Benteng Indra Patra


Sebelum Kerajaan Aceh terbentuk, di berbagai daerah di Aceh telah terdapat beberapa kerajaan, mulai dari pantai timur sampai pantai barat selatan. Penyatuannya kemudian melahirkan Kerajaan Aceh Darussalam.

BEBERAPA kerjaan yang sudah muncul jauh sebalum kerajaan Aceh Darussalam itu adalah, Kerajaan Peureulak, Kerajaan Samudra Pase, Kerjaan Banua, Kerjaan Pedir, Kerajaan Sanghela (Sahe), Kerajaan Linge dan Isak, Kerajaan Daya, Kerjaan Indra Purwa dan Kerajaan Lamuri.

Kerajaan Peureulak

Raja Kerajaan Peureulak merupakan keturunan Raja-Raja Siam (Syahir Nuwi). Pada 173 H (800 M), di Bandar Peureulak berlabuh kapal dagang yang membawa saudagar dari Teluk Kambay (Gujarat) yang dipimpin oleh Nahkoda Khalifah. Saudagar itu juga berperan sebagai mubaligh. Sebagian besar penduduk Kerajaan Peureulak lalu masuk Islam.

Setengah abad kemudian, di Peureulak telah terbentuk masyarakat Islam yang terdiri atas orang keturunan pribumi, campuran peranakan Arab, Persia, dan Gujarat. Masyarakat Islam tersebut memproklamasikan berdirinya Kerajaan Islam Peureulak pada 1 Muharram 225 HÂ Â (840 M).

Menurut M. Junus Djamil, Kerajaan Peureulak saat itu sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Malaka, India, Arab, dan Persia. Di samping itu, Peureulak juga sudah mempunyai angkatan perang yang teratur, memiliki sistem politik, perekonomian yang mapan, dan pusat ilmu pengetahuan berupa Dayah Cot Kala yang dipimpin ulama besar, Teungku Muhammad Amin (Teungku Cot Kala).

Kerajaan Samudera Pase

Pada 433 H (1042 M), datang seorang mubaligh bernama Meurah Khair, keluarga Sultan Mahmud Peureulak. Meurah Khair-lah yang diduga membangun Kerajaan Islam Samudera/Pase dan beliau adalah raja pertama (433-470 H, 1042-1078 M) bergelar Maharaja Mahmud Syah juga disebut Meurah Giri,

Pada 560 H (1166 M), ulama besar dari Mekkah (Syekh Abdullah Arif) datang ke Samudera/Pase. Kedatangan beliau untuk menyaksikan perkembangan kerajaan tersebut. Sebagai kenang-kenangan, Syeikh Abdullah memberi gelar Sultan al-Kamil kepada Maharaja Nurdin atau Meurah Nur.

Pada masa pemerintahan Sultan al-Kamil, banyak berdatangan tokoh dan ulama dari Malabar dan Sarkasih. Salah satu di antaranya diangkat sebagai Panglima Angkatan Perang Kerajaan Samudera/Pase, yaitu Qaidul Mujahidin Maulana Naina bir Naina Al-Malabari, yang wafat pada bulan Syawal 623 H (1226 M). Makamnya berada di Geudong (dikenal dengan nama Teungku Cot Mamplam).

Sultan al-Kamil mengangkat seorang ulama menjadi Perdana Menteri (Quthbulma’aly Abdurrahman Al-Pasy) yang wafat pada bulan Zulqaidah 610 H (1213 M) dan dikebumikan di Geudong (Teungku di Iboh). Ada juga yang diangkat sebagai Pejabat Kerajaan dan Ahli Fikih (Syeikh Ya’kub Blang Raya) yang wafat pada bulan Muharram 630 H (1213 M), dimakamkan di Blang Periya Geudong (Teungku Jirat Raya).

Pada waktu pemerintahan Sultan Malikul Saleh, utusan Syarif Mekkah yang dipimpin Syeikh Ismail Al-Zarfi datang ke Samudera/Pase. Saat itu, Kerajaan Islam Samudera/Pase telah memiliki lembaga negara (Kerajaan) yang teratur, mempunyai angkatan perang, angkatan laut, dan angkatan darat yang kuat dan besar.

Selain itu, juga sudah ada lembaga lain antara lain: Lembaga Kabinet, yang menjadi Perdana Menteri adalah Sri Kaya Said Khiatuddin, Lembaga Mahkamah Agung, yang menjadi mufti besarnya (Syaikhul Islam) adalah Sayyid Ali bin Ali Al-Makarany, dan Lembaga Kementrian Luar Negeri, di bawah pimpinan Bawa Kaya Ali Hasanuddin Al-Malabari.

Pada waktu itu, yang berpengaruh dalam pemerintahan adalah golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang bermazhab Syafi’i. Pada masa Pemerintahan Sultan Malikul Zahir (688-725 H), Kerajaan Islam Peureulak digabungkan dengan Kerajaan Islam Samudera/Pase. Masa Pemerintahan Sultan Ahmad Malikul Zahir, Kerajaan Beunua (Tamiang) juga digabung dengan Kerajaan Islam Samudera/Pase.

Sementara, pada 750-796 H masa Pemerintahan Sultan Zainul Abidin Malikul Zahir, Kerajaan Majapahit menyerang Kerajaan Samudera/Pase dipimpin Panglima Patih Nala, bekerja sama dengan Kerajaan Siam. Dengan tipu daya dari utusan Raja Siam, mereka berhasil menculik Raja Zainul Abidin. Tentara Majapahit meninggalkan Samudera/Pase dengan membawa sejumlah tawanan.

Pada masa Pemerintahan Malikah Nahrasiyah Wangsa Kadiyu pada 801-831 H (1400-1427 M), berkembang pesat paham Tarekat Wujudiyah (satu aliran dari Syiah). Makanya Ratu mengangkat seorang tokoh Wujudiyah menjadi Perdana Menteri, yaitu Raja Bakoy.

Ketika Sultan Zainul Abidin Malikul Zahir tewas terbunuh karena perebutan kekuasaan dan pertentangan politik. Tampuk pimpinan kerjaan dilanjutkan Maharaja Nagur Rabath Abdul Kadir Syah selama empat tahun (sampai 801 H), yang akhirnya juga terbunuh setelah mangkat Maharaja Nagur. Seterusnya diangkat Putri Malikah Nahrasiyah Wangsa Kadiyu hingga mangkat. Sesudah itu, Kerajaan Samudera/Pase diperintah oleh beberapa raja, sampai raja yang terakhir, Sultan Abdullah mangkat pada 1513 M.

Kerajaan Islam Samudera/Pase sudah mempunyai lembaga pemerintahan yang teratur, perdagangan yang maju, perekonomian, dan keuangan yang stabil. Kerajaan juga sudah mempunyai mata uang sendiri, angkatan perang yang kuat dan hubungan luar negeri yang teratur, serta lembaga pendidikan (tempat berkembang ilmu pengetahuan).

Kerajaan Banua

Kerajaan Banua di Tamiang telah berdiri sejak 580 H (1184 M). Raja pertama bergelar Meurah Gajah, 580-599 H (1184-1213 M). Raja terakhir sebelum Islam adalah Makhdum Saat (Panglima Eumping Beusoe), 723-753 H (1323-1353 M), berasal dari Peureulak dan perkawinannya dengan Putri Raja Mala (678-723 H), diperoleh seorang anak laki-laki yang diberi nama Raja Muda.

Pada waktu pemerintahan Eumping Beusoe, datanglah rombongan mubaligh dari Peureulak yang dipimpin seorang ulama, Teungku Ampon Tuan, yang kemudian Kerajaan Tamiang menjadi Kerajaan Islam. Putri Teungku Ampon Tuan dinikahkan dengan Putera Mahkota Kerajaan Raja Muda. Dari perkawinan tersebut, lahir seorang puteri yang bernama Puteri Lindung Bulan.

Setelah Raja Eumping Beusoe mangkat, diangkat Raja Muda menjadi Raja Kerajaan Islam Banua dengan gelar Raja Muda Seudia, sekaligus raja pertama Kerajaan Islam Banua (setelah namanya diubah menjadi Kerajaan Islam Tamiang), yang memerintah selama 47 tahun, 753-800 H (1353-1398 M).

Pada masa pemerintahan Raja Muda terjadi agresi Majapahit yang dipimpin Patih Nala pada 7I9 H (1377 M). Angkatan perang Majapahit menduduki Pulau Kampai di Selat Malaka. Patih Nala mengirim utusan kepada Raja Muda Seudia, meminta Raja untuk menyerahkan puterinya (Puteri Lindung Bulan) untuk persembahan pada Raja Majapahit, Prabu Rajasanagara Hayam Wuruk.

Raja Muda Seudia menolak permintaan itu. Karena itu, Patih Nala melakukan agresi terhadap Kerajaan Islam Banua. Karena diserang, Raja Muda Seudia dan rakyat mengadakan perlawanan dengan gigih. Angkatan perang Majapahit mengalami kerugian besar di Kota Kuala Peunaga dan Aron Meubajee. Selain itu, di ibukota kerajaan terjadi perang besar sehingga semua bangunan hancur, terbakar, dan diruntuhkan.

Pada saat kritis tersebut, datang bantuan pasukan beserta perlengkapan perang dari Kerajaan Islam Peureulak dan Kerajaan Samudera/Pase (sekutu Banua dalam federasi). Akhirnya, tentara Majapahit mengalami kekalahan dalam medan tempur dan Majapahit mengurungkan niat untuk menjajah Kerajaan Banua. Setelah Raja Muda Seudia mangkat pada 800 H (1398 M), Kerajaan Islam Banua menjadi kacau sehingga terpecah menjadi tiga kerajaan kecil (Kerajaan Negeri Karang, Kerajaan Kuala Peunaga, dan Kerajaan Negeri Indra/Daerah Alas).

Kerajaan Pedir (Pidie)

Memasuki abad ke-8 H (abad 14 M) Kerajaan Hindu/Budha di Syahir Poli (Pedir) dilebur menjadi Kerajaan Islam Pedir, setelah Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyursyah I (755-811 H) berhasil mengalahkan tentara Syahir Poli dalam sebuah peperangan.

Menurut Teungku M. Junus Djamil, zaman Pemerintahan Sultan Mahmud II Alaiddin Johan Syah, Kerajaan Aceh Darussalam (811-870 H), Islam menyebar dan berkembang luas dalam wilayah Syahir Poli yang sebelumnya beragama Hindu/Budha. Untuk memimpin kerajaan baru tersebut, Sultan Mahmud II mengangkat puteranya, Raja Husen Syah, menjadi Raja Muda dengan gelar Maharaja Pedir Laksamana Raja.

Kerajan Sahe (Sanghela)

Kerajan Sahe sering juga di sebut Sanghela di kawasan Ulei Gle dan Meureudu. Menurut H M Zainuddin dalam tulisannya Aceh Dalam Inskripsi dan Lintasan Sejarah. Sebelum Islam masuk ke Aceh, di Aceh telah berkembang kota-kota kerajan hindu seperti : Kerajaan Poli di Pidie yang berkembang sekitar tahun 413 M. Kerajan Sahe sering juga di sebut Sanghela di kawasan Ulei Gle dan Meureudu, kerajan ini terbentuk dan dibawa oleh pendatang dari pulau Ceylon.
Menurur H M Zainuddin, semua kota-kota Hindu tersebut setelah islam kuat di Aceh dihancurkan. Bekas-bekas kerajaan itu masih bisa diperiksa walau sudah tertimbun, seperti di kawasan Paya Seutui, Kecamatan Ulim (perbatasan Ulim dengan Meurah Dua).

Tentang kedatangan dan pengaruh pendatang dari Ceylon itu juga diungkapkan H Muhammad Said dalam makalah budaya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II, Agustus 1972. Ia menjelaskann, pada tahun 1891, seorang peneliti asing bernama G K Nieman sudah menemukan 150 kata dari bahasa Campa dalam bahasa Aceh. Demikian juga dengan bahasa Khmer (Kamboja ) tetapi yang sangat dominan adalah bahasa Melayu dan bahasa Arab.

Kerajaan Linge dan Isak

Ketika Kerajaan Sriwijaya menyerang Kerajaan Islam Peureulak pada 375 H (986 M), banyak terjadi pengungsian penduduk, termasuk ulama dan anak-anak Raja Peureulak. Ada yang mengungsi ke pegunungan, ada juga ke negeri lain yang sudah ada seperti Negeri Linge. Para pengungsi mengembangkan Islam, yang kemudian hari dapat menyatukan masyarakat dan mendirikan kerajaan Islam.

Menurut M Junus Djamil, pembina pertama Kerajaan Islam Lingga adalah Adi Genali dengan gelar Meurah Lingga (putera Meurah Tanjong Krueng Jamboo Aye, saudara Sultan Peureulak Makhdum Johan Berdaulat Syahir Nuwi).

Adi Genali mempunyai 3 orang putera, yaitu: Sibayak Lingga, mengungsi ke daerah Karo dan menetap di lembah/kaki Gunung Sibayak, beliau gagal mengislamkan orang Karo. Meurah Johan, mengikuti rombongan Syeikh Abdullah Kari’an (Syiah Hudan) dari Peureulak ke Indra Purba untuk melaksanakan dakwah Islamiah. Meurah Lingga II, tinggal di negeri Linge, menjadi Raja Linge dan memerintah secara turun-temurun, hingga kemudian terbentuk Kerajaan Aceh Darussalam.

Kerajaan Daya

Kerajaan Daya didirikan para pengungsi dari Kerajaan Indra Jaya, sebuah Kerajaan yang berpusat di Bandar Panton Bie (Seudu). Alasan mereka mengungsi ialah untuk menghindari serangan tentara angkatan laut Negeri China yang menyerang negeri mereka. Raja Indra Jaya turut mengungsi ke suatu tanah datar yang subur di sebelah Gunung Geurutee. Melihat lokasi tersebut, Raja Indra Jaya beserta rombongan menetap di daerah tersebut sehingga dinamai Indra Jaya.

Kemudian serombongan mubaligh pimpinan Meurah Pupok (Teungku Sagop) datang ke Kerajaan Indra Jaya. Mereka berhasil mengembangkan Islam dan rajanya pun ikut menganut agama Islam. Akhirnya, Meurah Pupok diangkat menjadi raja dan kerajaannya bernama Kerajaan Daya.

Diantara raja yang terkenal namanya dari keturunan Meurah Pupok adalah Meureuhom Onga (Almarhum Onga). Setelah Onga mangkat, Kerajaan Daya mengalami kemunduran dan kekacauan. Akhirnya datanglah Raja Inayat Syah dan puteranya Riayat Syah dari Kerajaan Aceh Darussalam. Putera mahkota Riayat Syah diangkat menjadi Raja Kerajaan Daya dengan gelar Sultan Salathin Riayat Syah, sedangkan ayahnya, Sultan Inayat Syah tetap memerintah Kerajaan Aceh Darussalam, 885-895 H (1480-1490 M).

Ketika Kerajaan Aceh Darussalam diperintah oleh Syamsu Syah, 902-916 H (1497-1511 M) terjadi sengketa dengan Kerajaan Daya, bahwa Kerajaan Daya telah terpengaruh oleh hasutan Portugis. Akhirnya mereka kembali berdamai setelah Sultan Syamsu Syah (Raja Muda Ali Mughayat Syah) mengawini Puteri Raja Daya (Puteri Hur). Pada 7 Rajab 913 H (12 November 1508), Sultan Salathin Riayat Syah mangkat. Kerajaan ini, kemudian terkenal dengan Meureuhom Daya.

Kerajaan Indra Purwa

Kerajaan Indra Purwa diduga sudah ada 2.000 tahun sebelum Masehi. Dalam perjalanan sejarahnya, Kerajaan Indra Purwa pernah diserang oleh Sriwijaya, Cola, China, Portugis, dan lain-lain. Di antara 450-460 H (1059-1069 M), prajurit China yang sudah menduduki Kerajaan Indra Jaya menyerang Kerajaan Indra Purwa yang pada waktu itu diperintah oleh Maharaja Indra Sakti.

Ketika berkecamuk perang antara pasukan China dan pasukan Indra Purwa datanglah pasukan Kerajaan Islam Peureulak sebanyak 300 orang, dipimpin seorang ulama (Syeikh Abdullah Kan’an) yang bergelar Syiah Hudan (keturunan Arab Kan’an). Mereka datang dari Dayah Cot Kala, Bayeuen, yang merupakan Pusat Kegiatan Ilmu Militer.

Diantara mereka, ikut pula Johan Putra (anak Adi Genali atau Teungku Kawee Teupat yang menjadi Raja di Negeri Lingga). Rombongan tersebut mendapat izin menetap di Kerajaan Indra Purwa. Mereka membuka kebun lada/merica di sekitar daerah Mamprai.

Kerajaan Lamuri

Lamuri merupakan nama sebuah kota atau bandar bagi Kerajaan Aceh Indra Purba yang raja-rajanya dari Dinasti Maharaja (Meurah) Syahir Dauliy. Orang luar (pendatang) menyebutkan dengan Lam Oerit atau Lamuri, terletak dekat Kampung Lam Krak, Kecamatan Suka Makmur sekarang (Teuku Iskandar menyebutkan Lamreh, dekat Krueng Raya).

Menurut M. Junus Djamil (1972), keberadaan Kerajaan Lamuri dijelaskan dalam Hikayat Raja Masah, Hikayat Syiah Hudan (Teungku Lam Peuneu’euen), riwayat asal usul sukee lhee reutoh, riwayat Putroe Neng (Raja Seudue), serta hasil penelitian Ceng Oi dari Cina pada 1919.

Pada 414 H (1024 M) Lamuri diserang oleh Raja Rajendra Cola Dewa dari India. Menghadapi serangan itu, Lamuri membuat pertahanan di Mampreh. Penduduk negeri itu diungsikan ke Gle Weung. Serangan Raja Rajendra itu pun dapat dipatahkan. Riwayat perang tersebut disusun dalam Hikayat Prang Raja Kula, yang menyebutkan bahwa setelah perang terjadilah perpecahan karena ada sebagian wilayah yang dicaplok, seperti Indra Jaya/Kerajaan Seudu yang diserang oleh armada China pimpinan Liang Khie dengan Laksamana O Nga.

Beberapa generasi Liang Khie telah menguasai Negeri Seudu/Panton Bie (Cantoli), di antaranya yang terkenal adalah Putri Nian Nio Liang Khie (Putroe Neng). Pada masa Putroe Neng berkuasa, ia melakukan penyerangan ke Lamuri yang saat itu diperintah oleh Maharaja Indra Sakti. Pada masa itulah datang ke Lamuri rombongan Syeh Abdullah Kan’an yang dikenal sebagai Teungku Lampeu’neuen atau Syiah Hudan, yang membawa ajaran Islam ke daerah tersebut. Syeh berangkat bersama rombongan dari Bayeuen (Peureulak) yang merupakan murid dari Dayah Cot Kala.

Atas izin Maharaja Indra Sakti, rombongan mubaligh itu menetap di daerah Mampreh. Suatu ketika Syiah Hudan menawarkan bantuannya kepada Maharaja Indra Sakti untuk menghadapi serangan Putroe Neng. Tawaran itu diterima dan kelompok Syiah Hudan berperang dengan pasukan Liang Khie. Setelah perang itu dimenangkan oleh Syiah Hudan, Putroe Neng berdamai dengan pihak Syiah Hudan. Karena kemenangan itu, Maharaja Indra Sakti dan rakyatnya kemudian memeluk Islam.

Penulis Iskandar Norman

sumber :http://harian-aceh.com/2011/04/07/aceh-sebelum-darussalam

About these ads