PIRAMIDA PENINGGALAN JAMAN PRASEJARAH DI GUNUNG PADANG CIANJUR
by Ch Charlie

Cianjur, JM–Daerah Kecamatan Campaka, Cianjur disinyalir ditemukan sebuah bangunan Piramida peninggalan jaman prasejarah. Piramid yang berukuran empat kali lebih besar dari ukuran biasa, puncaknya saja, diperkirakan menjadi piramida yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.“Tentu ini adalah temuan sejarah masa lalu, piramid yang pernah ada dikira-kira seperti itu. Persis seperti di meksiko dan mesir. Disini juga ada,” ujar Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat meninjau pameran Kebudayaan Sunda yang digelar di halaman kantor Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan, Jl. Ir. H. Juanda No. 6 Bogor, Senin (25/10/2010).Namun benda purbakala ini nasibnya masih mengenaskan. Jauh dari keamanan apalagi perawatan. Untuk itu, tahun 2011, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bertekat akan menyelamatkan situs tersebut. Pemerintah Provinsi akan mengalokasikan dana sekitar Rp 1-2 Miliar untuk merawat temuan tersebut. “Paling tidak akan kita lakukan untuk menjaga jangan sampai dirusak dan disentuh dengan pagar yang memadai. Sehingga orang-orang kalau ke sana tidak lagi merambah situsnya. Cukup melihat dari luar,” tambah Gubernur.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudyaan Provinsi Jawa Barat Herdiwan menambahkan, Piramida yang ditemukan di Gunung Padang ini merupakan warisan dari jaman prasejarah. “Puncaknya yang sudah ditemukan oleh arkeologi pusat luasnya terbesar di Asia Tenggara. Sekarang ditemukan pathok-pathok seperti piramid, itu paling luas di dunia,” tambah Herdiwan.

Sejauh ini usaha pengamanan yang dilakukan masih sebatas memasang kawat pengaman di areal puncak piramida. Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat Pon S. Purajatnika menambahkan sampai saat ini proses eskavasi belum bisa dilakukan, baik di areal puncak yang meliputi empat hektar dan areal keseluruhan yang diperkirakan seluas 50 hektar.Bila hal ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan benda-benda situs yang berserakan di areal tersebut bida dijadikan batu kali oleh penduduk sekitar Desa Karya Mukti tersebut.Berdasarkan berbagai sumber, Situs Gunung Padang merupakan situs megalitik berbentuk punden berundak yang terbesar di Asia Tenggara. Ini mengingat luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m2 dengan luas areal situs sendiri kurang lebih sekitar 3 hektar.

Keberadaan situs ini pertama kali muncul dalam laporan Rapporten van de oudheid-kundigen Dienst (ROD), tahun 1914, selanjutnya dilaporkan NJ Krom tahun 1949. pada tahun 1979 aparat terkait dalam hal pembinaan dan penelitian bend cagar budaya yaitu penilik kebudayaan setempat disusul oleh ditlinbinjarah dan Pulit Arkenas melakukan peninjauan ke lokasi situs. Sejak saat itu upaya penelitian terhadap situs Gunung Padang mulai dilakukan baik dari sudut arkeologis, historis, geologis dan lainnya.Bentuk bangunan punden berundaknya mencerminkan tradisi megalitik (mega berarti besar dan lithos artinya batu) seperti banyak dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat. Situs Gunung Padang yang terletak 50 kilometer dari Cianjur konon merupakan situs megalitik paling besar di Asia Tenggara. Di kalangan masyarakat setempat, situs tersebut dipercaya sebagai bukti upaya Prabu Siliwangi membangun istana dalam semalam.Dibantu oleh pasukannya, ia berusaha mengumpulkan balok-balok batu yang hanya terdapat di daerah itu. Namun, malam rupanya lebih cepat berlalu.

Di ufuk timur semburan fajar telah menggagalkan usaha kerasnya, maka derah itu kemudian ia tinggalkan. Batu-batunya ia biarkan berserakan di atas bukit yang kini dinamakan Gunung Padang. Padang artinya terang.Punden berundak Gunung Padang, dibangun dengan batuan vulkanik masif yang berbentuk persegi panjang. Bangunannya terdiri dari lima teras dengan ukuran berbeda-beda. Batu-batu itu sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia dalam arti, belum dikerjakan atau dibentuk oleh tangan manusia. Balok-balok batu yang jumlahya sangat banyak itu tersebar hampir menutupi bagian puncak Gunung Padang.Penduduk setempat menjuluki beberapa batu yang terletak di teras-teras itu dengan nama-nama berbau Islam. Misalnya ada yang disebut meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog atau tempat duduk Eyang Swasana, sandaran batu Syeh Suhaedin alias Syeh Abdul Rusman, tangga Eyang Syeh Marzuki, dan batu Syeh Abdul Fuko.

About these ads