gunung Krakatau yang menelan korban manusia tidak kurang dari 36.000 jiwa pada tahun 1883.”

Lebih jauh Ercik menuturkan, ketika tim mulai melakukan penelitian dan melanjutkan survei mengarah kawasan Jawa Timur, disana dipusatkan pada penelitian kompleks percandian bekas Ibukota Majapahit, Trowulan.

” Terindikasi adanya kanal-kanal raksasa mencapai lintasan 11 kilometer dan membentang 5 kilometer arah utara-selatan dengan lebar kanal-kanal itu 20-50 meter. Diperkirakan kanal-kanal itu dibangun sebelum era Majapahit. Terbukti ketika dilakukan trunching terdapat lapisan sedimentasi yang mengandung pasir vulkanik,” ujarnya.

Kesimpulan sementara, jelasnya, kanal-kanal raksasa itu terbentuk sebelum bangunan Majapahit didirikan (di daerah reconnaissance). Secara stratigrafi, kanal-kanal itu lebih tua dari masa Majapahit-Hayamwuruk.

Diduga pernah terjadi bencana katastrofi alam yg mengubur bangunan dasar di lokasi situs Sumur Upas.

“Peristiwa katastrofi alam itu jaraknya dekat dari lokasi, memberikan efek lapisan miring pada dinding yang mengubur dasar situ, kemungkinan gunung lumpur dan kejadiannya jauh sebelum mereka membangun Kedaton.”

Dari rangkaian penelitian yang hingga saat ini sudah berlangsung 10 bulan, ujar Erick, Tim Katastropik Purba, disamping menemukan jenis bencana Katastrofi yang pernah terjadi ketika itu, dan pengetahuan kebencanaan masa lampau di berbagai wilayah di Indonesia yang terkubur dan menjadi sumber informasi peradaban besar yang pernah ada di Nusantara.

“Juga diindikasikan suatu peradaban maju dan mengandung ilmu-pengetahuan yang luar biasa luhur,” ungkapnya.

Menurut Erick, penelitian Tim Katastrokik Purba akan berlangsung selama 2 tahun ke depan. “Secara perodik dilaporkan langsung kepada Presiden sebagai masukan dalam upaya-upaya mengatasi potensi bencana dimana kita berada pada zona patahan aktif dan ring of fire.”
(yek/dir/sis)